0

Peksimida Oh Peksimida!

Hola, readers!!

Apa kabar? Semoga baik-baik saja… Maafkan blog inactive ini :’) Posting terakhirnya aja bulan Mei :’)

Bukan karena apa-apa, hanya saja saya sedang disibukkan dengan persiapan itu tuh yang jadi judulnya yaitu Peksimida. Peksimida alias Pekan Seni Mahasiswa Daerah itu tuh semacam FLS2N tapi di tingkat mahasiswa. Jadi semacam pekan seni berisikan lomba kesenian (tari, lukis, nyanyi pop, nyanyi dangdut, monolog, baca puisi, dllsb) antar mahasiswa antar universitas di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kebetulan aku dipilih menjadi salah satu dari 7 orang yang menjadi tim tari UGM di ajang tersebut. Sumpah ya… Latihannya tuh bener-bener intens. Belum lagi aku punya kesibukan lainnya… Jadinya bener-bener gak sempet ngeblog sama sekali. Sampai akhirnya, tanggal 4 Agustus 2016 adalah puncak dari segalanya…

Baca lebih lanjut

Iklan
0

D-5: Menyapa Yogya

Sesungguhnya ini bukan cerita hari ini…

Sabtu siang aku dilanda kebimbangan. Pesan singkat dari dirmawa dan sebaris chat dari kakakku lah penyebabnya. Satu pesan membawa kabar gembira yaitu aku mendapat kesempatan melihat Mata Najwa. Pesan lainnya memintaku menemani kakakku yang notabene lama tak bersua untuk menemaninya pergi ke suatu tempat.

Lama bergulat dengan pemikiranku, kuputuskan menghadiri undangan dirmawa, melihat idolaku, anchor kenamaan Indonesia-Najwa Shihab dengan segala resikonya. Resiko aku kehilangan kesempatan curhat super-lama dengan kakakku. Resiko aku berangkat sendirian. Resiko aku jadi ‘anak hilang’ saat menghadiri Mata Najwa yang diselenggarakan di Benteng Vredeburg lantaran tak ada satupun temanku yang mendapatkan tiketnya.

Sendirian aku berangkat. Akhirnya kuputuskan parkir di selatan Pasar Beringharjo. Baru saja kuparkirkan motorku, Tuhan rupanya berbaik hati padaku. Aku bertemu dua kakak kelasku semasa SMA, mas Ardhano dan mas Adhi yang kini kuliah di Sosiologi dan Vokasi. Akhirnya mereka berbaik hati membawaku ikut serta dalam rombongan mereka.

Usai menukarkan tiket, kami bertiga menanti waktu open gate. Kami memutuskan duduk-duduk cantik di akar pohon besar di sela hamparan rerumputan dekat Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Aku mendapati senja yang menyenangkan disini. Berbincang ringan dengan dua teman lama, menghirup aroma senja, melihat hamparan rerumputan kehijauan, menyaksikan beberapa keluarga kecil bersantai menikmati waktu bersama, menyapa sore di Yogya dengan cara sederhana namun berbeda. Ah. Inilah konsep yang kubayangkan tentang sebuah taman kota! Yang sayangnya tak dimiliki Yogyakarta… Dan sayangnya lagi, pelataran Monumen SO ini pun tak selalu terbuka…

Gerbang akhirnya dibuka. Alhamdulillah. Rejeki anak sholeh sholeha, disana dapet angkringan gratis. Makan sampai kenyang. Akhirnya duduk lah kami bertiga di kiri panggung. Sampai akhirnya acara dibuka oleh Cak Lontong dengan survei-survei kampretnya. Dilanjutkan penampilan dari para juara olah vokal FLS2N, penampilan Tari Golek Ayun-Ayun, hingga akhirnya acara dibuka.

Oh… Rupanya…
Mata Najwa on Stage kali ini berkenaan dengan Hardiknas dan OSN yang kali ini perhelatannya diselenggarakan di (yang katanya) kota Pelajar, Yogyakarta. Mbak Najwa Shihab tampil cantik dengan atasan hitam dan rok merah dengan rambut dikuncir. Ia menyambut ketiga narasumber malam itu mendikbud, menkominfo, dan menakertrans. Mata Najwa malam itu diawali dengan gerakan Indonesia Menyala.

image

This is my ticket!

