D-10: Ironi Trend Indonesia Masa Kini

Tulisan ini terinspirasi dari kuliah pengganti Teori Komunikasi tadi pagi…

Mbak Hermin, salah satu dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, pada kuliahnya hari ini membahas tentang Cultural Studies dan Media Ecology Theory. Ketika membahas Cultural Studies, beliau menyelipkan sebuah cerita yang membuatku merasa cukup miris.

Menurut beliau, ketika kemarin beliau bertandang ke Jakarta dalam sebuah diskusi bersama beberapa awak media, beliau mendapat sebuah fakta yang cukup menyedihkan bagi saya. Berbicara mengenai dunia pertelevisian Indonesia, bukan hal yang mengejutkan bila rating menjadi dewa. Bahkan di negara maju sekaliber Korea Selatan, rating tetap menjadi suatu patokan utama dalam penilaian seberapa suksesnya sebuah program siaran televisi. Namun, fenomena di Indonesia menunjukkan gejala kelebayan, dimana rating menjadi dewa yang diagung-agungkan sekaligus hantu yang membayang-bayangi para program director sampai ketakutan setiap pagi. Bayangkan, rating di masa kini dapat di-update setiap detiknya. Setiap perpindahan channel yang dilakukan oleh publik terekam satelit yang langsung mengabarkan pada orang-orang di balik layar seberapa sukses kah tayangan televisi yang mereka produksi.

Berdasarkan dewa hantu bernama rating ini pula, terlihat lah trend masyarakat Indonesia yang sekarang sedang berkembang. Menurut cerita beliau juga, saat ini masyarakat Indonesia nampaknya sedang gandrung pada program televisi bertema dangdut. What a pity. Berdasar cerita mbak Hermin, program siaran berita baik dari TVOne atau MetroTV sama-sama mengalami penurunan market share yang cukup signifikan. Sementara program idol hunt bertema dangdut semacam D’Academy sedang melambung tinggi, membuat Indosiar–stasiun televisi yang menayangkannya kipas-kipas jumawa sementara MNCTv yang branding awalnya televisi dangdut lantas ketar-ketir melihat pesaingnya yang semakin menggila.

Saya?
Cuma bisa elus dada melihat fenomena ini…

Saya pribadi memang tak suka genre musik dangdut. Meski katanya dangdut itu musik yang merakyat, saya tetap tidak suka. Mau saya dibilang sok elite saya juga tak peduli, namanya juga selera. Saya pribadi kurang suka dengan musik dangdut, baik dangdut lawas yang legendaris macam lagu-lagunya Rhoma Irama, Inul Daratista, atau siapalah penyanyi-penyanyin lawas lainnya; apalagi dengan dangdut ala ala semi-koplo yang menjamur macam lagu Pusing Pala Barbie (yang menurut saya menjiplak aransemen lagu All About That Bass dari Megan Trainor terlepas dari sang penyanyi yang menyangkalnya habis-habisan), Goyang Dumang, Sakitnya Tuh Disini, and all of those song that I don’t give a fvck. Rasa-rasanya gemas mendengar lagu-lagu sejenis yang tersebar sporadis di hampir semua stasiun televisi demi dewa hantu bernama rating itu tadi.

Kasihan ya Indonesia…

Tapi, berdasarkan testimoni dari Ibu saya sendiri, D’Academy memang menyuguhkan hiburan tersendiri. Peserta dan presenternya kadang mengundang tawa, lumayan katanya jadi hiburan kala suntuk bekerja. Ya meski kata mas Bondan (salah satu kakak tingkat saya) yang fans D’A garis keras dalam D’Academy tidak pernah membawakan dangdut ala ala yang kekinian. Terlepas dari fakta bahwa Ibu saya juga tak menikmati dangdut, menurut beliau karena teman-temannya di tempat kerja suka acara itu yaudah ikut nonton aja.

Situasi ini rasa-rasanya nyerempet juga ke satu teori tentang media yang minggu lalu dibahas pula dalam kelas. Entah benar atau tidak bayangan saya, wallahu alam. Spiral of silence theory. Sebuah teori dimana media menjadi semacam penentu suara mayoritas yang dominan atau katakanlah trend. Sehingga, ketika orang-orang memiliki suara yang berlawanan dengan trend atau mayoritas yang dikonstruksikan oleh media, mereka jadi bungkam dan batal speak out karena takut terasing. Teralienasi. Ujung-ujungnya terjadi pengarus-utamaan yang semakin menggila.

Dan itulah realita di Indonesia.
Meski (katanya) manusianya multi-kultural dan beraneka jenisnya, ternyata kemakan juga oleh pengarus-utamaan trend.
Coba aja… Satu doyan kpop, semua doyan kpop… Satu doyan EDM semua doyan EDM… Satu doyan akik semua doyan akik… Satu doyan gelombang cinta semua doyan gelombang cinta…
Termasuk ini nih…
Dari yang dulu berlomba-lomba nonton berita di televisi, sekarang berlomba-lomba nonton dangdutan. Kan ironi…

Pertanyaan saya sederhana…
Katanya kita hidup di era serba termediasi?
Kapan ya kira-kira masyarakat Indonesia bisa literate terhadap media dan punya variasi selera?

*ps
Menerima kritik dan saran, silakan japri atau comment
Maaf kalo masih banyak salahnya. Kita sama-sama belajar (Madrim, 2015) :v

Iklan

2 thoughts on “D-10: Ironi Trend Indonesia Masa Kini

  1. Memang menarik mba fenomena ini. saya pribadi tidak mendiskreditkan orang yang suka dangdut, itu masalah selera, namun banyak yang ‘dangdut’nya hanya karena tren. Lagi2 ujung2nya ya tren dan rating. Bagi saya seniman yang tetap konsisten berkarya di bidangnya itu yang patut diapresiasi. Saya pribadi orang yang melihat konten di atas rating, dan itu yang saya sayangkan dari televisi sekarang. Mungkin subjektif saya saja, tapi bagi saya banyak program yang digandrungi sekarang justru program yang kurang mendidik dan kurang berisi. Parahnya lagi kalau sampai program yang justru berisi menjadi sepi peminat dan sulit bertahan ditengah gempuran rating ini. Nice sharing.

    • Memang semua kembali pada selera juga sih. Dan sayangnya memang saat ini dunia broadcasting menjadi ladang bisnis, seolah lupa bahwa lembaga penyiaran juga memiliki fungsi sosial πŸ™‚ Semua kembali mendewakan rating dan melupakan kualitas konten. Terima kasih mas untuk responnya πŸ™‚
      Salam sukses…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s