0

Pacar? Pacaran? Hmm~

Yhak. Balik lagi di blog random seorang random explorer.

Sebenernya sedih ya tiap kali blogging selalu curhat. Tapi tak apa ya? Semoga para readers yang budiman cukup bersabar :’)

Sesuai dengan judul kali ini, aku bakal bahas tentang Pacar dan Pacaran. Tapi ini bukan semacam press conference atau press release bahwa aku punya pacar baru, atau barusan kandas dalam mencintai seseorang #tsah, atau apalah yang kamu duga-duga. Tapi, aku mau menyuguhkan perspektifku dalam term Pacar dan Pacaran ini.

Sebagai latar belakang dituliskannya posting ini adalah karena umurku ternyata sudah 20 tahun. Udah kepala dua, bos! Udah kepala dua gini, udah mulai banyak emak-emak dan budhe-budhe dan segala kolega ibuku yang menanyakan “Mbak Wita sudah punya pacar belum?” yang selalu dijawab ibuku dengan kalimat “Belum.. Lha wong anaknya aja nggak jelas gitu,” dan berujung pada “Sama anakku aja po? Aku punya anak cowok udah blablabla,” dan ku tutup dengan seulas senyum kecut.

Jadi… Gimana ya? :’D

Baca lebih lanjut

0

Loving or Being Loved?

I… of course… choose…

Loving πŸ™‚

Mungkin ini adalah sebuah pertanyaan simpel yang dirasa bodoh. Namun, karena ada yang mempertanyakannya di ask.fm yah sebaiknya aku jawab di blog saja biar bisa lebih enak cerita-ceritanya…

Jadi ini alasanku, kenapa aku lebih memilih mencintai daripada dicintai…

Siapa sih yang gak suka dicintai? Disayangi? Dicintai, disayangi, berarti kamu diperhatikan. Kata orang, seorang perempuan akan lebih bisa ‘bertahan’ bila Ia bersama dengan orang yang mencintainya. Kata orang, seorang perempuan akan merasa lebih bahagia ketika Ia dicintai.

Entah kenapa… Aturan tersebut tidak berlaku bagiku…

Pernahkah kalian merasa bersalah?
Merasa berdosa karena ada orang yang teramat peduli padamu, teramat sayang padamu, bahkan mungkin mencintaimu… Tapi kamu tak bisa membalasnya sama sekali? Bahkan hanya sekedar untuk melegakan hatinya?

Aku pernah merasakannya dan itu sangat menyesakkan…
Seolah-olah aku sudah menyia-nyiakan sesuatu yang sangat berharga…
Sesuatu yang berharga yang diberikan untukku, namun aku bahkan tak bisa sekedar meliriknya karena hatiku tak merasa pas dengannya…

Inilah kenapa aku sedikit tak nyaman dengan konsep ‘being loved’
Aku lebih memilih mencintai…
Dengan mencintai, aku memiliki kekuatan, kekuatan untuk berjuang melewati hidup, sekeras apapun.
Dengan mencintai Ibuku, aku memiliki semangat dan kekuatan untuk terus belajar dan belajar serta membanggakan beliau…
Dengan mencintai Tuhan, aku memiliki kekuatan untuk terus mempercayai-Nya dan segala jalan yang Ia pilihkan untukku…
Dengan mencintai, aku menemukan alasan untuk terus berjuang dan berjuang meraih apa yang aku impikan demi hal yang aku cintai…
Dengan mencintai, aku memiliki harapan, harapan untuk terus hidup demi bertemu orang dan hal yang aku cintai…

Love gives you a power, and I do believe it…
Aku percaya, cinta memberikan kekuatan, meski cinta tak selalu berwujud hal-hal yang menyenangkan…
Dengan wujud kebahagiaan, mencintai berarti berharap, bersemangat, berusaha menampilkan diri yang terbaik demi yang tercinta…
Dengan wujud kesedihan, mencintai berarti belajar, berjuang, mencintai berarti mempelajari bagaimana menjadi seseorang yang lebih kuat, dan lebih kuat lagi…

Meskipun secara resmi aku sudah 3 tahun 3 bulan 3 hari menikmati kehidupan sebagai seorang ‘single’ namun hatiku selalu memiliki cinta dan aku selalu memilih untuk mencintai…
Aku mencintai Ibu dan keluargaku…
Aku mencintai Tuhanku dengan caraku…

Banyak orang yang bertanya-tanya, bagaimana bisa aku melewati waktu sekian lama sendirian?

