0

D-12: Anti Kapak Bang Wiro

Karena saya anti kapak bang Wiro…

Malam ini saya cuma mau laporan dikit…

Vakum sebentar yaa, lagi sibuk nonton Wayang Wong…
Next day ku kabari info lengkapnya deh 😉

Regards,

Erwita

Iklan
0

D-11: Malam Minggu Syahdu

Aku menyadari tak banyak waktuku untuk Ibu…

Yap. Kuliah dan kegiatan kampus lainnya benar-benar menyita waktuku. Panitia ini itu, kumpul ini itu. Tak banyak waktu yang kuhabiskan bersama keluargaku. Padahal karena siapa coba aku bisa sampai kuliah di kampus (yang katanya) favorit ini? Keluargaku lah. That’s why family is my first priority.

Jadi, ceritanya malam ini kuabaikan semua ajakan nongki *macak banyak yang ngajak* dan aku memilih di rumah. Selain karena lagi bokek karena tanggal tua, aku bisa sekali quality time sama Ibuku.

Ga perlu jauh-jauh pergi, ribet-ribet dandan, dan keluar duit banyak. Cukup bikin sandwich ala ala yang cuma bermodal roti tawar, sosis, saos, sama mayonnaise plus bikin kopi gooday anget. Sembari duduk-duduk di pendopo rumah dan bersantai bersama, sembari tetep bersosial media di sela-sela canda tawa. Asik kan? Rumah udah berasa kafe aja :3

Anyway…
Meskipun kadang suka iri sama anak kos yang bebas mengatur jadwal pergi-pergi, namun aku yakin anak kos juga iri sama situasiku sekarang ini…
Yakin lah, pasti sekarang ini terus pada baper dan kangen mama di rumah kan? Hayo hayo :3
Maaf ya aku mengen-mengeni :3

Selamat bermalam minggu syahdu :))

2

D-10: Ironi Trend Indonesia Masa Kini

Tulisan ini terinspirasi dari kuliah pengganti Teori Komunikasi tadi pagi…

Mbak Hermin, salah satu dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, pada kuliahnya hari ini membahas tentang Cultural Studies dan Media Ecology Theory. Ketika membahas Cultural Studies, beliau menyelipkan sebuah cerita yang membuatku merasa cukup miris.

Menurut beliau, ketika kemarin beliau bertandang ke Jakarta dalam sebuah diskusi bersama beberapa awak media, beliau mendapat sebuah fakta yang cukup menyedihkan bagi saya. Berbicara mengenai dunia pertelevisian Indonesia, bukan hal yang mengejutkan bila rating menjadi dewa. Bahkan di negara maju sekaliber Korea Selatan, rating tetap menjadi suatu patokan utama dalam penilaian seberapa suksesnya sebuah program siaran televisi. Namun, fenomena di Indonesia menunjukkan gejala kelebayan, dimana rating menjadi dewa yang diagung-agungkan sekaligus hantu yang membayang-bayangi para program director sampai ketakutan setiap pagi. Bayangkan, rating di masa kini dapat di-update setiap detiknya. Setiap perpindahan channel yang dilakukan oleh publik terekam satelit yang langsung mengabarkan pada orang-orang di balik layar seberapa sukses kah tayangan televisi yang mereka produksi.

Berdasarkan dewa hantu bernama rating ini pula, terlihat lah trend masyarakat Indonesia yang sekarang sedang berkembang. Menurut cerita beliau juga, saat ini masyarakat Indonesia nampaknya sedang gandrung pada program televisi bertema dangdut. What a pity. Berdasar cerita mbak Hermin, program siaran berita baik dari TVOne atau MetroTV sama-sama mengalami penurunan market share yang cukup signifikan. Sementara program idol hunt bertema dangdut semacam D’Academy sedang melambung tinggi, membuat Indosiar–stasiun televisi yang menayangkannya kipas-kipas jumawa sementara MNCTv yang branding awalnya televisi dangdut lantas ketar-ketir melihat pesaingnya yang semakin menggila.

Saya?
Cuma bisa elus dada melihat fenomena ini…

Saya pribadi memang tak suka genre musik dangdut. Meski katanya dangdut itu musik yang merakyat, saya tetap tidak suka. Mau saya dibilang sok elite saya juga tak peduli, namanya juga selera. Saya pribadi kurang suka dengan musik dangdut, baik dangdut lawas yang legendaris macam lagu-lagunya Rhoma Irama, Inul Daratista, atau siapalah penyanyi-penyanyin lawas lainnya; apalagi dengan dangdut ala ala semi-koplo yang menjamur macam lagu Pusing Pala Barbie (yang menurut saya menjiplak aransemen lagu All About That Bass dari Megan Trainor terlepas dari sang penyanyi yang menyangkalnya habis-habisan), Goyang Dumang, Sakitnya Tuh Disini, and all of those song that I don’t give a fvck. Rasa-rasanya gemas mendengar lagu-lagu sejenis yang tersebar sporadis di hampir semua stasiun televisi demi dewa hantu bernama rating itu tadi.

