Seharusnya Saya Tahu dan Saya Sadar

                Cie ketemu saya lagi di awal tahun 2015. Pertama-tama, saya ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru 2015 untuk semua pembaca setia blog saya. Hore! Semoga setahun ke depan semua rencana kita bisa sesuai dengan rencana-Nya hingga semua lancar dan aman terkendali. Aamiin. Semoga juga saya bisa menghadirkan blog yg lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja maaf mungkin posting kali ini rada baper (bawa perasaan,-red). Jujur, saya kepingin curhat saja dan semoga Anda berkenan membaca curhat saya #tsah

                Baru-baru ini, saya dapat musibah (lagi). Musibah akhir tahun mungkin. Smartphone saya rusak. Iya. Rusak. Setelah hampir dua tahun menemani aktivitas saya yang gila-gilaan (smartphone saya bisa dibilang emang nggak pernah istirahat—whatsapp, line, twitter, facebook, instagram, askfm, wordpress, browser, BBM dan banyak aplikasi lainnya yang sering saya akses dan menghubungkan orang saya dengan orang-orang baik yang dekat maupun yang jauh), renang di bak mandi sekali, kehujanan berkali-kali, dan kebanting dari berbagai variasi ketinggian berkali-kali, Samsung Galaxy Chat saya menyerah.

                Seumur hidup, saya pernah punya 3 ponsel. Hebatnya—maaf saya mau nyombong sedikit semoga berkenan—tiga kali beli ponsel itu semua berasal dari kocek saya pribadi. Ponsel pertama hasil dari angpau Lebaran, ponsel kedua hasil saya juara 3 Lomba Esai Bahasa Jawa se-Daerah Istimewa Yogyakarta, dan ponsel ketiga saya hasil dari Juara 2 Lomba Tari Klasik Gaya Yogyakarta se-DIY yang diselenggarakan UKM Swagayugama tahun 2012 dan sisa uang saku hasil pergi saya Pertukaran Pelajar ke Ogan Ilir tahun 2012.

         Ponsel pertama saya bermerek Sony Ericsson yang saya lupa serinya berapa. Warnanya sky-blue. Saya beli kelas 6 SD. Waktu itu ponsel macam itu udah lumayan, meski masih kalah sama ponsel teman-teman saya yang berkamera. Tapi Sony Ericsson itu lumayan lah udah berwarna, udah ada game Quadra Pop-nya pula.

                Saya bertahan dengan ponsel itu sampai SMP kelas 8 kalau nggak salah. Antara kelas 8 mau kelas 9 apa ya saya sedikit lupa. Pokoknya ponsel kedua saya itu Nokia 2700 classic. Ponsel candy-bar dengan spec yang minimalis tapi lumayan lah udah berkamera 2MP. Dan itu ponsel low-end paling mendingan yang akhirnya saya putuskan untuk saya beli. Bisa dibilang ponsel Nokia tersebut cukup lama saya pakai. Pernah rusak sekali kemudian saya servis dan saya pakai lagi. Saya cukup kuat dengan ponsel kesayangan saya itu meski kadang mati nyala mati nyala sendiri. Saya pakai ponsel itu sampai SMA.

                Tepatnya ketika kelas 11, sepulangnya saya dari Pertukaran Pelajar, saya udah lelah sama Nokia saya yang hidup enggan mati tak mau itu. Akhirnya, berhubung trend smartphone mulai berkembang di masa itu, saya beli ponsel saya yang kemarin sedang sekarat ini, Samsung Galaxy Chat. Alasannya? Ponsel ini bertipe touch and type alias punya keypad. Maklum, saya masih ndeso-enough buat pakai ponsel yang 100% touchscreen. Selain itu, ini smartphone termurah pada masanya dengan OS Android Ice Cream Sandwich yang sudah keren pada masanya, Maret 2013.

                Galaxy Chat saya ini pernah rusak sekali di tombol on/off waktu saya masih kelas 12 SMA. Untungnya masih dalam masa garansi, jadi saya bawa saja ke Samsung Service Centre di Jogjatronik yang khusus menangani masalah ponsel. Kalau kata teman-teman SMA saya yang pengamat gadget dan beberapa pengguna Samsung juga, kelemahan Samsung memang ada di tombol on/off. Jadi, saya keep calm aja gitu.