Yah, sebenarnya, aku tak sendirian…
Aku selalu memiliki hal-hal yang kucintai, yang membantuku melewati kesendirian…
Aku yang mencintai dunia akademik sekaligus non-akademik masa SMA dengan segala kegiatan dan perlombaan, relasi pertemanan, dan mata pelajaran…
Aku yang mencintai Kpop dan segala pernak-pernik Dunia Per-Korea-an yang selalu menjadi pembangkit semangatku, penyuntik perjuanganku melewati hari yang sepi…
Aku yang mencintai EDM yang selalu menjadi teman dalam kesendirian…
Aku yang mencintai dunia tulis menulis yang menjadi saranaku bercerita tentang kehidupanku yang tak ada habisnya…
Aku yang mencintai dunia tari tradisional yang kadang menjadi mediaku untuk menekan emosiku dan terkadang menjadikanku merasa lebih anggun dari biasanya…

Dan sekarang…
Aku yang-kurasa-mencintai seseorang…
Aku tak peduli ia menganggapku apa…
Aku tak peduli ia tahu atau tidak tentang perasaanku…
Aku tak peduli selama ini apa yang ia pikirkan tentangku saat aku dan dia bercengkerama bersama…
Aku hanya butuh hatiku untuk setidaknya menyukai seseorang…
Agar aku memiliki kekuatan, harapan, dan semangat untuk menjalani kehidupan…
Agar jika seburuk-buruknya aku dan dia memang bukan jatahnya bersama, aku mampu kembali belajar untuk merelakan dan menempa diri menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi…

That’s why I choose loving than being loved…

2

The Philatelist and Money Collector

Selamat apa-saja dan selamat kapan-saja!

Tulisan ini adalah versi lengkap salah satu answer di akun media sosial ask.fm milikku. Ada seseorang yang bertanya tentang hobi lainku selain menari. Dan kujawab: FILATELI serta mengumpulkan uang baik mata uang Indonesia jaman baheula sampai agak baru atau mata uang asing.

This secret hobby began when I was in Elementary School.
Yep. Pas aku masih SD, masih ingusan pake seragam putih-merah, eh berani-beraninya gaya sok jadi filatelis. Akhirnya, hobi ini bener-bener cuma jadi secret hobby *tentunya sebelum aku publish di posting ini* yang terlantar dan terabaikan serta terlupakan.

Baca lebih lanjut

4

D-31: Head Heart and Hand~

“Head, heart, hand. Kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja keras.” Mom Reni Herawati.

Beliau adalah salah satu orang paling berpengaruh dalam kehidupanku. Mom Reni Herawati. Kutipan tadi adalah motivasinya dalam hidup, dalam pekerjaan, dalam semuanya. Beliau selalu mengajarkan murid-muridnya termasuk aku untuk memahami konsep 3H itu… Beliau menyebarkan virus 3H ke seluruh dunia.

But, so far, I see that those 3H really works, especially on Mom Reni. Beliau adalah guru, ibu, sekaligus wanita karier yang sukses. Cerdas, ikhlas, pejuang tangguh. Prestasi beliau banyak. Karier beliau luar biasa. Usai menjadi guru bahasa Inggris di SMAN 5 Yogyakarta, beliau menjadi kepala sekolah di SMA-ku, SMAN 7 Yogyakarta. Dan sekarang beliau adalah pengawas di Dinas Kota Yogyakarta.

