0

Explore Malaysia Part 3: Exploring Universiti Putra Malaysia Plus Finally We Got Time to Rest!

Halo halo!! Apa kabar?? Sehat?? Masih liburan?? Masih bahagia?? πŸ˜€ hehe

Selamat datang lagi di The Raw Diamond edisi EXPLORE MALAYSIA πŸ˜€ πŸ˜€

Part 3 gengs! Artinya, saatnya aku cerita hari ketigaku di Malaysia yaitu pada hari Rabu, 30 November 2016. So, let’s start the story!

Di hari ketiga ini, finally aku sarapan pake mie instan. Ahaha. Gitu aja finally ye? :’D Aku bikin Indomie Cup hasil beli kemarin waktu malem-malem di 7Eleven, dan menyadari kalo logistik kami buat sarapan kian menipis. Haduh:’) Akhirnya, setelah sarapan dan mandi dan siap-siap dan dandan cantik #aseek kami berempat plus dosen berempat pun dijemput pakai mobil van kampus itu. Hari Rabu ini, saatnya dosen-dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada buat diskusi, sharing, dan studi banding dengan pensyarah-pensyarah (dosen-dosen, Bahasa Melayu-red) dari Sastra Melayu Fakulti Bahasa Moderen dan Komunikasi Universiti Putra Malaysia. Kita dijemput sekitar jam 8an gitu deh…

Akhirnya, kita sampai di kampus FBMK UPM sekitar jam 9an kurang dan dosen-dosen langsung masuk ruang ISO untuk berdiskusi. Sementara itu, kak Asma, kak Sal dan kawan-kawannya (ada banyak banget jadi lupa siapa aja:’)) hehe) sudah siap buat mengantar kami keliling kampus. Tapi, sebelum itu si Zakiy kan emang gaboleh telat makan. Jadilah kita sarapan dulu di kantinnya FBMK UPM. Pagi itu, karena aku udah lumayan kenyang akhirnya aku cuma sarapan mie di kantin kampus. Mie kuning yang agak pedes gitu tambah bihun yang super enak plus air mineral ukuran kecil sekitar 330ml itu. Dan aku… Cuma habis… 2,5RM!!! Alamak! Sekitar 7-8ribu rupiah saja!! :’) Betapa bahagianyaa huhu :’D

Baca lebih lanjut

Iklan
0

Peksimida Oh Peksimida!

Hola, readers!!

Apa kabar? Semoga baik-baik saja… Maafkan blog inactive ini :’) Posting terakhirnya aja bulan Mei :’)

Bukan karena apa-apa, hanya saja saya sedang disibukkan dengan persiapan itu tuh yang jadi judulnya yaitu Peksimida. Peksimida alias Pekan Seni Mahasiswa Daerah itu tuh semacam FLS2N tapi di tingkat mahasiswa. Jadi semacam pekan seni berisikan lomba kesenian (tari, lukis, nyanyi pop, nyanyi dangdut, monolog, baca puisi, dllsb) antar mahasiswa antar universitas di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kebetulan aku dipilih menjadi salah satu dari 7 orang yang menjadi tim tari UGM di ajang tersebut. Sumpah ya… Latihannya tuh bener-bener intens. Belum lagi aku punya kesibukan lainnya… Jadinya bener-bener gak sempet ngeblog sama sekali. Sampai akhirnya, tanggal 4 Agustus 2016 adalah puncak dari segalanya…

Baca lebih lanjut

2

The Philatelist and Money Collector

Selamat apa-saja dan selamat kapan-saja!

Tulisan ini adalah versi lengkap salah satu answer di akun media sosial ask.fm milikku. Ada seseorang yang bertanya tentang hobi lainku selain menari. Dan kujawab: FILATELI serta mengumpulkan uang baik mata uang Indonesia jaman baheula sampai agak baru atau mata uang asing.

This secret hobby began when I was in Elementary School.
Yep. Pas aku masih SD, masih ingusan pake seragam putih-merah, eh berani-beraninya gaya sok jadi filatelis. Akhirnya, hobi ini bener-bener cuma jadi secret hobby *tentunya sebelum aku publish di posting ini* yang terlantar dan terabaikan serta terlupakan.