                Akhir tahun 2014, smartphone kesayangan saya ini rusak (lagi). Sebelumnya, tepat di saat saya dan teman seangkatan saya, Komunikasi UGM 2014 mengadakan KNP alias Kula Nuwun Party 2014 yaitu 13 Desember 2014, ponsel saya sempat menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Ponsel saya stuck di tulisan “Samsung Galaxy Chat” terus saat saya berusaha menyalakan ponsel. Begitu terus sampai berkali-kali.

                Rasanya? Saya mau mati. Hari itu hari yang sangat sibuk bagi saya dan saya memerlukan banyak koordinasi yang mustahil tercipta tanpa adanya ponsel. Paginya saya ngurus event Lomba Tari dan Karawitan di Museum Dharma Wiratama Yogyakarta, sorenya saya langsung tancap gas ngurus event Kula Nuwun Party tersebut yang diselenggarakan di dekat lapangan softball Lembah Universitas Gadjah Mada. Mana saya bertugas menjadi runner yang harus siap sedia keliling Jogja mencarikan barang-barang yang diperlukan demi lancarnya event KNP.

                Untungnya, ponsel saya yang lovable ini cukup tahu diri untuk tidak rusak di saat genting semacam itu. Alhamdulillah sekali setelah saya diamkan beberapa jam karena saya juga sibuk mengurus ini itu, ponsel saya normal kembali bahkan performanya lebih baik. Alhamdulillah.

                Namun, tepat hari Senin kemarin, di hari kedua hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501 jurusan Surabaya – Singapura dan hari pertama Ujian Akhir Semester pertama saya di bangku kuliah, ponsel saya rusak. Literally rusak. Awalnya adalah saat itu saya lagi asik nonton TV sok-sokan memantau perkembangan pencarian pesawat sambil diselingi nonton Drama Korea yang diputar di salah satu stasiun televisi swasta, terus adik lelaki saya sebel sama saya yang nonton TV, jadilah dia berusaha kepo ponsel saya.

                Sayangnya, saya memasang password di ponsel saya. Jadi, dia tidak bisa mengakses. Dia membawa kabur ponsel saya dan kami kejar-kejaran bak film India. Dia menaruh ponsel saya di atas etalase yang tepat berada di bawah jendela kamarnya. Namun, karena kekuatan seorang lelaki, ponsel saya tak hanya mendarat mulus di etalase saja namun ponsel saya meluncur dan terpaksa force landing di lantai. Kata singkatnya sih jatuh dari etalase setinggi 1,2 meter.

                Awalnya ponsel saya masih bisa dipakai, namun saya merasa ponsel saya lebih lemot. Loading data jadi lebih lama. Dan ketika saya upload foto di instagram, tiba-tiba aplikasi tersebut menutup sendiri, lalu tiba-tiba yang muncul homescreen ponsel saya. Sekitar pukul 19.00, ponsel saya benar-benar rusak. Tiba-tiba mati sendiri. Lalu ketika saya nyalakan lagi-lagi stuck di tulisan “Samsung Galaxy Chat”. Tak lama kemudian ponsel saya mati lagi. Lalu bergetar lagi seolah mau nyala kemudian stuck di tulisan yang sama lalu mati lagi. Lalu bergetar lagi seolah mau nyala, masih stuck di tulisan yang sama lalu mati lagi. Saya masih mencoba kalem.

                Namun, ponsel saya tak kunjung sembuh. Masih begitu-begitu saya. Lama-lama saya juga frustate. Mana data-data di smartphone belum saya back up. Mana kontak di smartphone semua, tidak ada yang di sim card. Saya sudah berupaya apapun untuk menyembuhkan ponsel saya sebisa saya namun nihil. Ya sudah. Mau gimana lagi.

                Akhirnya, saya numpang masang sim card ke ponsel Ibu saya yang kebetulan dual sim. Saya SMS sahabat saya, Dyah Seruni Rizqiana yang entah kenapa jadi dipanggil Qiqi, untuk mengabarkan pada teman-teman Komunikasi UGM 2014 bahwa ponsel saya rusak jadi kalau ada perlu apa-apa SMS saja di nomor ponsel saya yang insyaAllah akan terus menyala. Saya benar-benar tidak bisa mengakses sosial media apapun, karena kebetulan modem saya habis kuotanya dan lama tidak saya isi. Selain itu saya juga lupa nomer dari modem saya, karena kontak nomer modem saya ada di ponsel yang sekarang sedang sekarat ini. Duh, jackpot sekali.

