4

Dear Daddy~

Maaf ya judulnya sok imut sok kebarat-baratan, abis bingung…

               Baru sadar, sekian tahun malang melintang di dunia maya, but I never talk bout my dad. I always share mom’s story. Mungkin itu karena sejak mengenal media sosial dan dunia maya secara lebih intens aku tinggal bersama Ibu, dan terbilang cukup jarang bertemu Bapak. Ya mungkin gitu ya… Hehe. But now, when he was gone, I’d like to share something bout him…

                Bapak. Nggak tinggi, nggak ganteng, nggak putih. Tapi selalu kumisan. Seseorang yang sudah menyelipkan nama Danu dan Gondo ditengah-tengah nama Erwita dan Hutami. Konon Danu dan Gondo adalah nama kedua eyang buyutku alias eyangnya Bapak. Seseorang yang dulu waktu aku masih playgroup sampe TK di Balikpapan selalu antar aku ke sekolah pakai mobil. Seseorang yang suka banget sama kopi, es jeruk, dan masakan yang namanya buntil. Seseorang yang selalu nganter aku kemana-mana sampai Ibu bisa naik motor setelah kita pindah ke Jogja.

                Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang beliau, karena kami memang tak dekat. Aku cenderung menjadi anak yang paling banyak berselisih paham dengan beliau. Meski konon, waktu bayi aku tak bisa tidur sebelum digendong Bapak. Aku pun semakin tak mengerti apa-apa tentang beliau semenjak 2009, ketika orang tuaku memutuskan untuk berpisah setelah adanya ketidaksesuaian dan expectancy violations akan komitmen dalam berkeluarga #halah #kokjadiTeoriKomunikasi #okesip #abaikan.

                Jujur, aku pernah berada dalam satu masa dimana aku sangat membenci beliau. Aku menyesal menjadi anaknya. Aku tak menghormatinya sama sekali. Aku tak ingin melihatnya, mendengar namanya, atau apapun yang ada hubungannya dengan beliau.  Durhaka banget ya? But, lucky me, I have my mom. Ibuku selalu mengingatkan untuk tak membencinya, meski Bapak bukan siapa-siapa lagi bagi Ibu. Hingga saat aku memasuki tahun kedua masa putih abu-abu, berangsur-angsur rasa benci itu memudar, menghilang.

                Akhir Januari lalu, Bapak sakit keras hingga menginap di ICU selama seminggu dan 3 hari di kamar rawat biasa. Sepuluh hari di rumah sakit, dan akhirnya beliau diangkat semua penyakitnya, meninggalkan dunia untuk selamanya. Sepuluh hari, aku dan adikku bolak-balik dan membantu omku mengurus segala sesuatu yang kami bisa. Sepuluh hari, aku berusaha menebusnya. Meski aku tahu, itu semua tak akan ada artinya.

                Melihat timeline askfm atau instagram dimana beberapa temanku memiliki selfie dengan papa-mamanya sekaligus atau posting foto keluarga lengkap ayah-ibunya; ah aku sudah lama tak merasakan sakit melihat hal seperti itu. Toh sudah 6 tahun aku hanya hidup bertiga—aku, Ibu, dan adikku. Namun, ketika mereka memamerkan fotonya berdua saja dengan ayahnya dengan caption menceritakan ayahnya atau impersonate sang ayah di askfm, barulah aku merasakan sebuah penyesalan. Menyesal karena tak belajar untuk mengenal Bapak lebih jauh.

Dear Daddy,

Forgive your little daughter…

I’m just being so rude all of this time.

And I forgive you too, being so careless to me all of this time.

Now I just can pray for you, Dad…

Wish you’ll have the best place, beside Him, Our Almighty God~

Aamiin.

Iklan