0

Fisipol Art Days 2015: Good Place to Measure Your ‘Level of Kekinian’

Wohow! Selamat datang di Tahun 2016! Di bulan Maret ini, akhirnya berhasil menyapa lagi readers yang mungkin udah lumutan :”) Maafkan aku :’) But, I’m not going to waste your time, buddies! Akhirnya setelah sekian lama cuma kepikiran dan kepengen, sekarang kesampaian juga buat ngebahas salah satu pameran seni kontemporer yang diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswa FISIPOL UGM untuk yang pertama kalinya. And you have to know guys, I’m super excited!

Fisipol Art Days 2015 digelar di selasar gedung BC, Kampus 1 (Bulaksumur) Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Acara ini digelar beberapa hari, bertepatan dengan kegiatan Kampung Sospol dalam rangka Dies Natalis FISIPOL UGM yang ke 60. Fisipol Art Days 2015 ini mengambil tema “Kekinian” dan memiliki serangkaian acara selain pameran seni kontemporer berupa foto, lukisan, audio, audio visual, dan beberapa instalasi. Diantaranya adalah acara malam Sastra, dan beberapa acara lain seperti penampilan teater dan musisi-musisi indie atau lokal yang entahlah aku tak terlalu tahu karena aku gak begitu concern ke musik lokal. Hehe. Maafken.

Hal pertama yang aku temukan waktu dateng ke Fisipol Art Days 2015 sendirian (iya sendirian, sendirian di kampus sendiri, sudah biasa~~) itu adalah sesuai banget sama tema. Yap. Ngeliat beberapa karya yang terpajang disini sangat mempertontonkan hal yang ‘kekinian’. Bahkan beberapa karya bisa jadi “tolok ukur” seberapa kekinian kah kamu? #eaa. Dalam tulisan kali ini aku bakalan bahas beberapa karya yang cukup menarik versiku sehingga membuatku ingin mengomentarinya #eaa (lagi).

Baca lebih lanjut

Iklan
0

D-13: Family Passion

Having a big family with highly cultural bounded is a great things

Bosan ya dengan ceritaku? Aku dan keluargaku yang serba-penari…
Tapi ga cuma itu sih. Keluargaku juga sangat sangat memegang teguh kebudayaan, bisa dibilang penggiat budaya lah…

Dosen Institut Seni Indonesia, guru tari di SMKI, guru tari di SMA, dan sebagainya. Bayangin ga sih kayak gimana diskusi-diskusi yang ada di keluargaku?

Yep. Ngomongin budaya, budaya, dan budaya. Seni, seni, dan seni. But I think that’s our passion, art and culture. Semuanya sibuk berlomba mengeluarkan insight tentang seni dan budaya. And it’s so fun!

Bahkan, ketika kita gabut pun kita berkesenian. Kalo ga nari ya main gamelan. Contohnya tadi… Kan aku adekku sama mbakku gabut, terus iseng aja main gamelan yang ada di rumah… Ujung-ujungnya masku, ibuku dan budheku ikutan gabung. Lumayan lah tadi main saron, mainin gendhing Agun-Agun dan Udan Mas. Meski bukan pro, at least bahagia lah ya bisa main saron demung sama bonang dikit-dikit :v Asique kan? :3

Family passion. Bagiku hal tersebut adalah satu hal yang gabisa dipungkiri. Meski aku mencoba sekuat tenaga buat sok sokan jadi anak IPA dengan jalan dulu bercita-cita jadi anak Teknik Nuklir, jatuhnya tetep aja jadi anak Komunikasi. Jatuhnya tetep aja jadi anak IPS, anak sosial-humaniora, tetep aja passion di seni budaya.

So, if you’re confused with your passion, try to look around your family. Who knows one of your family passion became your passion 😉

2

The Da Vinci Code: Kode Misterius Da Vinci yang (Akan) Mengubah Sejarah!

Ini nih Bukunya The Da Vinci Code

Penulis: Dan Brown

Penerbit: Diterjemahkan oleh PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006

Halaman: 664 hal

            The Da Vinci Code. Kayaknya telat banget kalo aku ngasih resensi buku ini, mengingat ini buku yang udah ada sejak lumayan lama, dan ini buku termasuk best seller… Tapi, buat kalian yang nggak ngerti tentang buku ini… Tolong sempatkan waktumu buat baca ini! Karena sumpah ini keren banget! Jangan ngaku pecinta teori konspirasi kalo kalian belum baca ini buku! But, before we read this book, it’s better for read my resume… Check this out!

Baca lebih lanjut