                Selama 24 jam semenjak ponsel beserta sosial media saya meninggal, tidak ada yang menghubungi saya sama sekali. Kecuali teman saya si Surya yang SMS karena menanyakan beberapa galeri seni yang bisa dipakai pameran di daerah dekat rumah saya. Padahal, ceritanya, sekarang ini saya lagi dekat sama seseorang. Pokoknya ada lah yang lagi asik ngobrol sama saya di sosial media. Kabarnya juga, makhluk itu memang ada ‘sesuatu’ sama saya. Tapi, kok, saya ngilang dia nggak nyariin ya? Padahal saya dan dia ada janji mau ke suatu tempat yang keberadaannya limited, cuma sampai besok tanggal 2 Januari 2015. Padahal dia hobinya pulang kampung gitu. Padahal dia yang ngajakin (tapi saya yang nungguin). Kan kampr*t.

                Entah mengapa, musibah kemarin ini saya merasa sangat sedih sekaligus bersyukur. Saya sedih karena data saya lupa saya back up. Saya sedih karena semua kontak saya ada di smartphone sekarat saya. Saya sedih jadi kesulitan berkoordinasi dengan Qiqi untuk memberi surprise sahabat saya lainnya besok di bulan Januari. Saya sedih karena ketinggalan pembicaraan absurd makhluk-makhluk astral di grup Line Komunikasi UGM 2014. Saya sedih karena saya lupa nomer modem saya. Saya sedih karena take home exam saya jadi lumayan terhambat karena nihilnya smartphone yang biasanya saya thetering alias saya colong kuotanya untuk laptop. Saya sedih karena ‘seseorang’ yang katanya ada something itu sama sekali tak mencari saya.

                Namun, saya bersyukur. Setidaknya musibah saya tak lebih besar dari kehilangan nyawa. Musibah saya tak lebih besar dari hilangnya Air Asia QZ 8501. Saya juga senang bisa melakukan challenge dari dua dosen favorit saya untuk tidak ber-sosial-media-ria selama sehari yaitu Cak Budhy Komarul Zaman (dosen Sejarah Sosial Politik Indonesia) dan Bang Ana Nadhya Abrar (dosen Pengantar Ilmu Komunikasi). Saya juga jadi dapat ide untuk salah satu take home exam mata kuliah Dasar-dasar Penulisan yang mengharuskan saya membuat artikel sekitar 5 halaman tentang ‘Media dan Bencana’ atau ‘Bencana Media’ dimana saya akan memilih tentang ‘Bencana Media’ dan menuliskan tentang ketergantungan masyarakat dengan media sosial saat ini yang sebenarnya menjadi sebuah “bencana”.

               Setidaknya musibah saya juga menyadarkan saya satu hal. Mungkin ‘seseorang’ itu tak seperti yang saya bayangkan. Mungkin, dia tak memiliki rasa yang sama seperti yang saya rasakan.  Mungkin selama ini dia berbincang asik dengan saya di sosial media hanya karena tak ingin dianggap sombong atau apa. Mungkin selama ini saya saja yang salah mengartikan berbagai macam hal. Setidaknya, saya bersyukur, saya sekarang tahu, belum ada seseorang yang memang benar-benar mempunyai afeksi untuk saya. Saya sekarang tahu, belum ada seseorang yang tidak bisa hidup tanpa tahu kabar saya. Setidaknya. Dan seharusnya saya tahu dan saya sadar itu dari dulu.

 

PS:

Maafkan kalau tulisan ini sangat random. Maklumilah suasana hati yang kacaunya melebihi saat balonku tinggal empat. Maafkan kalau ujung-ujungnya curhat masalah lelaki lagi. Memang saya saat ini sedang hopeless dan insecure. Sehingga saya harap semoga tahun 2015 ini saya tak se-insecure ini. Semoga next time saya tidak terlalu baper lagi. Sekali lagi, saya minta maaf. Maaf kalau tulisan saya yang berawal dari mengulas ponsel ini berujung pada baper. Sekian. Wassalam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s