#8 Gadis Itu Ternyata Penyiar?

Hai!

Hari kedelapanku mengikuti gadis ini lumayan menyenangkan. Salah satunya adalah kegiatannya berupa siaran radio.

Gadis itu sudah setahun ini menjadi penyiar di salah satu radio komersial di Yogyakarta. Biasanya Ia mengudara di hari Jumat sore, Sabtu pagi, dan Minggu malam. Hari Sabtu ini aku mengikutinya siaran dari pukul 7 hingga 11 pagi, meski sebenarnya gadis itu telah bersiap sejak pukul 6 tadi.

Begitu sampai lokasi, dengan cekatan Ia menyalakan komputer admin, menyalakan mixer, mikrofon, dan kemudian membuka sebuah aplikasi bernama ZaraRadio di komputer yang lain. Setelah melihat susunan lagu dan iklan yang akan diputar, Ia berpindah ke komputer admin untuk mengaktifkan internet dan berbagai media sosial demi menunjang siaran.

Setelah semua media sosial ter-login dengan sukses, Ia kembali ke komputer utama untuk menyusun iklan tersebut, memasukkan beberapa komponen lain seperti sweeper dan content feature ke dalam daftar siar atau playlist. Usai dengan satu komputer utama, Ia beralih lagi ke komputer admin untuk mencari referensi tentang topik apa yang sebaiknya Ia bawa hari ini serta beberapa info lokal yang bisa diberikan kepada pendengar.

Setelah semua siap, Ia pun mulai mengatur mikrofon dan memasang headphone di kepalanya.

“Eh! Ini kan belum jam tujuh? Kok kamu sudah mau ngomong sekarang sih?” tanyaku pada gadis itu.

“Hmm… Kamu belum tahu, ya? Di radio ini sistemnya adalah live delay. Jadi aku merekam dulu setiap talkset yang kubuat, lalu akan aku mixing dengan lagu, atau opening tunes, atau feature, atau smash, bahkan sound effect sebelum aku naik siarkan. Begitu lah, Luvia…” jelasnya.

“Oh… Baru sekali ini aku tahu. Hmm… Lanjutkan kerjamu deh kalau begitu,” ujarku.

Gadis itu melanjutkan pekerjaannya. Ia tampak begitu ceria saat berbicara di depan mikrofon dan suaranya begitu berbeda. Entah beda yang seperti apa. Yang jelas cukup berbeda dengan caranya berbicara atau mengumpat di kesehariannya.

Setelah melakukan beberapa kali rekaman yang dilanjutkan dengan mixing, gadis itu pun meletakkan file suaranya ke dalam daftar siar. Tepat pukul 7 suara sang gadis terdengar di udara. Bersamaan dengan itu jemarinya meluncur di keyboard komputer admin dan mengetikkan salam pembuka di media sosial bernama Twitter.

Begitu terus selama 4 jam Ia melakukan kegiatan yang sama. Tak jarang diselingi oleh kegiatan menyanyinya yang serampangan sebagai pengusir rasa bosan. Terkadang ada satu atau dua orang-entah itu manager, program director, finance, account executive, brand activation and relations, technician, atau siapapun-masuk dan mengajaknya berbincang sebentar demi mengindar dari kejemuan.

Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 10.00 namun aku telah mendengarnya berkata “thank you, see you, bye-bye” yang menandakan bahwa Ia telah berpamitan.

“Lho? Sudah selesai ya?” tanyaku.

“Iyaa dong, Luvia…” jawabnya sedikit bangga.

“Wah asyik berarti bisa pulang lebih cepat ya?”

“Dih! Mana ada~ hehe. Meskipun aku sudah selesai jam 10 ini, tapi aku masih bertanggung jawab dengan playlist ini sampai jam 11 nanti. Jadi aku baru bisa pulang setelah closing yang kubuat tadi sudah naik siar dan memastikan jam selanjutnya aman. Begitu, Luvia…” jelasnya.

“Yah… Tak jadi lah kita pulang lebih awal…”

“Hehe… Ya begitulah kerja, Luvia”

Aku pun tersenyum masam. Berat juga ya jadi manusia yang harus bekerja?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s