0

#20 Eh! Udah Hari Ke-20?

Waw!

Nggak kerasa udah 20 Hari Luvia di Bumi! Yeyeyey! Bentar lagi tugas sakti ini akan berakhir. Yey!

Antara seneng, karena bentar lagi bakal balik ke Jonggring Saloka. Tapi sedih juga, masih banyak yang harus kueksplorasi di bumi. Ah. Enaknya gimana ya?

Aku mulai menikmati menjadi penduduk bumi juga. Lihat deh gaya bahasaku mulai berubah kan ya? Dewi Supraba pasti menyadarinya. Hehe.

Selama dua puluh hari ini, banyak hal yang kualami terkait kehidupan manusia disini. Segala bahagia hingga nestapa. Mulai dari menari, sampai nugas dini hari. Ah pokoknya gadis yang kuikuti ini punya segudang kegiatan yang menyenangkan.

Jadi, tinggal 11 hari lagi aku akan berada disini.

Hmm…

Tunggu ceritaku lainnya lagi ya?

Aku mau melihat gadis-gadis yang menari.

0

#19 Lunch di Hotel Bintang 4 Bayar 50k Aja?

Siapa bilang makan di hotel itu mahal?

Hari ini, gadis yang kuikuti ceritanya ditraktir teman satu gengnya makan siang di hotel bintang 4. Nama hotelnya adalah Platinum Hotel Adisucipto Yogyakarta. Seperti namanya, lokasinya emang dekeeeeeeet banget sama Bandara Adisucipto. Dari kampus, mereka bertiga memesan Go-Car sebuah ‘taksi online’ yang mengantarkan mereka membelah macetnya Jalan Solo hanya dengan membayar 24k saja dengan Go-Pay. Yeay!

Lanjut, begitu sampai di lokasi mereka langsung disambut front officer yang ramah. Langsung saja mereka ke Palladium Restaurant untuk lunch syantiq disana, hanya dengan membayar 50k nett/pax. Karena…

Hari ini adalah Rabu. Rabu ini di Platinum Hotel memang ada Rebo Rolasan dimana setiap jam 12.00-14.00 cukup dengan 50ribu saja udah all you can eat. Menu hari ini pun cukup menyenangkan. Yang paling enak sih ikan fillet asam manisnya sama mie Singapore-nya. Beuhhh top markotop!!!

Terus… Terus…

Puding cokelatnya oke banget. Salad buahnya mantap anjay. Terus mini pastry-nya enak. Red velvetnya itu lho…. two thumbs up! Sukak.

Intinya hari ini sesosok Luvia yang ‘numpang makan’ bersama gadis yang kuikuti ini menemukan kebahagiaan makan 50ribu saja di hotel bintang 4.

Mau?

Dateng aja setiap Rabu πŸ™‚

0

#18 Selamat Ulang Tahun, Ki Hadjar Dewantara!

Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani.

Ya setidaknya begitulah yang kudengar mengenai pemikiran tokoh Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan. Hingga akhirnya pemikiran tersebut mengantarkan hari ulang tahunnya sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Yap!

Hari ini. 2 Mei. Hari dimana dedek-dedek SMP berjibaku dengan soal ujian nasional. Hari dimana dedek-dedek SMA merayakan kelulusan mereka. Sementara, kakak-kakak mahasiswa sibuk demonstrasi menuntut Transparansi UKT. Gitu sih kata gadis yang kuikuti selama delapan belas hari ini.

Sebagai seorang stalker, aku ingin membuat laporan tentang gadis yang selama ini kuikuti saja lah dari sisi akademis!

Sejak SD hingga SMA katanya Ia tak pernah luput dari juara kelas. Bahkan juara pararel di sekolahnya. Tak jarang mendapat peringkat pertama. Paling jeleknya 10 besar lah ya. Hanya saja waktu SMP, nilai hasil ujian nasionalnya sedikit menyedihkan dimana gadis itu harus terjun bebas di 50 besar dalam satu sekolahan. Iya. Satu sekolahan.

Dari SD, gadis ini adalah gadis yang rajin belajar dan mengerjakan tugas. Rajin bertanya di kelas dan menjawab pertanyaan dari guru di kelas. Pantas saja kalo gadis yang kuikuti ini selalu menjadi anak emas, anak kesayangan guru-guru (dan kadang kepala sekolah) yang dalam bahasa kekiniannya selalu dikategorikan ke dalam “anak-anak ambis”.

Iya. Ambis. Ambisius.

Sampai sekarang sih.

Menurutku gadis ini masih ambisius. Hanya saja, dunia perkuliahan memang menjungkirbalikkan dunia gadis ini. Tidak ada lagi guru-guru yang mengistimewakan anak-anak emasnya. Tidak ada lagi guru-guru yang mengkhawatirkan dan mempedulikan anak-anak kesayangannya.

