Kodratnya Wanita Itu…

                Lemah. Peduli setan dengan anggapan masa kini yang terpengaruh emansipasi wanita yang menyebutkan bahwa wanita itu kuat. Wanita kuat. Memang. Namun bersyarat. Pada hakikatnya, pada kodratnya, wanita itu rapuh, lemah, dan emosional. Sekuat apapun seorang wanita, pada akhirnya di sudut hatinya akan ada titik lemah yang membuat pertahanan baja sekuat apapun akan runtuh.

                Perempuan jadi pemimpin? Bisa. Namun, lihat lah siapa yang ada di belakangnya? Lihat di jajaran orang-orang yang mendukungnya, setidaknya ada satu laki-laki yang berdiri di belakangnya, memberikan dukungan moril bahkan mungkin materiil yang cukup besar. Kartini misalnya. Tokoh emansipasi wanita Indonesia itu juga tetap didukung suaminya yang merupakan seorang lelaki kan? Cut Nyak Dien contohnya. Ia memegang komando pasukan tertinggi memang, namun siapa yang menjadi semangatnya? Suaminya bukan?

                Kalau Anda yang membaca tulisan saya ini seorang wanita, boleh saya tanya, kapan terakhir kali Anda menangis? Saya jamin setidaknya dalam satu bulan seorang wanita akan menitikkan air matanya barang sekali, tak peduli itu air mata bahagia atau berduka. Tetesan air mata itu bukti bahwa wanita sebenarnya rapuh, atau setidaknya emosional. Saking bahagianya sampai menangis, saking sedihnya juga sampai menangis. Atau jangan-jangan Anda termasuk tipikal wanita yang menangis tertahan? Di dalam hati saja?

                Saya mengenal seseorang yang memiliki kehidupan yang bisa dikatakan hampir sempurna. Seorang ibu dengan putra-putrinya yang cukup bisa dibanggakan dan suami seorang akademisi yang profesional. Keuangan berkecukupan, semua ada. Namun, ada kalanya saya melihat beliau nampak sedih. Meski setelah itu beliau kembali ceria. Itu semua karena apa? Dukungan di sekitarnya.

                Ada lagi satu wanita yang menurut saya cukup kuat. Ibu saya. Menjadi orang tua tunggal dan mengurusi saya dan adik saya yang sebesar ini dengan dunia pergaulan kami yang luas dan mengerikan. Bagi saya Ibu saya kuat karena mampu menghandle kami dan memantau serta memahami terus perkembangan psikologis kami. Namun, lagi-lagi kekuatan itu bersyarat. Orang-orang di sekitar Ibu yang membuat beliau kuat. Keluarga besar, sahabat-sahabat beliau, dan semangat beliau membesarkan dan menyaksikan saya dan adik saya sukses, menjadi satu tumpuan tersendiri agar Ibu saya tetap kuat.

                Ibu pernah bercerita tentang orang-orang di era mudanya. Menurut beliau, jaman Ibu muda dulu, laki-laki sangat melindungi wanita. Tidak akan ada laki-laki yang tega membiarkan seorang perempuan pulang sendirian ke rumah atau kos-kosan jika jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 21.00. Jarak tempuh yang jauh tak menjadi masalah, yang penting keselamatan terjamin. Terlebih jika wanita tersebut seseorang yang istimewa bagi si laki-laki. Sekarang? Minta tolong diantar atau dijemput sedikit langsung dikata-katain, dibilang “Itu pacar apa sopir?”

                Dari sisi biologis, seorang wanita memiliki tamu bulanan. Saya yakin semua yang membaca tulisan ini tahu apa itu PMS. Rata-rata, pada masa PMS dan haid di hari pertama dan kedua, seorang wanita akan merasa sakit yang luar biasa di daerah perutnya. Setidaknya, saat PMS akan terjadi sedikit perubahan hormonal yang menyebabkan seorang wanita menjadi sensi luar biasa. Disinilah bukti bahwa sekuat-kuatnya wanita, pasti ada saat dan titik dimana Ia menjadi makhluk yang luar biasa rapuh.

