#2 Luvia Ke Desa!

Hari ini, gadis yang kuikuti bangun pagi…

Kupikir dia akan segera sarapan, mandi, kemudian berdandan. Menggelung rambutnya dengan gelung tekuk, mengenakan kebaya hitam kesukaannya yang membuatnya terlihat kurus, mengenkan jarik-kain batik miliknya yang sejak semalam telah tersampir di atas kursi, mengikatkan sonder-selendang berbahan primisima beraneka warna di pinggangnya. Kupikir dia akan bersiap menuju Bangsal Kasatriyan. Tapi kurasa tidak…

Ia membasahi rambut panjangnya. Tidak mungkin Ia menari dengan sanggul tekuk manakala rambutnya basah. Jelas lah sudah pupus harapan pertamaku untuk melihat penerus-penerus Pembayun memainkan sampur. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku sudah memilih gadis ini untuk kuikuti. Jadi, kemanapun Ia pergi aku akan berada tepat di belakangnya…

Gadis itu memilih celana panjang berbahan jeans, kalau aku tak salah. Ia mengenakan kaos putih bergambar nusantara dengan logo universitas terkemuka di Yogyakarta bersanding dengan logo instansi pemerintahan. Gadis itu menyambar jaket senada dengan celana yang Ia pilih. Tergesa-gesa, masih dengan rambut yang basah, Ia menyambar sebuah kunci dan pergi dari rumahnya. Aku terus mengikuti.

Ia memacu kendaraannya dengan kencang ke selatan. Samar-samar, mulai nampak areal persawahan yang hijau membentang. Aku dengan senang hati mengikuti. Tak apa lah aku gagal melihat gadis-gadis menari. Sebagai gantinya, aku melihat hektaran anak-anak Dewi Sri yang juga menari-nari diiringi hembusan angin sebagai melodi. Ah. Aku juga merindukan hal ini.

Aku teringat lagi akan masa lalu. Termasuk tugas-tugasku sebelum ini. Dulu petak-petak kehijauan ini lah tempatku berlarian, sembari bersiul pelan diiringi riak-riak irigasi. Mereka tersenyum menyapaku. Berharap bahwa kehadiranku akan melekaskan panen mereka, membuat pemilik mereka dipenuhi gelak tawa bahagia.

“Hei. Mau kemana sih kamu sebenarnya?” tanyaku memberanikan diri.

“Udah lah, Luvia. Kamu ikut saja. Nanti pasti tahu kok,” jawab gadis itu sambil terus memacu kendaraannya. Terlihat anak-anak manusia lain menyusul gadis ini di kanan dan kiri.

“Hei! Mereka itu siapa? Kamu kenal dengan mereka?”tanyaku lagi.

“Luvia… Luvia… Dari tadi kan mereka memang di belakangku. Kamu sih keasikan lihat pemandangan. Jadi tidak tahu kan,” jawab sang gadis.

Keheningan melanda kami karena aku kembali terpaku pada lambaian nyiur di tepi jalan. Sementara Gadis-begitu aku memutuskan memanggilnya karena aku tak mau tahu namanya-terus terpaku pada jalanan, mencari celah-celah bus atau truk gandeng yang bisa dilewati ditengah klakson mobil yang tak mengenal kata sabar.

“Eh, Luvia…” tiba-tiba Gadis bersuara.

“Kenapa, Dis?”

“Teman-temanku… Bisa lihat kamu nggak?” tanyanya polos.

“Hmm… Sepertinya tidak. Aku memutuskan bahwa dalam tugasku kali ini, hanya orang yang kuikuti yang akan tahu tentang aku,” jelasku pada Gadis yang disambut dengan oh-gitu kecil.

Gadis itu berbelok ke arah matahari terbit yang sinarnya masih cukup menyilaukan. Kami sekarang berkendara di tengah-tengah pematang dengan jalan tanah yang belum lah rata. Ah! Aku paham sekarang!