Bagiku, Mom Reni adalah sosok yang cukup penting dan berkontribusi lumayan banyak terhadap prestasi-prestasiku selama SMA. Tanpa beliau aku bahkan tidak akan berani menjadi wakil kota Yogyakarta dalam ajang OSN Matematika di tingkat Provinsi. Tanpa beliau aku mungkin tidak akan mengikuti Pertukaran Pelajar 2012 di Ogan Ilir. Beliau lah yang selalu memberi support, motivasi, dan ucapan selamat terbesar kedua setelah Ibuku.

Well, maybe it looks like a simple things. Just a support, motivation, and a little “congratulations” when I’m successful. Tapi semuanya berarti besar untukku… It means a lot.

Apalagi semboyan 3H itu…
Menurutku ngena banget!
Pemikiran, hati, dan action. Ketiganya adalah komponen utama eksistensi manusia.
Kalo mau diimplementasikan dalam produktivitas kerja pun jelas… Seseorang harus bekerja dengan cerdas, dengan hati ikhlas, dan bekerja keras untuk hasil yang maksimal.

Tapi…
Akhir-akhir ini aku lumayan sedih. Semboyan 3H ini mulai samar-samar di diriku. Antara Head, Heart, dan Hand rasanya suka gak sinkron gitu. Dan ini semua berujung pada tahun 2014-ku yang gak produktif dan gak berprestasi. Syedih.

Sekarang…
Dengan tulisan ini, menutup 31 Hari Menulis sekaligus membuka lembaran baru…
Tulisan ini bakal jadi pengingat tentang 3H–Head, Heart, Hand.

Thanks Mom Reni for inspiring about these 3H πŸ™‚
Semoga bisa selalu mengamalkannya πŸ™‚

image

Thanks Mom πŸ™‚

0

D-23: Discusso Ergo Sum

Cogito ergo sum – aku berpikir maka aku ada

Jiwa ini kemudian dilanjutkan dengan

Scribo ergo sum – aku menulis maka aku ada~

Namun… Bagiku hal terpenting adalah proses diantaranya. Diskusi.

Yap.
Diskusi adalah proses yang menjembatani antara cogito dan scribo. Ketika seseorang hanya berpikir, Ia tak akan mampu menuliskan apapun tanpa melalui diskusi.

Pikiran selamanya hanya akan di dalam kepala, tanpa ada hasrat untuk mendiskusikannya.
Ada baiknya semua gagasan didiskusikan baru kemudian dituliskan. Setidaknya ketika sesuatu sudah didiskusikan akan meminimalisir kontroversi kan? Karena setidaknya kita sudah mampu memetakan mana saja yang setuju dengan pemikiran kita dan mana saja yang tidak setuju dengan argumen kita.

Jika ada orang yang berkata…
“Aku tak punya kawan diskusi”
“Tanpa diskusi pun aku bisa menuliskan gagasanku”

Nonsense.

Setidaknya, seseorang akan berdiskusi dengan dirinya sendiri. Mempertanyakan pada diri sendiri mengenai gagasannya. Menimbang dan memilah sebaiknya diksi apa yang lebih tepat digunakan. Berdialog dan berdiskusi dengan diri sendiri tak masalah kok. Kan itu komunikasi intra-personal?

Bagiku, diskusi memang suatu hal yang sangat penting dan sangat menyenangkan. That’s why dari jaman SMA sampai sekarang kuliah aku selalu punya teman diskusi yang emang special designed for discussion gak cuma ngegosip doang. Makanya kebanyakan partner diskusiku adalah laki-laki yang gak terlalu seneng nyinyirin orang. We can discuss everything. Politik, sosial, budaya, sejarah, agama, dan sebagainya.