                Selain dari tinjauan sosial dan biologis, ada satu hadist semacam ini:

 Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Tidak akan beruntung kaum yang dipimpim oleh seorang wanita (Riwayat Bukhari dari Abu Bakarah Radhiyallahu’anhu)

            Mungkin bagi teman-teman yang berpikir moderat dan independen akan sangat tidak setuju dengan hadist ini. Toh, Surabaya lebih baik saat dipimpin Bu Risma? But, see? Beliau memimpin juga penuh emosi, lihat saat Walls Ice Cream Day merusak taman kota Surabaya, beliau marah sembari menangis. Itu menunjukkan bahwa hati seorang wanita memang memiliki titik kerapuhan apalagi menyangkut sesuatu yang telah Ia perjuangkan.

            Menurut saya, hadist tersebut hanya menunjukkan bahwa sebenarnya salah satu kriteria pemimpin dalam Islam adalah laki-laki. Mengapa? Ya karena itu tadi. Wanita itu sensitif. Emosi mudah tersulut, dan memiliki sifat dasar rapuh. Pernahkah kita berpikir, mengapa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam? Itu lah kodrat wanita. Dilindungi. Dijaga. Karena wanita adalah perhiasan dunia.

           Jadi, ladies, tak masalah jika suatu saat Anda merasa diri Anda sangat lemah padahal biasanya Anda sangat kuat. Itu manusiawi. Itu wajar. Itu sesuai kodrat kita sebagai seorang wanita. Menangis—kata Ibu saya—memang tidak menyelesaikan masalah. Tapi, menangis juga tidak membuat kita rugi kan? Toh hanya air mata, setetes dua tetes. Yang terpenting setelah meluapkan emosi sesaat tersebut, kita tahu bagaimana problem solving-nya.

                Dan bagi Anda, kaum laki-laki. Berhentilah mengeluh saat pacar Anda meminta Anda mengantarnya larut malam. Anda harusnya bersyukur karena itu berarti pacar Anda sangat mempercayai Anda dengan mempercayakan keselamatannya pada Anda. Meski wanita itu lemah dan membutuhkan dukungan dari seorang pria, seorang pria juga tidak akan pernah ada tanpa seorang wanita. Lihat saja, dibalik pria-pria sukses selalu ada ibu dan atau istri yang mendukung dan mendoakan siang malam.

                 Emansipasi boleh, karena itu memberikan wanita hak-hak yang sama dengan laki-laki. Namun, kembali lagi kodrat adalah kodrat. Sebagai kaum yang melindungi wanita, tak pantas bila laki-laki bersikap acuh, kurang ajar, dan menodai harkat martabat seorang wanita. Dan sebagai kaum yang dilindungi laki-laki, sangat tidak bijaksana jika seorang wanita lantas sewenang-wenang pada lelaki dan menjadikannya pembantu dengan cara bergantung secara berlebihan dan menyuruh ini itu yang sepele.

         Ada baiknya, para wanita mendukung lelakinya dan para lelaki mendukung wanitanya. Toh manusia berdasarkan sifat kodratnya itu monodualis kan? Ya makhluk individu ya makhluk sosial. Setidaknya sifat kodrat manusia monodualis itulah kata Prof Notonagoro yang bisa kita sadari untuk menyeimbangkan kehidupan.

~…~

ps:

– maaf saya hanya bisa menghadirkan tinjauan agama dari segi Islam karena kebetulan saya memeluk agama Islam, takutnya kalau saya mencoba melihat dr perspektif lain justru salah

– tulisan ini seharusnya saya posting semalam, namun batal karena (semoga) tulisan ini cukup bertepatan dengan Hari Ibu Nasional, 22 Desember 2014.

– didedikasikan untuk para Ibu dan wanita yang selama ini sangat kuat, jangan merasa sedih, malu, bahkan hina ketika suatu ketika Anda merasa sangat lemah dan menangis 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s