Fisipol Art Days 2015: Good Place to Measure Your ‘Level of Kekinian’

Wohow! Selamat datang di Tahun 2016! Di bulan Maret ini, akhirnya berhasil menyapa lagi readers yang mungkin udah lumutan :”) Maafkan aku :’) But, I’m not going to waste your time, buddies! Akhirnya setelah sekian lama cuma kepikiran dan kepengen, sekarang kesampaian juga buat ngebahas salah satu pameran seni kontemporer yang diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswa FISIPOL UGM untuk yang pertama kalinya. And you have to know guys, I’m super excited!

Fisipol Art Days 2015 digelar di selasar gedung BC, Kampus 1 (Bulaksumur) Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Acara ini digelar beberapa hari, bertepatan dengan kegiatan Kampung Sospol dalam rangka Dies Natalis FISIPOL UGM yang ke 60. Fisipol Art Days 2015 ini mengambil tema “Kekinian” dan memiliki serangkaian acara selain pameran seni kontemporer berupa foto, lukisan, audio, audio visual, dan beberapa instalasi. Diantaranya adalah acara malam Sastra, dan beberapa acara lain seperti penampilan teater dan musisi-musisi indie atau lokal yang entahlah aku tak terlalu tahu karena aku gak begitu concern ke musik lokal. Hehe. Maafken.

Hal pertama yang aku temukan waktu dateng ke Fisipol Art Days 2015 sendirian (iya sendirian, sendirian di kampus sendiri, sudah biasa~~) itu adalah sesuai banget sama tema. Yap. Ngeliat beberapa karya yang terpajang disini sangat mempertontonkan hal yang ‘kekinian’. Bahkan beberapa karya bisa jadi “tolok ukur” seberapa kekinian kah kamu? #eaa. Dalam tulisan kali ini aku bakalan bahas beberapa karya yang cukup menarik versiku sehingga membuatku ingin mengomentarinya #eaa (lagi).

Hal pertama yang kulihat adalah kaos karyanya Dwiki Aprinaldi x Crashge Corp. Sayangnya lupa ngefoto karya Dwiki. Maafken bro. Aku suka cara Dwiki expressed “kekinian” dengan kaos bergambar band indie itu. For me, anak hits dan kekinian gak bisa diukur dengan dia suka musik EDM (yang—i dunno who the hell said that but—kini didaulat jadi musik kekinian) aja. Banyak anak yang akhirnya “maksa” suka sama band-band indie biar dicap alias dilabelin kekinian, unik, dan artistik. Kasusnya sama kayak fans-fans Kpop karbitan yang tadinya fansnya Armada dan Wali atau Kangen Band sekalian terus tiba-tiba memuja-muja EXO, BTS, Big Bang, Super Junior, etc; atau anak-anak yang tadinya playlist-nya dangdut koplo, Serra, dangdut Pantura atau sejenisnya terus tiba-tiba jadi Calvin Harris, Zedd, atau Avicii. So, shitty.

20151216_122433

Next, ada karya Rasyid Agam F berjudul The Myth of Sisyphone yang awalnya aku gak paham itu maksudnya apa. Untung ada penjelasan karyanya. That’s a life saver. Dan setelah baca penjelasan karyanya, damn that’s good. Suka banget sama caranya mengumpamakan manusia sebagai seorang Sisifus. Karya ini memperlihatkan banget bagaimana gadget can change the Sisyphe’s life. Kritiknya kerasa tapi alus. Gambarannya not bad lah ya… Aku gabisa loh kalo suruh gambar kayak gitu :’)

20151216_122900

Selanjutnya adalah karya dari Bangkit Adikarya. Sebuah instalasi audio berdurasi 2 menit berjudul “Waton/Cocote”. Karya ini mengkritisi tentang musik khususnya EDM alias Electronic Dance Music. Dalam penjelasan karyanya dipertanyakan juga beberapa kritik yang muncul terhadap EDM ini yaitu “Apakah layak musik seperti ini ditampilkan?” dan “Atau memang permintaan pasar yang memaksa musisi dan media untuk mengubah pola pikir seseorang mengenai musik yang sesungguhnya?”

Then, I take a deep breathe to comment this. Aku penggemar EDM. Ya. Penggemar EDM. I’mma such a big fan of EDM things. Dari 2013, saat aku belum kenal siapa itu Calvin Harris, Zedd, atau Avicii. Aku udah nyaman dan suka mendengarkan hasil remix atau original mix song dari Armin van Buuren dengan ASOT-nya, Sandern van Doorn dengan Identity-nya, Nicky Romero dengan Protocol Radio-nya, Hardwell dengan Hardwell on Air-nya, dan Tiesto yang tiap malem minggu diputer di 106.1 Geronimo FM.

Karya ini memuat musik EDM dengan lirik “cocote” sebuah ungkapan bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia sejenis dengan kata-kata “bacot”. Yea. Aku akui kadang lirik di EDM itu gak ‘sebermutu’ lagu indie atau jazz, gak sepuitis disana. Kadang lirik di EDM cuma ngomongin tentang f*cking the bitches, shitty things, and so many dirty talk. But, so what? Banyak juga EDM yang liriknya ga ngomongin gitu juga. Dan lagi, orang menikmati musik kan dari berbagai aspek. EDM bisa juga dinikmati kok, bisa dirasain mana mix yang bagus, mana mix yang jelek. Bisa diliat kok skill seorang remixer, how good they’re giving the drop, mixing the dynamics, playing the emotion, how well they’re playing in high bpm (beats per minute).