Baca lebih lanjut

0

Art|Jog|8 Infinity In Flux 2015: Cerita Saya Mengapresiasi Seni

ArtJog 8 bertema Infinity In Flux di tahun 2015. Awalnya, saya bahkan tak berpikir sempat datang. Namun, akhirnya saya datang juga kemarin (28/6) di detik-detik terakhir penutupan, jam-jam terakhir lebih tepatnya. Betapa deadliner-nya saya ini, Boi!

Setelah kebingungan nyari partner nge-ArtJog akhirnya ditemukanlah seorang kakak tingkat baik hati yang selo dan deadliner akut serta belum ke ArtJog dan berminat kesana. Berangkatlah kita malam-malam sekitar jam 8an menuju venue yaitu Taman Budaya Yogyakarta…

Baca lebih lanjut

2

D-14: Seni Tari Klasik Gaya Yogyakarta dan Falsafahnya (Part 1)

Halo!

Kali ini, aku mau berbagi sesuai dengan pesanan salah satu temenku yaitu Rizal. Kebetulan emang udah dari lama pengen share  ini tapi belum kesampaian. Hari ini aku  bakal ngomongin tentang seni tari klasik gaya Yogyakarta dan beberapa falsafah yang terkandung di dalamnya. Karena banyak banget ini kayaknya bakalan dibagi menjadi beberapa bagian…

Baca lebih lanjut

0

D-13: Family Passion

Having a big family with highly cultural bounded is a great things

Bosan ya dengan ceritaku? Aku dan keluargaku yang serba-penari…
Tapi ga cuma itu sih. Keluargaku juga sangat sangat memegang teguh kebudayaan, bisa dibilang penggiat budaya lah…

Dosen Institut Seni Indonesia, guru tari di SMKI, guru tari di SMA, dan sebagainya. Bayangin ga sih kayak gimana diskusi-diskusi yang ada di keluargaku?

Yep. Ngomongin budaya, budaya, dan budaya. Seni, seni, dan seni. But I think that’s our passion, art and culture. Semuanya sibuk berlomba mengeluarkan insight tentang seni dan budaya. And it’s so fun!

Bahkan, ketika kita gabut pun kita berkesenian. Kalo ga nari ya main gamelan. Contohnya tadi… Kan aku adekku sama mbakku gabut, terus iseng aja main gamelan yang ada di rumah… Ujung-ujungnya masku, ibuku dan budheku ikutan gabung. Lumayan lah tadi main saron, mainin gendhing Agun-Agun dan Udan Mas. Meski bukan pro, at least bahagia lah ya bisa main saron demung sama bonang dikit-dikit :v Asique kan? :3

Family passion. Bagiku hal tersebut adalah satu hal yang gabisa dipungkiri. Meski aku mencoba sekuat tenaga buat sok sokan jadi anak IPA dengan jalan dulu bercita-cita jadi anak Teknik Nuklir, jatuhnya tetep aja jadi anak Komunikasi. Jatuhnya tetep aja jadi anak IPS, anak sosial-humaniora, tetep aja passion di seni budaya.

So, if you’re confused with your passion, try to look around your family. Who knows one of your family passion became your passion πŸ˜‰

2

D-10: Ironi Trend Indonesia Masa Kini

Tulisan ini terinspirasi dari kuliah pengganti Teori Komunikasi tadi pagi…

Mbak Hermin, salah satu dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, pada kuliahnya hari ini membahas tentang Cultural Studies dan Media Ecology Theory. Ketika membahas Cultural Studies, beliau menyelipkan sebuah cerita yang membuatku merasa cukup miris.

Menurut beliau, ketika kemarin beliau bertandang ke Jakarta dalam sebuah diskusi bersama beberapa awak media, beliau mendapat sebuah fakta yang cukup menyedihkan bagi saya. Berbicara mengenai dunia pertelevisian Indonesia, bukan hal yang mengejutkan bila rating menjadi dewa. Bahkan di negara maju sekaliber Korea Selatan, rating tetap menjadi suatu patokan utama dalam penilaian seberapa suksesnya sebuah program siaran televisi. Namun, fenomena di Indonesia menunjukkan gejala kelebayan, dimana rating menjadi dewa yang diagung-agungkan sekaligus hantu yang membayang-bayangi para program director sampai ketakutan setiap pagi. Bayangkan, rating di masa kini dapat di-update setiap detiknya. Setiap perpindahan channel yang dilakukan oleh publik terekam satelit yang langsung mengabarkan pada orang-orang di balik layar seberapa sukses kah tayangan televisi yang mereka produksi.

