#1 Namaku Luvia!

Hai!

Namaku Luvia. Aku datang bersama hujan. Mungkin itulah sebabnya aku disebut Luvia. Berbeda dengan Nawang Wulan yang turun bersama pelangi, aku lebih memilih turun tersamarkan bersama hujan. Eh, kalian tahu Nawang Wulan kan? Iya. Bidadari yang itu. Bidadari yang selendangnya diambil Jaka Tarub. Hmm…

Tenang. Buat kalian yang ngefans berat sama Nawang Wulan, kalian tidak bisa menitipkan tanda tangan atau foto padaku. Aku tidak berteman dekat dengannya. Kami berasal dari tempat yang berbeda.

Kalau kalian tanya darimana aku berasal, aku akan menjawab bahwa kalian bisa menemukanku di pinggiran Jonggring Saloka. Dewi Supraba lah yang telah berbaik hati membuatkanku sebuah gubuk kecil setelah aku terusir dari Mayaretna. Sebabnya sih karena aku gagal mendamaikan dua keluarga Romeo & Juliet sampai akhirnya mereka tak bisa bersama di dunia. Akhirnya Sang Hyang Asmara mengusirku jauh-jauh dari Mayaretna dan sampailah aku di Jonggring Saloka atau yang sering disebut orang dengan Suralaya.

Ah. Sedih mengingat masa lalu. Tapi bagaimana lagi? Seperti halnya seorang goblin dari masa Joseon, aku tidak bisa melupakan kenangan dan perjalanan hidupku begitu saja. Jadi, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah terus hidup dan menjalani hari sebaik-baiknya.

Nah, ini adalah hari pertamaku untuk kesekian kalinya menjalani tugas dari sang dewi. Secara berkala, Dewi Supraba selalu mengutusku untuk turun ke bumi pertiwi selama tiga puluh satu hari. Perintah itu selalu datang tiba-tiba, namun anehnya jangka waktu kunjunganku seolah sudah tertata begitu saja. Ah entahlah. Ia memang dewi yang bijaksana. Aku hanya bisa bersyukur karena Ia berbaik hati menerimaku & memberikan tugas padaku.

Tapi…

Tugasku pun tak segamblang abdi dan dewa dewi lainnya. Dewi Supraba hanya memintaku turun ke bumi dan hidup layaknya manusia biasa. Namun, Ia memintaku melaporkan semuanya pada Bang Wiro, keturunan kesekian dari Wiro Sableng salah satu tokoh legenda yang dulu sekali pernah saling membantu dengan Dewi Supraba. Yang kutahu, Bang Wiro sampai sekarang masih memiliki kapak sakti yang katanya dulu didapatkan dengan bantuan dari Dewi Supraba melalui Arjuna, suami sang dewi. Hmm…

Apapun itu aku tetap bersyukur sang dewi masih memberikanku tugas ini. Bukankah hidup ini berarti ketika hidup kita bermanfaat setidaknya bagi diri sendiri? Terlebih jika bermanfaat untuk orang lain. Ah. Indahnya hidup ini πŸ™‚

Oh iya! Kali ini aku turun di sebuah kota kecil yang dulu pernah aku sambangi yaitu Yogyakarta. Kota ini telah banyak berubah, meski inti dan nafasnya masih lah seperti yang kukenal dulu. Hanya saja, tiada lagi Pembayun yang menari dengan cantik dan membuat Ki Ageng Mangir Wanabaya terpesona hingga terperdaya. Meski begitu, kudengar di Bangsal Kasatriyan banyak gadis belia menari dengan anggunnya. Kabarnya aku bisa melihatnya (atau jika beruntung ikut menari bersama) setiap hari ketujuh! Ah. Aku tak sabar menanti hari ketujuh, atau yang sering disebut orang di sekitar sini sebagai hari Minggu atau Ahad.

Jadi, hari keenam ini sebagai hari pertamaku bertugas di periode ini akan kugunakan untuk beristirahat saja. Toh, aku sudah menemukan gadis yang tepat untuk kuikuti selama tiga puluh satu hari. Semoga gadis ini tak terganggu dengan kehadiranku, ya? Toh, aku justru akan membantunya ketika Ia menghadapi serangkaian nestapa. Tapi, semoga saja sih tidak. Aku lebih ingin menikmati tiga puluh satu hariku di sebagian kecil bumi bernama Yogyakarta ini dengan bahagia.

Bang Wiro…

Sang Dewi Supraba…

Siap menerima 30 ceritaku di dunia?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s