Setelah itu, terdapat segmen berbeda yang mengundang anak SMAN 3 Yogyakarta yang melaporkan kebocoran soal UN Matematika. Kemudian dilanjutkan segmen berikutnya dengan seorang juara OSN Astronomi dan OSN Matematika yang sukses membuatku merasa semacam ceceran risol mayo yang tinggal dilap. Sang juara OSN Matematika pun berhasil membuatku gagal move on dari pengalaman pahit jaman SMA. Dimana aku lolos seleksi OSN Matematika Kota Yogyakarta dan berhasil maju sampai tingkat provinsi, namun mengalami epic fail yang luar biasa karena soal-soalnya yang naudzubillah susahnya.

Alhamdulillah, setelah terkena mental block datanglah hiburan. Lumayan bisa sing along lagunya Kla Project yang berjudul Yogyakarta sama penyanyi aslinya, Pak Katon Bagaskara yang sudah nampak tua namun masih tamvan luar biasa. Overall Mata Najwa kali ini nggak se-fail yang waktu di GSP kerjasama dengan KPK. Lumayan pecah lah…

image

Lumayan lah~

Usai menikmati Mata Najwa, mas Ardhano mengajak kami menikmati malam minggu di titik teramai kota sendiri. Ya. Jujur saja, aku belum pernah menyapa Yogya dari titik 0 km. Apalagi di kala Sabtu malam. Kami menerobos lautan manusia beraneka rupa. Melihat apa saja yang terjaja. Berfoto dengan ‘hantu-hantu’ ala Indonesia, ular-ular beraneka jenis, burung hantu ukuran besar dan kecil, serta manusia-manusia berkostum upin ipin, marsha and the bear, doraemon, dan sebagainya. Kotaku aneh-aneh saja.

Batal mendapat tempat fancy untuk nongki, kami memutuskan untuk membelah lautan manusia lagi dan kembali. Kembali ke tempat dimana aku memarkirkan motorku, dan mereka memarkirkan motor mereka. Usai bertemu mas Revo (nama motorku,-red), aku membelah jalanan lagi untuk pulang ke rumah. Melewati lautan kendaraan yang memenuhi ruas jalan. Setidaknya dengan senyuman…

Aku akhirnya berhasil menyapa Yogya dengan cara yang berbeda 🙂

*ps bonus selfie, maaf gelap soalnya di samping panggung dan udah malem. Abaikan mas-mas sebelah saya yang ikutan kefoto

image

Trio-Gasengaja-Ketemu (Wita, Mas Adhi, Mas Dhano)

4

Aku Mung Kangen Nulis Kok~

Halo~~
Ada yg kangen aku ga? Aku kangen nih… Kangen nulis…

Ini sebenernya adalah momen yang tepat buat nulis karena ada banyaak banget hal yg berkecamuk di pikiranku. Momen yang tepat karena ada banyak hal yang bisa dikomentari dan dinyinyiri serta dianalisis. Tapi kemageranku membuatku lelah dan tak tahu arah #halah Jadi maaf aku mau nulis tapi kayake kontennya embuh :v

Baca lebih lanjut

0

Sejarah Tari Klasik Gaya Yogyakarta: Periode Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai IX

Selamat Pagi!

 

Setelah posting baper kemarin, saya kembali dengan posting yang insyaAllah bermanfaat bagi umat.

Semua berawal dari take home exam UTS mata kuliah Sejarah Sosial Politik Indonesia di jurusan saya, Komunikasi UGM. Dosen pengampu mata kuliah tersebut, Cak Budhy Komarul Zaman, meminta mahasiswa semester 1 macam saya ini untuk menuliskan sejarah apa saja terserah yang penting berkaitan dengan Indonesia dengan periodesasi mulai dari masa prasejarah hingga era Orde Baru. Kalau saya tidak salah dengar juga, beliau berpesan agar sejarah yang kami tulis merupakan hal-hal yang dekat dengan kami. Kemudian, terpikirlah saya untuk menulis sejarah tari klasik gaya Yogyakarta mulai dari masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai dengan masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Mengapa saya menulis hal tersebut?