Padahal sejujurnya, mas Bangkit mixing sounds di instalasi audio ini cukup keren juga lho. He’s talented enough. Aku jadi sedih melihat beberapa orang menanggapi EDM dengan cukup negatif. Like, some people said that EDM is a rubbish, an ocean of rubbish. Oh My God. Music is not only jazz, slow-rock, rock n roll, hiphop, RnB, blues, and pop. Electronic Dance Music is a music too. And it provides the music for most of dancer in the world. *Wita enggak santai* *maafkan pembela EDM ini guys*

20151216_123141

Next, ada karya yang cukup unik dari Ardhya Anargha yaitu “Social Media in A Nutshell”. Sebuah ilustrasi di atas kertas tentang ‘anak hitz starter pack’ yang terdiri dari vscocam, likes, tongsis, gopro, kamera, sophisticated gadget, dan beberapa pose foto hits seperti foto pake tongsis, selfie di depan pemandangan asique terus update di instagram pakai banyak hashtag, update di path, youtube, dllsb. Yea. Karya ini cukup menggelitik. Hehe. Bisa banget nih jadi alat pengukuran level of kekinian bagi readers semua. Hehe. Anyway, I’m going to tell some ‘pembelaan’. Aku juga update di instagram pake banyak hashtag tapi sebenernya tujuannya cuma dua yaitu bercandaan atau kategorisasi. Ehehe. *peace^^v*20151216_123401

Yang menarik selanjutnya adalah karya Nabila Auliani Ruray berjudul “Aku di Sini untuk Kalian”. Well. Karya dari cat akrilik dan krayon di atas kanvas ini menunjukkan sebuah potret “Generasi Me”. Generasi yang terlihat cukup kekinian dengan egosentrisme dan narsisme yang cukup kental. Karyanya cukup gampang dipahami. Potret seorang gadis dengan belasan mata menatap ke arahnya dan tepukan tangan sudah cukup mewakili. Pemilihan kanvas segi enam-nya juga cukup unik dan menjadi the only question I’ll ask. Kenapa harus segi enam deh? Hehe. Good work. I appreciate.20151216_123453

Satu kata “wow” dan senyuman serta anggukan kepala adalah reaksi pertamaku melihat karya dari Smita Tanaya yang berjudul “Then in the Now”. Lucu aja ngeliatnya. Hehe. Che Guevara, Margaret Tatcher, Martin Luther King, Gadaffi, Mao Zedong, Soekarno, Frida Kahlo, Andy Warhol, dan Kartini dilukis dengan cat minyak di atas kanvas dengan sentuhan terakhir berupa headset dan smartphone. iPhone mostly. Hehe. Suka banget cara kritiknya Smita yang mendefinisikan kekinian sebagai penggunaan teknologi yang berlebihan. Great paint, Smita. Karyanya punya cukup value yang membuatku pengen bawa pulang lukisannya.

20151216_124232

Selanjutnya ada satu karya interaktif yang cukup menarik judulnya adalah “Unfinished Jogja” bikinannya Elfi Husniawati. Elfi mengibaratkan Jogja seperti toples dan kerupuk. Jogja adalah wadah dari kebhinekaan, keindahan, kenikmatan, dan kedamaian. Tapi Jogja juga layaknya kerupuk renyah dimana semua orang berebut buat menikmatinya dan merasa hambar tanpanya. Di karya ini, stiker-stiker tentang harapan kita akan Jogja di masa mendatang jadi semacam ‘kerupuk’ yang bisa kita ambil dan kita pamerkan dengan cara menempelkannya ke papan.

Banyak banget harapan (sekaligus sindiran) yang ada disana misalnya: pohon, rasa aman, ruang baca publik, jogja adem, udara bersih, bebas macet, parkiran yang tertib, tanah, ruang terbuka hijau, bebas banjir, transportasi publik tepat waktu, transparansi pemerintah, sampai mall, baliho, apartemen, lapangan konser, dan masih banyak lagi. Karya ini cukup menarik, karena memberikan ruang yang seimbang bagi kita buat berharap sekaligus nyindir tanpa keributan. Hehe. Suka banget deh sama idenya. Good job!

Sejauh ini dalam ingatanku #tsah, tujuh karya ini yang paling aku inget dan cukup menarik. Mereka masih dalam koridor tema ‘kekinian’ tapi mereka punya nafasnya sendiri-sendiri dalam menyampaikan apa itu kekinian. Ada yang memaknai kekinian dengan positif tapi ada juga yang ngasih warning kalo too much ‘kekinian’ will kill your attitude and empathy. Ngeliat karya-karya itu rasanya bikin kita jadi ngaca buat ngeliat deep inside ourself seberapa ‘kekinian’ sih kita? Udah ngerugiin lingkungan apa masih sah-sah aja sih tingkat kekinian kita?

So, I’d like to say, congratulations for Fisipol Art Days 2015: Kekinian. Cukup sukses menghadirkan karya yang menarik dan bisa bikin aku tertarik ngebahas meskipun udah telat banget. HAHAHA. Ditunggu yaa buat Fisipol Art Days 2016!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s