Kasihan ya Indonesia…

Tapi, berdasarkan testimoni dari Ibu saya sendiri, D’Academy memang menyuguhkan hiburan tersendiri. Peserta dan presenternya kadang mengundang tawa, lumayan katanya jadi hiburan kala suntuk bekerja. Ya meski kata mas Bondan (salah satu kakak tingkat saya) yang fans D’A garis keras dalam D’Academy tidak pernah membawakan dangdut ala ala yang kekinian. Terlepas dari fakta bahwa Ibu saya juga tak menikmati dangdut, menurut beliau karena teman-temannya di tempat kerja suka acara itu yaudah ikut nonton aja.

Situasi ini rasa-rasanya nyerempet juga ke satu teori tentang media yang minggu lalu dibahas pula dalam kelas. Entah benar atau tidak bayangan saya, wallahu alam. Spiral of silence theory. Sebuah teori dimana media menjadi semacam penentu suara mayoritas yang dominan atau katakanlah trend. Sehingga, ketika orang-orang memiliki suara yang berlawanan dengan trend atau mayoritas yang dikonstruksikan oleh media, mereka jadi bungkam dan batal speak out karena takut terasing. Teralienasi. Ujung-ujungnya terjadi pengarus-utamaan yang semakin menggila.

Dan itulah realita di Indonesia.
Meski (katanya) manusianya multi-kultural dan beraneka jenisnya, ternyata kemakan juga oleh pengarus-utamaan trend.
Coba aja… Satu doyan kpop, semua doyan kpop… Satu doyan EDM semua doyan EDM… Satu doyan akik semua doyan akik… Satu doyan gelombang cinta semua doyan gelombang cinta…
Termasuk ini nih…
Dari yang dulu berlomba-lomba nonton berita di televisi, sekarang berlomba-lomba nonton dangdutan. Kan ironi…

Pertanyaan saya sederhana…
Katanya kita hidup di era serba termediasi?
Kapan ya kira-kira masyarakat Indonesia bisa literate terhadap media dan punya variasi selera?

*ps
Menerima kritik dan saran, silakan japri atau comment
Maaf kalo masih banyak salahnya. Kita sama-sama belajar (Madrim, 2015) :v

0

D-9: Dek… Adek…

Dek… Adek…
Dulu inget nggak?
Waktu itu kamu gendut sekali…
Dengan rambutmu yang tegak lurus dengan kepalamu…
Dan tangismu yang selalu pecah saat kita bonceng ojek, masuk ke rumah baru, atau ketemu orang baru…

Dek… Adek…
Dulu inget nggak?
Waktu itu kamu barusan bisa berjalan, sementara aku sudah berlari…
Waktu itu aku sengaja nyuruh kamu ngejar-ngejar tikus, sampai jatuh bangun dan aku dimarahi Ibuk…

Dek… Adek…
Dulu inget nggak?
Waktu kamu TK, kamu selalu cerita apapun ke aku…
Sampai-sampai kamu galau mau ngasih jepet biru hadiah jajanan itu ke aku atau temen masa TKmu yang tiap kali jalan-jalan pagi selalu kamu gandeng…

Dek… Adek…
Dulu inget nggak?
Waktu masih kecil banget, kamu mau-mau aja tak suruh pake baju renangku yang warna item-ijo terus nari-nari ala ballerina

Dek… Adek…
Inget nggak?
Betapa aku bangga karena di setiap lomba tari, kamu selalu jadi juara 1 kategori Tari Putra tak peduli jenjangnya apa…
Betapa aku bangga karena bahkan kamu udah bepergian ke negeri Cina secara gratis karena menari pula…
Meski tak jarang aku nangis gara2 berantem sama kamu, cuma gara-gara rebutan remote tv, makanan, bahkan piring kesayangan…

Dek… Adek…
Ciye sekarang udah besar…
Ciye yang besok 5 Juni udah 17 tahun…
Ciye yang sekarang udah lebih tinggi dari aku…
Ciye yang sekarang dikira lebih tua dari aku…

Dek… Adek…
Tak terasa kamu tumbuh begitu cepat
Sejahat apapun aku sama kamu
Sekesel apapun aku sama kamu
Secuek apapun aku sama kamu

Kamu tetap adek kesayanganku…
You’ll always be my little brother

Jangan nakal sama Ibuk…
Jangan pernah juga nge-php-in cewek, meski mbak tau di sekolahan adek paling ganteng…
Jangan lupa juga tagih aku nraktir ayam geprek Bu Rum… Jangan mager kayak aku…

Salam sayang,

0

D-8: Yaudah Seadanya

Halo~

Sudah seminggu lebih ikut perhelatan #31HariMenulis dan cukup bahagia karena nggak pernah kena denda. Yey.

