D-14: Seni Tari Klasik Gaya Yogyakarta dan Falsafahnya (Part 1)

Halo!

Kali ini, aku mau berbagi sesuai dengan pesanan salah satu temenku yaitu Rizal. Kebetulan emang udah dari lama pengen share  ini tapi belum kesampaian. Hari ini aku  bakal ngomongin tentang seni tari klasik gaya Yogyakarta dan beberapa falsafah yang terkandung di dalamnya. Karena banyak banget ini kayaknya bakalan dibagi menjadi beberapa bagian…

Kata orang tak kenal maka tak sayang. So, sebelum masuk dan ngomongin tentang  falsafahnya, ada baiknya kita kenalan dulu sama seni tari klasik gaya Yogyakarta atau yang sering disebut Joged Mataram. Seni tari, menurut Soedarsono merupakan ekspresi jiwa manusia yang dituangkan dalam gerak ritmis yang indah. Sementara, tari klasik gaya Yogyakarta yang bersumber dari Kraton Yogyakarta.

image

Tari Sari Sumekar dg pola lantai menyerupai bedhaya

Menurut Suryobrongto, tari klasik gaya Yogyakarta adalah tari yang sifatnya abstrak–simbolis. Dalam perkembangan dari abad ke abad, terciptalah suatu filsafat tari yang menjadi intisari dalam tari klasik Gaya Yogyakarta yang spesifik. Spesifikasi dalam seni tari klasik Gaya Yogyakarta adalah ekspresi atau penjiwaan. Setiap gerak dan sikap akan lebih hidup, dan berisi, atau ekspresinya lebih intens, sehingga seni tari klasik Gaya Yogyakarta ini seringkali disebut seni kebatinan.

Seni kebatinan inilah yang dinamakan “Joged Mataram”. Istilah ini diambil dari dari istilah yang diberikan seorang guru tari yang terkemuka yaitu: R. P. Rio Kertatmodjo. Jadi, istilah tari klasik gaya Yogyakarta adalah tekniknya, sementara istilah Joged Mataram adalah isi atau jiwanya. Keduanya saling membutuhkan dan sama-sama penting, karena tanpa salah satunya, akan  timbul kepincangan.

Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang berjiwa Joged Mataram ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755 – 1792). Beliau mencipta tari klasik Gaya Yogyakarta ini dalam suasana perang. Sehingga, tari Gaya Yogyakarta disiplinnya sangat keras ala militer, pedoman dan peraturannya mengikat erat. Sehingga tari Gaya Yogyakarta ini dianggap sebagai suatu kesenian yang amat berat dan sukar dipelajari. Namun, tari klasik gaya Yogyakarta sebenarnya sangat bermanfaat untuk melatih kedisiplinan.

Nah, setelah kita kenal dengan sejarah singkat tari klasik gaya Yogyakarta dan beberapa hal penting terkait itu, let’s start about the philosophy. Tapi mungkin bakal belum masuk ke detail geraknya. Kita bakal bicara tentang keempat unsur yang menjadi dasar penjiwaan dalam seseorang menari klasik gaya Yogyakarta dan ketiga elemen dasar dalam tari yang digunakan untuk menilai sebuah penampilan tari klasik gaya Yogyakarta.

Joged Mataram terdiri dari 4 (empat) unsur yaitu: Sewiji, Greged, Sengguh, dan Ora Mingkuh. Dalam seni tari klasik Gaya Yogyakarta, untuk mencapai penjiwaan yang utuh, dibutuhkan konsentrasi yang bulat (sewiji), yaitu memusatkan segala pikiran dan potensinya semaksimal mungkin. Kemudian, disalurkan dalam gerak yang dikendalikan secara sempurna untuk menghindari kekasaran, namun tetap bertenaga (greged). Selanjutnya, penari harus meyakini dan percaya kepada kemampuan dirinya sendiri (sengguh), namun harus dikendalikan agar tidak menjurus ke kesombongan dan dalam keadaan apapun, dia tidak akan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang penari, sehingga memiliki sifat pantang mundur (ora mingkuh).