Pertama, tari, khususnya tari klasik gaya Yogyakarta merupakan sebagian dari kehidupan saya. Sejak kecil saya sudah mempelajarinya, dan bisa dibilang keluarga saya hidup dari ini.

Kedua, setelah saya mencari kesana kemari di internet, belum ada orang yang mem-publish sejarah tari klasik gaya Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai IX dengan runtut. Sementara, banyak orang yang saya yakin membutuhkan informasi ini.

Dari kedua alasan tersebut, maka saya memutuskan menuliskan sejarah ini disertai sumber-sumber sahih, salah satunya adalah buku Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang diterbitkan Dewan Kesenian Provinsi DIY yang berisi banyak pidato maupun tulisan pakar-pakar tari klasik gaya Yogyakarta seperti GBPH Suryobrongto, RM Wisnoe Wardhana, dan sebagainya.

Jadi, selamat menikmati sejarah Joged Mataram dengan membacanya dari paper berikut. Terima kasih 🙂

Sejarah Tari Klasik Gaya Yogyakarta Periode Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Viva la historia! 🙂

Salam budaya! 🙂

0

Latepost: Kedinginan dan Kepanasan di Kaliurang~

Yohooo! Erwita is back! 😀

Setelah luamaaaaaa banget hiatus, alhamdulillah saya kembali dengan membawa cerita perjalanan alias dolan yang kemungkinan bakal bikin iri. Hahaha *evil laugh* Alhamdulillah sudah kelar PPSMB (biasa disebut ospek) yang tugasnya naujubileh banyaknya dan disela-sela berbagai jadwal yang menghimpit *sok sibuk amat ya :p* saya masih pengen bikin para readers iri.

20140802_090249

Heyho! Kita 4km dr puncak Merapi :3

Jadi, ceritanya sebulanan yang lalu tepatnya tanggal 1 – 2 Agustus 2014 saya dan keluarga besar saya yang pada jenuh dengan udara kota Yogyakarta yang mulai sumpek sama kendaraan plat non-AB memutuskan untuk jadi anak gunung. Kebetulan acara kali ini bertepatan dengan Idul Fitri sekaligus ulang tahun dua sepupu saya, Mbak Sari dan Mas Bagus (yang sebenernya sih ulang tahunnya masih lama tanggal 9 sama 12 Agustus)

Baca lebih lanjut

0

Sejarah Nama Erwita Danu Gondohutami

“Erwita Danu Gondohutami”

Nama itu adalah nama yang sudah melekat pada diriku selama 18 tahun ini. Sejujurnya, aku kadang protes dengan nama itu terutama “Danu” dan “Gondo” yang sempat kuanggap nggak banget. Beberapa guru pun ada yang dengan menyebalkannya mengira aku ini laki-laki melihat kata “Danu” dan “Gondo” yang menempel di antara “Erwita” dan “Hutami” yang manis. Bahkan, hingga kini ada satu guru mata pelajaran TI dan satu guru Biologi di SMAN 7 Yogyakarta yang dengan bangga memanggil saya “Gondo”. Setiap kali perkenalan, aku selalu menyebutkan dengan lantang nama Erwita lalu melirihkan dan menambah speed berbicara ketika menyebut nama Danu dan kembali normal saat menyebut Gondohutami. Alasannya simpel, malu dengan nama yang terkesan jadul banget.

