#6 Luvia Mulai Beradaptasi

Enam hari. Cukup lah ya buat beradaptasi? Cukup banget sih๐Ÿ˜…

Jadi…

Enam hari sudah aku turun ke bumi di masa ini. Melihat serba-serbi kehidupan manusia, termasuk bahasa dan penyebutan apa saja yang lumrah tercurah atau diksi apa saja yang janggal terungkap.

Kehidupan gadis yang aku ikuti pun semakin menarik hati. Semalam Ia berlatih menari dan aku melihat belasan atau puluhan muda mudi bergerak dengan indahnya. Pulang mendekati dini hari, gadis itu pun masih mampu bangun pagi dan berangkat menuntut ilmu di gedung yang kemarin kuceritakan yang biasa Ia sebut dengan kampus.

Aku semakin sering melihatnya berinteraksi dengan kawan-kawannya. Melihat bagaimana manusia-manusia ini berbicara, mulai dari diskusi-diskusi akademis, nyinyir-nyinyir yang kadang terbumbui sedikit lamis, hingga umpatan-umpatan yang anehnya terdengar manis.

Kalau pun terdengar kata-kata biasa… Ah! Sudah dipastikan bahwa pasti bukan kawan dekatnya. Nyatanya gadis itu lebih sering mengumpat manja dengan sahabat-sahabatnya dibandingkan bertutur sopan dengan diksi yang biasa.

Orang-orang disini mulai tak peduli.

Ketika mereka sedang marah, mereka akan mengekspresikannya. Ketika mereka sedang sedih, mereka akan memperlihatkannya. Ketika mereka bahagia, mereka akan tertawa sepuasnya. Hmm. Bukan kah hidup seharusnya memang begitu?

Tapi, anehnya mereka tahu bagaimana menempatkan diri. Mereka tahu kapan harus tersenyum palsu, dan kapan harus mencerca dengan nyata.

Hmm…

Manusia memang sulit dipahami ya?

Pantas saja Kaca Benggala tak bisa membacanya~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s