#3 Anggap Saja Luvia Dinding Pendengar Cerita!

Hari ini, gadis yang kuikuti kembali bangun pagi…

Dengan ceria Ia mandi, sarapan, kemudian antusias memilih pakaian. Ia memilih warna salem yang cukup kalem, namun tetap terlihat cerah karena motif bunga-bunganya secantik bunga yang sering kulihat di Taman Sriwedari milik Dewi Sri Sekar, sahabat Dewi Supraba.

Tak tergesa, Ia mengendarai sepeda motornya yang belakangan kuketahui bernama mbak Sumirah. Ia pun sampai di sebuah gedung yang cukup moderen di sekitaran Bulaksumur dan segera masuk ke dalam salah satu ruangan di gedung tersebut. Seperti biasa, aku mengikuti tanpa banyak tanya. Kemudian seorang pria paruh baya masuk dan tiba-tiba muncul lah tulisan di layar putih.

Hmm…

Ada pengetahuan yang sudah dan yang belum kuketahui disini. Nama-nama yang disebut seperti Rene Descartes dan John Locke sangat familiar, terutama ketika aku menjalani tugasku tahun lalu di Paris. Selain itu, istilah-istilah familiar juga terucap dari bibir sang lelaki yang berulang kali dipanggil Mas seperti empirisme, rasionalisme, level, perspektif, konteks, post-positivistik, interpretatif, kritis, dan sebagainya.

Namun, ada beberapa hal asing yang belum pernah kudengar. Misalnya ketika lelaki itu menyebutkan nama Katherine Miller serta West dan Turner. Atau ketika lelaki itu menyebutkan kata autoetnography, komunikasi massa, komunikasi intrapersonal, dan sebagainya. Beruntung Dewi Supraba membekaliku dengan sebuah cermin bernama Kaca Benggala yang bisa menjawab hampir semua pertanyaan di dunia, kecuali tentang hati dan perasaan manusia. Setelah kutanya, ah barulah aku tahu ranah apa ini semua. Komunikasi. Dengan bahan pagi ini adalah sekelumit tentang Filsafat Komunikasi. Hmm… Gadis yang kuikuti ini memilih dunia yang menarik.

Tiba-tiba, gadis ini beranjak dari ruangan yang indah ini menuju ruangan lain di lantai dua yang sedikit lebih kuno. Ia sibuk dengan sebuah kotak besar di depan yang mirip Kaca Benggala. Ia mencari berbagai hal dan memutarkan berbagai gambar bergerak. Sampai akhirnya, gadis itu melihat Kaca Benggala versi kecil di genggamannya dan kemudian berubah lah suasana wajahnya.

Ah, sial!

Gadis itu kini dirundung nestapa. Mau tak mau, aku harus menghiburnya. Tapi, apa ya yang Ia rasakan? Kaca Benggala kan tidak bisa memberitahukanku perihal perasaan manusia? Hmm… Mau tak mau, aku harus bertanya. Tapi… Bukankah Ia baru mengenalku 3 hari? Bagaimana mungkin Ia bersedia untuk bercerita? Dari tugasku sebelum-sebelumnya sih manusia paling enggan berkeluh kesah pada orang lain (apalagi entitas lain) jika Ia belum mengenal orang dengan baik.

Gadis itu tetap bermuram durja dan menolak bicara meski berkali-kali aku bertanya kenapa.

“Luvia… Kamu nggak tahu gimana rasanya,” hanya itu kalimat baku yang diulangi berkali-kali, diucapkannya kepadaku.

Sampai puncaknya.

Di malam hari, aku masih mengikutinya berkendara…

Tiba-tiba terdengar isakan kecil darinya…

Aku pun memberanikan diri lagi untuk bertanya, “Hei! Kamu kenapa?”

“Luvia… Kamu nggak tahu gimana rasanya!” teriaknya tiba-tiba.

“Iya! Aku nggak tahu bagaimana rasanya. Tapi, bisa kah kamu menganggapku dinding saja? Yang bebas kamu tumpahi beragam cerita? Aku hanya akan diam dan mendengarkan. Itu saja,” ujarku.

Mungkin gadis itu tak tahan lagi dengan semuanya. Sambil terisak sepanjang jalan Ia berkisah,

“Mungkin terdengar sepele. Tapi… Aku benar-benar lelah. Bisa kah kamu membayangkan? Secara mendadak, jadwalku menjadi jungkir balik tak karuan. Tiba-tiba, aku mendapat deadline tugas besok Rabu. Padahal Rabu itu pun aku harus presentasi. Rasanya aku hampir tak sanggup menyiapkan dua materi sekaligus. Ditambah seharusnya malam ini aku pun ada jadwal latihan menari. Namun, aku harus mereview jurnal riset untuk esok Selasa. Belum lagi, aku tak enak hati dengan Kak Iis yang menggantikan jadwal kerjaku sementara aku tidak bisa menggantikan jadwalnya. Bisa kah kamu membayangkan banyaknya hal yang ada di pikiranku dan membuatku lelah setengah mati?” ujar gadis itu bertubi-tebi.

“Lega kah sudah bercerita?” kataku menanggapi.

Perlahan gadis itu berhenti terisak…

“Terima kasih, Luvia. Kamu dinding pendengar cerita yang baik,”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s