Sejarah dimulai ketika aku lahir hari Senin, 9 Juni 1996. Aku lahir jauh di seberang pulau Jawa, di suatu kota yang asing di telinga masyarakat Yogyakarta namun sangat terkenal di Kalimantan sana, Balikpapan. Dulu, waktu aku SD, SMP, bahkan sampai SMA masih ada orang yang bertanya “Balikpapan itu dimana sih, Wit?” Batinku… “Hello~ Kamu gak tahu kota Balikpapan? Kota dengan kilang minyak yang super besar dan banyak di Kalimantan Timur? Kemana aja kamu? Jangan-jangan kamu nggak kenal Pertamina juga…” Begitu kira-kira gerutuanku dalam hati.

Balikpapan, Kalimantan Timur termasuk dalam zona waktu Indonesia bagian tengah (WITA) alias GMT +8. Jadi, tahu kan asal nama Wita? Selain itu, nama “Wita” dalam bahasa Jawa berarti kekayaan, dan dalam bahasa Sansekerta berarti berharga. Jadi Wita adalah kekayaan yang berharga. Hahay 😀

Untuk nama Erwita sendiri, itu merupakan gabungan dari kata Er dan Wita. Er atau her adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti air. Sementara, kata Ibuku, Wita yang dipakai adalah Wita karena Waktu Indonesia bagian Tengah. Jadi, Ibuku ingin aku menjadi seperti air di daerah Waktu Indonesia Bagian Tengah (Balikpapan, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi) yang notabene memiliki kesulitan dengan air. Di sana, air harganya sangat mahal, sehingga air sangat berharga. So, arti nama Erwita dengan Wita klop kan? Berharga.

Next adalah Danu. Sejarahnya, nama Danu ini adalah nama eyang buyutku. Aku tak pernah mengetahui apa artinya sampai hari ini aku browsing dan sialnya nama ini memang benar-benar nama laki-laki ._. Namun, alhamdulillah nama Danu yang berasal dari bahasa Jawa berarti cahaya.

Untuk nama Gondo, ini juga nama eyang buyutku. Dan orang yang bertanggung jawab menyematkan nama Danu dan Gondo ini adalah Bapakku. Kalau kata orang-orang Jawa dan orang tua, nama Gondo berasal pula dari bahasa Jawa yang artinya adalah ambu alias aroma. Mungkin, maksud orang tuaku adalah biar kelak aku jadi seperti Ibu Kartini yang harum namanya #halah :p Doa mereka mungkin agar aku kelak tak hanya meninggalkan nama, namun juga bekas yang harum dan mewangi #tsaah

Sedang untuk nama Hutami, ini diambilkan dari nama eyang kakungku dari Ibu, Raden Radjijo Wignjohoetomo. Nah, berhubung Ibuku masih sadar sepenuhnya bahwa aku ini anak perempuan jadilah ‘hoetomo’ dalam nama eyangku dibuat nama perempuan menjadi ‘hutami’. Arti namanya? Jelas sekali bahwa hutami berarti yang utama atau yang terpenting.

Jadi…

Apa sih arti namaku?

Erwita Danu Gondohutami…

Air yang berharga dan menjadi pelita serta menebar aroma kebaikan di bumi.

Keren kan?

Semoga, aku bisa menjadi seperti yang diharapkan…

Seperti air yang berharga, memiliki banyak kekayaan, menjadi cahaya, mampu menjadi orang yang harum namanya, dan melakukan berbagai keutamaan / kebaikan di dunia ini.

Aamiin 🙂

 

P.S.

Sekarang, aku bangga dengan namaku sendiri 😀 Anyway, banyak yang bilang namaku Njawani banget. Yes. That’s right. Karena meski numpang lahir di Balikpapan, saya orang Jawa tulen brooo 😀

0

Repost: Clothing, Eating, and Culture Centre in One

Di era global ini, dapat kita rasakan bahwa kehidupan semakin sulit. Kita menghadapi krisis multidimensi. Bangsa Indonesia mengalami krisis jati diri, dibuktikan dengan merosotnya moral remaja dan semakin tak terurusnya warisan leluhur kita yang berwujud intangible heritage seperti kebudayaan dan tradisi leluhur. Indonesia juga mengalami krisis ekonomi yang terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah pengangguran di negeri ini.