Aslinya udah nyiapin tulisan yang asik buat malem ini. Tapi koneksi bapuk merusak segalanya. Belum lagi serangan MPS yang membabi buta… Yaudah sih ya. Yaudah lah ya. Seadanya.

Jadi keingetan sama temenku yang request tentang falsafah Tari Klasik Gaya Yogyakarta ke aku. Oke deh. Semoga saya nggak terlalu mager buat menuliskannya.

Malem ini seadanya dulu ya…

Salam anti-kapak-Bang-Wiro :*

0

D-7: Puncak Tertinggi dari Sebuah Cinta Adalah Kerelaan

Terima kasih, malam puncak Etnika Fest: Elegi Sang Singo Barong, karena sudah membuat saya baper…

Malam ini, aku dan beberapa temanku pergi ke Taman Budaya Yogyakarta untuk melihat acara ini…
Sebuah drama tentang legenda terciptanya Reog Ponorogo.
Sebuah cerita antara cinta Dewi Sanggalangit dari Kediri, Raja Singo Barong dari Lodhaya, dan Prabu Kelana Sewandana dari Bantarangin.
Sebuah cerita yang berakhir tragis bagi Singo Barong yang raganya harus bersatu dengan merak…
Demi cintanya, demi Dewi Sanggalangit pujaannya…

Bagi sang Singo Barong…
Puncak tertinggi dari sebuah cinta adalah kerelaan…

Sulit memang.
Namun, begitu lah adanya…
Haruskah ku menjadi layaknya Singo Barong?
Yang mencapai puncak tertinggi sebuah cinta dengan kerelaan? Merelakanmu dalam rengkuhan takdirmu? Tanpa kutahu entah kemana kau bermuara?

Entah lah…
Ku hanya bisa berdoa…
Semoga kerelaanku akan takdirmu berujung pada takdir yang sama denganku…

Sekali lagi, terima kasih fakultas tetangga, Fakultas Ilmu Budaya UGM atas dramanya, Elegi Sang Singo Barong yang baper tiada tara….

Salam baper :’)

0

D-6: When My Two Favorite Dishes Served in A Bowl

Let’s say kamu suka banget sama pancake durian dan vanilla ice cream
Terus tiba-tiba di suatu cafe ada menu pancake durian with vanilla ice cream
Gimana coba perasaanmu? :3

Nah, this is what I feel. Jadi ceritanya aku suka banget sama kpop jauh-jauh hari sebelum cabe dan k*mc*l ikut-ikutan doyan kpop. Selain itu, dari jaman-jaman SMA kelas XI akhir mau kelas XII entah dari mana datengnya, aku suka banget sama EDM. Tau EDM kan? Electronic Dance Music. Tau kaan? Yaa gampangnya sih lagu hacep…

Ketika lagi suka-sukanya sama EDM, intensitasku menikmati kpop semacam berkurang gitu. Apalagi kpop-kpop dengan jenis musik ballad gitu biasanya ga aku dengerin. Kebanyakan aku cari yang lagunya rada electric pop, atau rada hip hop, atau seenggaknya yang up-beat tempo song gitulaah. Bahkan aku suka males sama boy or girl-band yang gak ada dance yang menarik.

But…
Welcome to the K-EDM era!!

Aku shock bercampur gembira banget pas denger SM Entertainment ngeluarin lagu Catch Me If You Can buat Girls Generation. Dance mereka asik banget. Terus entah kenapa part nyanyi tiap member jadi lebih banyak gitu, mungkin karena hengkangnya Jessica yang selalu ngambil part nyanyi super-banyak kali ya. Dan yang bikin aku makin bahagia, musik dari Catch Me If You Can adalah…. EDM. WUOHOOOOOOW!! 😍😍😍 대박~~~~~~

Nggak cuma Girls Generation, tetiba SHINee yang lamaaaa banget vakum akhirnya come back dengan lagunya yang berjudul View. And you really have to know… View itu musiknya juga EDM banget!!! Aaaaaak cinta deh ❤

Ya gini deh rasanya…
Feels like I have two of my favorite dishes in a bowl!!
Kpop+EDM dalam satu lagu… Ah senangnya tak terlukiskan dengan kata-kata.
Sampe-sampe rasa-rasanya aku semacam dapat kekuatan buat menjalani kehidupan lagi dengan bahagia :’)

Fan-girling kpop and enjoying EDM really bring my life back.
Thank you, SM Entertainment for hitting the EDM!!