Dream Wedding?

Garden. Flowers as the decoration. A hand bouquet full of roses. Simple and elegant dress or modern kebaya. An elegant tuxedo. Pop-jazz music. One simple traditional dance for opening of the party. Kira-kira itu beberapa gambaran kalau ditanya soal dream wedding. Oh! Satu lagi. Tamu. Aku hanya mau bersalaman dengan orang-orang yang aku kenal atau (calon) suamiku kenal. Dengan kata lain, aku paling malas untuk beramah tamah dengan orang-orang yang tidak begitu kukenal di acara sepenting itu dalam hidupku.

Yap. Menikah adalah satu hal yang penting. Satu titik terpenting dalam hidup manusia, kurasa. Mengutip dari novel Critical Eleven milik Ika Natassa, menikah itu seperti menyeberang melewati jembatan, kemudian jembatannya dibakar. There’s no way back. Tidak ada jalan kembali menuju kehidupan sebelum kamu menikah. Bagiku, menikah adalah suatu hal yang sakral dan hanya akan terjadi sekali dalam hidupku. Menikah juga tidak semudah berkata “yes i do” ketika pria idamanmu memintamu menjadi teman hidupnya selamanya.

Menikah itu susah. Tadinya kamu hidup sendiri, memikirkan masalahmu sendiri, tiba-tiba kamu ikut memikirkan masalah pasanganmu. Tadinya kamu bisa foya-foya, tiba-tiba kamu harus menabung ekstra untuk melengkapi ini itu atau berjaga-jaga demi pengeluaran lain yang ada-ada saja datangnya. Menikah juga tidak semudah kamu dan pasanganmu bersatu. Ada dua keluarga juga yang harus dipersatukan. Ya kalau value kedua keluarga itu sama. Nah kalau beda?

images (3)

Namun, menikah itu juga mudah. Tadinya kamu memikirkan masalahmu sendiri, tiba-tiba kini ada orang lain yang ikut memikirkan masalahmu, ikut memikul beban di pundakmu, ikut mencarikan solusi bagi masalahmu. Kamu memang sudah tidak bisa foya-foya, tapi tabungan ekstra itu bisa kamu nikmati berdua yang tentunya menghasilkan kebahagiaan yang dua kali lipat juga. Dua keluarga yang berbeda memang masalah, namun nilai tambahnya kamu dan pasanganmu bisa menerapkan kelebihan value dan pola didik masing-masing keluarga untuk dijadikan warna baru bagi keluarga kecilmu dan pasanganmu kelak.

Intinya, menurutku menikah itu sepertinya susah susah gampang. Aku berkata sepertinya karena aku juga belum merasakan loh ya. Aku hanya melihat berbagai kenyataan manis dan pahit dunia pernikahan orang-orang di sekelilingku yang beraneka rupa. Apalagi sebagai anak brokenhome, aku pernah mencicipi manisnya dan hangatnya keutuhan keluarga, hingga pahitnya kehilangan sesosok orang tua yang membuat mantan pasangannya harus ekstra keras merangkap perannya agar aku tak merasakan dinginnya kehilangan sentuhan satu sosok orang tua.

Lalu, kenapa aku membuat tulisan ini?

Sebenarnya entah masih lama atau tidak, aku juga akan menikah. Kadang aku berpikir, kira-kira akan seperti apa ya pernikahanku kelak? Akan diselenggarakan dimana? Dengan konsep seperti apa? Berapa jumlah tamu yang kuundang? Berapa uang yang akan kuhabiskan untuk hal sakral yang hanya terjadi sekali seumur hidup ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu pasti juga pernah terlintas di benakmu, kan?

 

Aku pribadi heran, mengapa pernikahan seolah menjadi ajang untuk memamerkan beberapa hal bagi segelintir orang (atau mungkin orang tua)? Hampir semua berlomba mengundang tamu hingga hampir ribuan, menyelenggarakan resepsi di tempat yang besar dan mewah, dengan pilihan menu makanan berlimpah, dengan wedding organizer ternama, dengan gaun atau kebaya atau pakaian pernikahan lainnya yang juga tak murah. Yah. Mungkin itu dream wedding bagi sebagian orang ya?

Tapi bagiku…

images (1)

Menikah bukan soal itu semua. Intinya menikah hanya meresmikan hubungan sepasang manusia, menyatukan mereka di bawah sebuah janji sehidup semati, dengan orang-orang terdekat sebagai saksi. Resepsi? Itu hanya wujud syukur kedua mempelai karena orang-orang tersayang telah hadir, mendukung mereka untuk bersama, meluangkan waktu menjadi saksi dalam perjanjian sehidup semati keduanya. Iya nggak sih?

Melihat perkiraan dan segala kemungkinan yang ada, aku ‘sepertinya’ tidak lagi memikirkan tujuh hal di paragraf pertama begitu mendengar pertanyaan mengenai dream wedding versiku. Sekarang aku hanya berpikir, bagaimana aku bisa menikah dengan sah secara agama maupun negara disaksikan orang-orang yang kusayangi sekaligus menyayangiku?

Agaknya mengadakan resepsi pernikahan tertutup itu menyenangkan, ya? Tak banyak yang harus diundang. Hanya keluarga, kerabat, dan sahabat-sahabat dekat. Kamu akan dengan mudahnya bertegur sapa dengan tamu-tamu yang hadir di pernikahanmu, karena kamu jelas mengenal baik semuanya. Kamu tidak akan garuk kepala sambil berpikir keras, “eh dia siapa ya? Kok aku lupa?”. Kamu juga tidak perlu berbisik mesra kepada pasanganmu tentang “eh itu temenmu kah?” dan dibalas oleh pasanganmu dengan “bukan, kukira dia temenmu.”

But sometimes society is suck.

Ketika memutuskan untuk mengundang orang-orang tertentu saja, tak jarang semua menagih “mana undangannya?” “kok aku nggak diundang?”. Ketika memutuskan untuk tak mengundang terlalu banyak orang, ada saja yang berkata “eh kok yang dateng ke nikahannya sedikit ya?” atau parahnya “dia nggak punya teman atau relasi kali ya?”. Belum lagi jika ada yang berani untuk memutuskan tak mengadakan resepsi, jangan-jangan ada yang mencibir “ih nggak punya uang kali ya, nggak bikin resepsi.”

Kadang, resepsi atau pesta pernikahan terjadi karena tuntutan lingkungan. Mengundang tamu sekian banyak agar tidak terdengar rasan-rasan atau cibiran. Menghelat acara di tempat besar dan mahal agar tamu yang datang nyaman dan tidak bermuka masam. Mengonsep pernikahan sedemikian rupa hanya untuk mendengar kata wah dari kiri kanan. Hmm… Kzl bukan?

Jadi, Wita, maumu apa?

Mauku… Ya gitu. Menikah dimana saja, hayuk. Menikah dengan konsep apa saja, hayuk. Hanya saja aku mau hari istimewaku dikelilingi orang-orang terdekatku. Aku tidak mau kelelahan dengan resepsi yang berlebihan, karena masih ada hal yang melelahkan setelah resepsi pernikahan. Bukan. Bukan hal ‘melelahkan’ yang itu. Maksudku… Kamu kira nggak capek apa menata hidup setelah pernikahan? Hehe.

Screenshot_2017-11-03-21-44-09

Erwita is thinking… so deep… and hard :’)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s