Entrepreneurship adalah dunia yang mulai diminati sebagai salah satu solusi mengingat terbatasnya lapangan pekerjaan. Namun, ragam usaha yang kita lihat selama ini terasa monoton dan mainstream. Kita perlu mencari alternatif baru dalam bidang usaha dengan sasaran berbagai tingkatan usia, khususnya kawula muda. Alternatif usaha yang unik, menarik, dan memiliki banyak sisi keuntungan yang dapat menjadi alternatif solusi dua krisis terbesar tadi.

Satu yang bisa kita lirik adalah clothing. Menilik Daniel Manananta yang sukses mengeluarkan label “Damn! I Love Indonesia”, tak ada salahnya apabila mencoba membuat sebuah usaha clothing yang mengusung tema budaya Jawa, karena kita hidup di Yogyakarta. Kita bisa membuka butik, distro atau factory outlet yang khusus menjual aneka sandang dan aksesoris bernuansa Jawa. Tidak harus selalu muncul dengan batik atau lurik, bisa juga dengan t-shirt bergambar pewayangan, tempat wisata, bangunan bersejarah, dan sebagainya yang distilirisasi menjadi bentuk yang lebih indah.

Selanjutnya, mari gabungkan dunia clothing dengan café. Setelah konsumen lelah berbelanja, mereka bisa bersantai sembari menikmati sajian di café tersebut. Menunya bisa kita pilihkan menu – menu yang disukai remaja dan disisipkan menu makanan dan minuman khas Jawa. Interior ruangan harus didesain sedemikian rupa agar bernuansa Jawa, namun tetap ‘berjiwa muda’ dan cozy.

Sebagai sentuhan akhir, karena Yogyakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa, maka berikan ruang pada seni budaya Jawa. Kita bisa menambahkan sanggar tari dan karawitan Jawa sebagai pemanis. Kegiatan latihan, dan pentas di sanggar ini bisa dijadikan hiburan bagi konsumen. Jadi, kita bisa membuat konsep sebuah tempat clothing, eating, sekaligus pusat kebudayaan.

Mengapa memilih seni tari dan karawitan? Karena, seni tari merupakan penggabungan musik dan gerak. Sehingga, dinilai akan lebih menarik minat remaja. Seni tari yang diajarkan dan ditampilkan tidak harus selalu seni tari klasik Gaya Yogyakarta yang berdurasi lama dan dinilai membosankan karena gerakannya yang pelan dan mengalir. Namun, dapat juga tari kreasi baru yang musiknya lebih menarik, berdurasi singkat, dan dinilai tidak membosankan. Sehingga, konsumen yang datang untuk bersantai di café atau berbelanja akan tertarik menikmati tarian tersebut.

Selain itu, kebudayaan Jawa khususnya seni tari Yogyakarta dinilai sangat penting dipelajari oleh remaja. Hal ini dikarenakan keterampilan menari Jawa seringkali menjadi poin tambahan bagi pelajar atau mahasiswa yang ingin mengikuti program exchange. Bahkan, untuk menjadi Paskibraka tingkat Nasional, dan beberapa beasiswa di perguruan tinggi salah satu persyaratannya harus menguasai tarian daerah, yang jika berdomisili di Yogyakarta, maka harus menguasai seni tari Gaya Yogyakarta.

Dengan konsep “clothing, eating, and culture centre in one” ini, sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui. Krisis ekonomi akan teratasi karena terbukanya lapangan pekerjaan baru yang terbilang unik, sehingga kemungkinan besar akan laris di pasaran. Selain itu, konsep ini akan menimbulkan minat remaja akan pelestarian seni budaya dan tradisi di Yogyakarta, sehingga dapat menolong bangsa Indonesia dari krisis jati diri.

 

P.S.

Aku kasih judul repost karena sebelumnya pernah di posting di sebuah blog buat lomba gitu lah meskipun gak menang 🙂 Ceritanya sih ini short essay gitu. Maklumin kalo cetek, namanya juga gak menang :p haha. Anyway, I love learning. Jadi, kalau ada kritik saran dan masukan mengenai penulisan silakan 🙂