Keempat elemen tersebut jika dikaji lebih dalam sangat erat dengan falsafah kehidupan manusia. Dalam menjalankan segala aktivitas sehari-hari, manusia harus memiliki keempat sifat tersebut—sewiji, greged, sengguh, ora mingkuh. Dalam beraktivitas seseorang harus memusatkan konsentrasi dan effort semaksimal mungkin (sewiji), selain itu harus pula menjalani aktivitasnya dengan semangat dan tekad kuat namun tidak berlebihan (greged).
Setelah berkonsentrasi penuh dan bersemangat, seseorang haruslah percaya diri (sengguh) karena tanpa kepercayaan diri, segala usaha dan semangat seseorang tak akan membuahkan hasil yang baik. Namun, harus diingat, segala semangat dan percaya diri itu harus dikendalikan agar tidak menjadi kesombongan, sehingga berujung pada sifat pantang mundur (ora mingkuh). Jika keempat sifat tersebut bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita bisa mendapat hasil yang maksimal.

Selanjutnya dalam seni tari klasik Gaya Yogyakarta, terdapat 3 elemen atau unsur yang sangat penting untuk menilai suatu penampilan yaitu: Wiraga, Wirama, dan Wirasa. Wiraga merupakan penilaian terhadap ketepatan gerak dengan aturan – aturan yang ada dalam seni tari klasik Gaya Yogyakarta. Wirama merupakan penilaian terhadap ketepatan gerak dengan iringan yang digunakan, berupa pas atau tidaknya gerakan dengan musik sesuai dengan aturan atau tidak. Sementara, Wirasa adalah ekspresi yang ditunjukkan penari. Ekspresi dalam seni tari klasik Gaya Yogyakarta haruslah dari dalam hati, tidak dapat dibuat – buat seperti dalam tari kreasi baru.

Ketiganya membentuk satu kesatuan yang harmonis dan menyenangkan untuk dinikmati. Tanpa harmonisasi antara ketiganya, sebuah penampilan akan timpang. Begitupun dalam kehidupan manusia. Wiraga, Wirama, dan Wirasa dalam kehidupan sehari-hari biasanya aku umpamakan sebagai perilaku, kata-kata, dan perasaan seseorang. Dalam hidup, perilaku seseorang harus sesuai dengan norma-norma sosial dan moral yang ada di masyarakat. Wirama layaknya kata-kata. Ucapan seseorang harus sesuai dengan perilakunya, sehingga sesuai pula dengan norma di masyarakat. Sementara wirasa layaknya perasaan, perasaan merupakan hal paling jujur sehingga ekspresinya juga tak boleh dibuat-buat.

Ketika terdapat harmonisasi antara perilaku-ucapan-perasaan, maka seseorang akan menjadi manusia yang berkualitas pula. Perilaku dan ucapan yang sesuai dengan norma berpadu dengan perasaan yang selalu diasah dan diekspresikan secara jujur akan menciptakan manusia yang bernilai baik. Setidaknya jika kita berusaha mencapainya, kita sudah berusaha menjadi orang yang baik, kan?

So, that’s the first part.
Meski kelihatannya tari klasik gaya Yogyakarta lambat dan mmembosankan…
Meski kelihatannya tari klasik gaya Yogyakarta hanyalah sebuah tarian, hanya sebuah kesenian yang hidup di masyarakat…
Ternyata banyak falsafah kehidupan dan manfaatnya kan?

Still hesitate to learn about Tari Klasik Gaya Yogyakarta?
😉

Iklan

2 thoughts on “D-14: Seni Tari Klasik Gaya Yogyakarta dan Falsafahnya (Part 1)

  1. Sugoii… berarti tarian sakjane merangkum/menyarikan kehidupan wit? dilihat dari unsur-unsurnya sih… kemudian dipentaskan dan berharap orang-orang dapat ‘tontonan’ dan ‘tuntunan’ juga.. hehe gomen nasai nek salah 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s