Berdasarkan dewa hantu bernama rating ini pula, terlihat lah trend masyarakat Indonesia yang sekarang sedang berkembang. Menurut cerita beliau juga, saat ini masyarakat Indonesia nampaknya sedang gandrung pada program televisi bertema dangdut. What a pity. Berdasar cerita mbak Hermin, program siaran berita baik dari TVOne atau MetroTV sama-sama mengalami penurunan market share yang cukup signifikan. Sementara program idol hunt bertema dangdut semacam D’Academy sedang melambung tinggi, membuat Indosiar–stasiun televisi yang menayangkannya kipas-kipas jumawa sementara MNCTv yang branding awalnya televisi dangdut lantas ketar-ketir melihat pesaingnya yang semakin menggila.

Saya?
Cuma bisa elus dada melihat fenomena ini…

Saya pribadi memang tak suka genre musik dangdut. Meski katanya dangdut itu musik yang merakyat, saya tetap tidak suka. Mau saya dibilang sok elite saya juga tak peduli, namanya juga selera. Saya pribadi kurang suka dengan musik dangdut, baik dangdut lawas yang legendaris macam lagu-lagunya Rhoma Irama, Inul Daratista, atau siapalah penyanyi-penyanyin lawas lainnya; apalagi dengan dangdut ala ala semi-koplo yang menjamur macam lagu Pusing Pala Barbie (yang menurut saya menjiplak aransemen lagu All About That Bass dari Megan Trainor terlepas dari sang penyanyi yang menyangkalnya habis-habisan), Goyang Dumang, Sakitnya Tuh Disini, and all of those song that I don’t give a fvck. Rasa-rasanya gemas mendengar lagu-lagu sejenis yang tersebar sporadis di hampir semua stasiun televisi demi dewa hantu bernama rating itu tadi.

Kasihan ya Indonesia…

Tapi, berdasarkan testimoni dari Ibu saya sendiri, D’Academy memang menyuguhkan hiburan tersendiri. Peserta dan presenternya kadang mengundang tawa, lumayan katanya jadi hiburan kala suntuk bekerja. Ya meski kata mas Bondan (salah satu kakak tingkat saya) yang fans D’A garis keras dalam D’Academy tidak pernah membawakan dangdut ala ala yang kekinian. Terlepas dari fakta bahwa Ibu saya juga tak menikmati dangdut, menurut beliau karena teman-temannya di tempat kerja suka acara itu yaudah ikut nonton aja.

Situasi ini rasa-rasanya nyerempet juga ke satu teori tentang media yang minggu lalu dibahas pula dalam kelas. Entah benar atau tidak bayangan saya, wallahu alam. Spiral of silence theory. Sebuah teori dimana media menjadi semacam penentu suara mayoritas yang dominan atau katakanlah trend. Sehingga, ketika orang-orang memiliki suara yang berlawanan dengan trend atau mayoritas yang dikonstruksikan oleh media, mereka jadi bungkam dan batal speak out karena takut terasing. Teralienasi. Ujung-ujungnya terjadi pengarus-utamaan yang semakin menggila.

Dan itulah realita di Indonesia.
Meski (katanya) manusianya multi-kultural dan beraneka jenisnya, ternyata kemakan juga oleh pengarus-utamaan trend.
Coba aja… Satu doyan kpop, semua doyan kpop… Satu doyan EDM semua doyan EDM… Satu doyan akik semua doyan akik… Satu doyan gelombang cinta semua doyan gelombang cinta…
Termasuk ini nih…
Dari yang dulu berlomba-lomba nonton berita di televisi, sekarang berlomba-lomba nonton dangdutan. Kan ironi…

Pertanyaan saya sederhana…
Katanya kita hidup di era serba termediasi?
Kapan ya kira-kira masyarakat Indonesia bisa literate terhadap media dan punya variasi selera?

*ps
Menerima kritik dan saran, silakan japri atau comment
Maaf kalo masih banyak salahnya. Kita sama-sama belajar (Madrim, 2015) :v