Bahkan, bagiku diskusi punya satu kelebihan. Diskusi memungkinkan banjiran informasi dan gagasan. Diskusi memungkinkan sekali untuk membicarakan hal-hal top secret yang bakalan bahaya banget kalau diutarakan dalam bentuk tulisan, kayak tadi nih aku lagi diskusi tentang internal problem di Kraton and it’s so fun. Having so many new insights and knowledges.

Bagiku, eksistensi seseorang muncul ketika dia berbicara, terlibat dalam dialog, berdiskusi.
So
Cogito and Scribo means a lot.
But for me

“DISCUSSO ERGO SUM”

Hehehe
*btw itu istilah gawe-gawe dari aku karena aku gatau bahasa latinnya diskusi itu apa huft*

0

D-13: Family Passion

Having a big family with highly cultural bounded is a great things

Bosan ya dengan ceritaku? Aku dan keluargaku yang serba-penari…
Tapi ga cuma itu sih. Keluargaku juga sangat sangat memegang teguh kebudayaan, bisa dibilang penggiat budaya lah…

Dosen Institut Seni Indonesia, guru tari di SMKI, guru tari di SMA, dan sebagainya. Bayangin ga sih kayak gimana diskusi-diskusi yang ada di keluargaku?

Yep. Ngomongin budaya, budaya, dan budaya. Seni, seni, dan seni. But I think that’s our passion, art and culture. Semuanya sibuk berlomba mengeluarkan insight tentang seni dan budaya. And it’s so fun!

Bahkan, ketika kita gabut pun kita berkesenian. Kalo ga nari ya main gamelan. Contohnya tadi… Kan aku adekku sama mbakku gabut, terus iseng aja main gamelan yang ada di rumah… Ujung-ujungnya masku, ibuku dan budheku ikutan gabung. Lumayan lah tadi main saron, mainin gendhing Agun-Agun dan Udan Mas. Meski bukan pro, at least bahagia lah ya bisa main saron demung sama bonang dikit-dikit :v Asique kan? :3

Family passion. Bagiku hal tersebut adalah satu hal yang gabisa dipungkiri. Meski aku mencoba sekuat tenaga buat sok sokan jadi anak IPA dengan jalan dulu bercita-cita jadi anak Teknik Nuklir, jatuhnya tetep aja jadi anak Komunikasi. Jatuhnya tetep aja jadi anak IPS, anak sosial-humaniora, tetep aja passion di seni budaya.

So, if you’re confused with your passion, try to look around your family. Who knows one of your family passion became your passion πŸ˜‰

2

D-10: Ironi Trend Indonesia Masa Kini

Tulisan ini terinspirasi dari kuliah pengganti Teori Komunikasi tadi pagi…

Mbak Hermin, salah satu dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, pada kuliahnya hari ini membahas tentang Cultural Studies dan Media Ecology Theory. Ketika membahas Cultural Studies, beliau menyelipkan sebuah cerita yang membuatku merasa cukup miris.

Menurut beliau, ketika kemarin beliau bertandang ke Jakarta dalam sebuah diskusi bersama beberapa awak media, beliau mendapat sebuah fakta yang cukup menyedihkan bagi saya. Berbicara mengenai dunia pertelevisian Indonesia, bukan hal yang mengejutkan bila rating menjadi dewa. Bahkan di negara maju sekaliber Korea Selatan, rating tetap menjadi suatu patokan utama dalam penilaian seberapa suksesnya sebuah program siaran televisi. Namun, fenomena di Indonesia menunjukkan gejala kelebayan, dimana rating menjadi dewa yang diagung-agungkan sekaligus hantu yang membayang-bayangi para program director sampai ketakutan setiap pagi. Bayangkan, rating di masa kini dapat di-update setiap detiknya. Setiap perpindahan channel yang dilakukan oleh publik terekam satelit yang langsung mengabarkan pada orang-orang di balik layar seberapa sukses kah tayangan televisi yang mereka produksi.