Gadis ini sudah berada di tingkat menuju akhir di kampusnya. Ia berkewajiban melakukan pengabdian masyarakat-seperti tugasku dulu ketika awal aku berada di Jonggring Saloka-dan agaknya desa ini lah yang Ia dan kawan-kawannya pilih. Desa Srigading namanya. Nama yang indah untuk sebuah desa.

Ia menyusuri jalan berbatu dan berkelok dan hampir berlumpur untuk menuju satu rumah bergaya limas dengan sekumpulan anak dan pemuda di depannya. Kepala Dusun Tegalrejo. Begitu lah tetenger atau plang penanda yang terpampang. Disana Gadis dan kawan-kawannya disambut ramah pula oleh pemuda-pemudi. Inilah satu hal yang selalu kurindukan dari kunjunganku ke bumi, khususnya ke belahan bumi yang seperti ini. Tempat tropis dengan keramahan warga yang menyenangkan. Tawa dan senyum malu-malu anak-anak melihat orang baru yang datang. Ah. Indahnya.

Sayangnya, aku tak bisa berlama-lama disini. Aku harus mengikuti Gadis ini berpindah lagi. Kali ini kami menuju sebuah pedusunan bernama Sogesanden. Tanah yang kupijak kali ini mulai berpasir pantai. Kehitaman. Khas pasir di pesisir Bantul. Hitam dan panas. Namun, berbanding terbalik dengan sambutan yang diterima Gadis dan kawan-kawannya. Seorang lelaki dan perempuan berusia sekitar 40an yang ternyata Pak Dukuh dan Bu Dukuh begitu hangat dan meneduhkan dalam menyambut rombongan. Ah. Kehangatan dan keramahan ini. Sudah lama tidak kurasakan semenjak tugas terakhirku di Paris tahun lalu. Ah sudahlah. Malas kubahas.

Beranjak dari Sogesanden, aku mengikuti Gadis yang kabarnya akan menuju ke dusun lain bernama Malangan. Namun, entah bagaimana kami justru menemukan jalan panjang layaknya di video klip yang sering dibuat manusia. Ternyata itu disebut jalan lingkar selatan. Jauh terhampar di selatan sana, terlihat ombak Samudera Hindia yang begitu cantik namun mematikan.

“Hei! Kamu tak ingin kah pergi ke selatan sana?” tanyaku.

Pengen sih… Tapi, lain kali aja ya, Luvia?” ujar Gadis. Aku bisa apa? Hah… Yasudahlah.

Aku mengikuti gadis itu yang terus memacu kendaraannya ke utara. Selamat datang di Dusun Malangan! Sebuah pedusunan di tepian jalan, namun menawarkan keramahan yang sama. Dengan hamparan kehijauan yang menyenangkan. Rasanya aku ingin tinggal lebih lama.

“Eh. Kamu kapan sih akan tinggal disini?” tanyaku

“Hmm… Tanggal 10 Juni sampai 4 Agustus. Kenapa, Luvia? Mau ikut kah?” tanyanya.

“Yah… Sepertinya tidak. Aku sudah harus kembali ke Jonggring Saloka,” jawabku lesu.

Sepulang dari Malangan, aku mengikuti Gadis ke Sirat, Bambanglipuro. Nampaknya rombongan ini akan mampir ke sebuah rumah milik salah satu kawan Gadis yaitu Teja. Rumahnya tepat di areal persawahan. Kawan-kawan Gadis pun asyik menikmati mie lethek, sebuah kudapan khas Bantul yang begitu lezat.

Sementara aku?

Aku memilih duduk di depan rumah Teja. Menikmati hembusan angin yang membelai rambutku, kemudian telingaku. Entah tak tahu berapa lama aku duduk, membiarkan angin menyapa, debu beradu, atau air mengalir. Sampai akhirnya, terdengar deru mesin sepeda motor milik Gadis.

“Luviaa… Yuk pulang!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s