Jadilah gadis ini kaget.

Gitu sih katanya.

Tapi, kini gadis yang kuikuti sudah semester enam. Sudah tua, bosque. Sudah mulai memahami ritme perkuliahan, meskipun sampai sekarang masih benci sama aksi demonstrasi sampai-sampai gadis ini kadang merasa gagal menjadi mahasiswi FISIPOL. Katanya Ia anak Komunikasi yang nyasar di FISIPOL, harusnya sih FIB. Hehe.

Tapi (lagi), yasudah lah. Namanya juga dunia. Terus berjalan. Terus berputar. Masa SMA sudah lewat. Masa kuliah hampir juga kelar. Doakan saja gadis ini di semester depan bisa skripsi dengan lancar.

AmiinπŸ™

Kalo gitu…

Aku kasih bonus lagi deh!

Katanya gadis yang kuikuti lagi kangen masa SMA jadi foto pake seragam SMA nih! Selamat Hari Pendidikan Nasional & HBD WYATB Ki Hadjar Dewantara:)

0

#17 May Day?

May Day! May Day!

Begitulah orang-orang menyeru.

Lini masa media sosial gadis yang kuikuti penuh dengan berbagai gambar ucapan Selamat Hari Buruh; International Labour Day; May Day; dan teman-temannya.

Ah. Buruh dan majikan. Proletar dan borjuis. Karl Marx. Manusia dengan pemikiran yang begitu diikuti di dunia. Manusia yang dulu pernah kutemui semasa muda di tugas-tugasku terdahulu.

Tapi… Kali ini aku tidak akan membahas kisahku bertemu Karl Marx. Tidak. Aku ingin membuat kalian tetap menghidupkan Karl Marx sesuai bayangan kalian saja. Termasuk bayangan gadis yang kuikuti ini.

Aku hanya ingin mengomentari salah satu berita dimana tampak kobaran api disana dengan embel-embel kata “buruh” dan “unjuk rasa”. Kabarnya mereka membakar karangan bunga.

Aku hanya membingungkan satu hal.

Kenapa harus demostrasi sampai rusuh di hari buruh ketika bisa aksi damai saat May Day?

0

#16 Bakti Kampus?

“Kamu ngapain sih pagi-pagi bawa serok?”

“Mau bakti kampus, Luvia…”

“Hah? Apaan tuh?”

“Yaa bersih-bersih gitu. Nyabutin rumput di sporthill terus nyapu-nyapu. Ya gitulah,”

“Esensinya apaan?”

*gadis mengedikkan bahu tanda tak tahu*

“Lah terus kenapa kamu ikutan kalo nggak tahu esensinya?”

“Soalnya… Kalo aku nggak ikutan nanti aku nggak bisa ikut KKN. Hehe,”

Ealah. Formalitas.

0

#15 Selamat Hari Tari Sedunia

“Kamu nggak ke Solo?” tanyaku pagi ini pada gadis yang kuikuti.

“Eh, Luvia. Kamu nggak liat aku lagi siaran? Aku banyak tugas? Aku nggak punya duit?” gadis itu balik tanya.

Ah, sial! Lagi PMS nih orang! Yakin deh~

Tapi, memang hari ini sebenarnya jadi suatu hari yang menarik bagi orang-orang yang menggeluti dunia tari seperti gadis yang kuikuti ini. Pasalnya di Solo ada perhelatan 24 Jam Menari. Hmm.

Aku bisa melihat bahwa gadis ini sebenarnya sangat-sangat ingin untuk hadir. Cuma ya itu tadi. Siaran pagi. Kelompokan siang. Mengerjakan seabreg tugas di malam hari. Untungnya sore tadi Ia sempat menunaikan ibadah menarinya di sesi latihan. Dan ternyata itu sedikit memperbaiki suasanya hatinya yang kacau balau sejak pagi. Eh, sejak semalam ding!

Karena aku takut menanyai gadis itu lebih banyak, aku akan memilih diam hari ini. Gimana nggak takut? Kencan malam ini aja dibatalkan. Jalanan Yogyakarta yang supermacet di kala long weekend begini saja diumpat habis-habisan. Ya mending saya mlipir kan?

Duhelah. The power of PMS.

Untung aku dan penghuni Jonggring Saloka lainnya gak kenal PMS ya? Hehe.
*btw demi kebahagiaan hatinya gadis yang kuikuti, akan kusebarkan fotonya ahπŸ˜‚ selain itu…
HAPPY WORLD DANCE DAY! πŸ˜‰