Berdasarkan dewa hantu bernama rating ini pula, terlihat lah trend masyarakat Indonesia yang sekarang sedang berkembang. Menurut cerita beliau juga, saat ini masyarakat Indonesia nampaknya sedang gandrung pada program televisi bertema dangdut. What a pity. Berdasar cerita mbak Hermin, program siaran berita baik dari TVOne atau MetroTV sama-sama mengalami penurunan market share yang cukup signifikan. Sementara program idol hunt bertema dangdut semacam D’Academy sedang melambung tinggi, membuat Indosiar–stasiun televisi yang menayangkannya kipas-kipas jumawa sementara MNCTv yang branding awalnya televisi dangdut lantas ketar-ketir melihat pesaingnya yang semakin menggila.

Saya?
Cuma bisa elus dada melihat fenomena ini…

Saya pribadi memang tak suka genre musik dangdut. Meski katanya dangdut itu musik yang merakyat, saya tetap tidak suka. Mau saya dibilang sok elite saya juga tak peduli, namanya juga selera. Saya pribadi kurang suka dengan musik dangdut, baik dangdut lawas yang legendaris macam lagu-lagunya Rhoma Irama, Inul Daratista, atau siapalah penyanyi-penyanyin lawas lainnya; apalagi dengan dangdut ala ala semi-koplo yang menjamur macam lagu Pusing Pala Barbie (yang menurut saya menjiplak aransemen lagu All About That Bass dari Megan Trainor terlepas dari sang penyanyi yang menyangkalnya habis-habisan), Goyang Dumang, Sakitnya Tuh Disini, and all of those song that I don’t give a fvck. Rasa-rasanya gemas mendengar lagu-lagu sejenis yang tersebar sporadis di hampir semua stasiun televisi demi dewa hantu bernama rating itu tadi.

Kasihan ya Indonesia…

Tapi, berdasarkan testimoni dari Ibu saya sendiri, D’Academy memang menyuguhkan hiburan tersendiri. Peserta dan presenternya kadang mengundang tawa, lumayan katanya jadi hiburan kala suntuk bekerja. Ya meski kata mas Bondan (salah satu kakak tingkat saya) yang fans D’A garis keras dalam D’Academy tidak pernah membawakan dangdut ala ala yang kekinian. Terlepas dari fakta bahwa Ibu saya juga tak menikmati dangdut, menurut beliau karena teman-temannya di tempat kerja suka acara itu yaudah ikut nonton aja.

Situasi ini rasa-rasanya nyerempet juga ke satu teori tentang media yang minggu lalu dibahas pula dalam kelas. Entah benar atau tidak bayangan saya, wallahu alam. Spiral of silence theory. Sebuah teori dimana media menjadi semacam penentu suara mayoritas yang dominan atau katakanlah trend. Sehingga, ketika orang-orang memiliki suara yang berlawanan dengan trend atau mayoritas yang dikonstruksikan oleh media, mereka jadi bungkam dan batal speak out karena takut terasing. Teralienasi. Ujung-ujungnya terjadi pengarus-utamaan yang semakin menggila.

Dan itulah realita di Indonesia.
Meski (katanya) manusianya multi-kultural dan beraneka jenisnya, ternyata kemakan juga oleh pengarus-utamaan trend.
Coba aja… Satu doyan kpop, semua doyan kpop… Satu doyan EDM semua doyan EDM… Satu doyan akik semua doyan akik… Satu doyan gelombang cinta semua doyan gelombang cinta…
Termasuk ini nih…
Dari yang dulu berlomba-lomba nonton berita di televisi, sekarang berlomba-lomba nonton dangdutan. Kan ironi…

Pertanyaan saya sederhana…
Katanya kita hidup di era serba termediasi?
Kapan ya kira-kira masyarakat Indonesia bisa literate terhadap media dan punya variasi selera?

*ps
Menerima kritik dan saran, silakan japri atau comment
Maaf kalo masih banyak salahnya. Kita sama-sama belajar (Madrim, 2015) :v