0

Zona Nyaman Tak Selalu Aman

            “SD, SMP, SMA di Jogja. Kuliah di Jogja lagi. Nggak bosen apa di Jogja terus? Nggak pengen keluar dari zona nyaman gitu? Kapan berkembangnya?” Kira-kira begitu lah komentar teman-teman saya yang memilih menjadi anak rantau, baik yang di Jakarta, Bandung, Surakarta, Surabaya, Malang, dan lain-lain. Anak-anak yang memilih kuliah di Yogyakarta lagi-lagi dianggap tak punya nyali, terus bertahan dan cari aman dengan zona nyaman. Padahal, zona nyaman tak selalu aman.

            Di dunia perkuliahan, persaingan semakin tak terbayangkan. Pesaing pun kadang seseorang yang jauh di luar ekspektasi. Kadang orang yang semula nampak hebat, ternyata hanya biasa-biasa saja. Sementara orang lain yang tampak tak berdaya, ternyata justru memiliki kelebihan yang luar biasa. Saya tak asal bicara. Semua ini saya dapatkan setelah menjalani empat minggu kuliah di kampus ini, Universitas Gadjah Mada.

            Sehingga, bagi teman-teman saya yang berkata bahwa melanjutkan kuliah di Yogyakarta hanya ingin cari aman saja, saya ingin mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak benar. Kuliah di UGM justru menjadi suatu tantangan baru bagi saya. Tantangan untuk bisa bertahan dan berkompetisi lebih baik dengan persaingan dan pesaing yang tak bisa diprediksikan di hutan belantara bernama Universitas Gadjah Mada.

            Selain itu, Yogyakarta yang kaya akan berbagai budaya dan event-event kesenian lagi-lagi menjadi tantangan untuk saya. Event-event kesenian dan komunitas seni yang sudah saya geluti sejak lama kembali menantang saya untuk aktif berkegiatan, aktif di kepanitiaan, aktif di berbagai pementasan, namun tetap bisa membagi waktu dan berkompromi dengan kegiatan akademik. Lagi-lagi, zona nyaman saya yang bernama komunitas kesenian menjadi zona tidak aman bagi saya.

            Jadi, siapa bilang meneruskan kuliah di kota asal—dalam hal ini Yogyakarta—berarti cari aman saja? Tidak. Karena bagi saya, kuliah di Yogyakarta, di UGM pada khususnya justru merupakan langkah terbesar dalam hidup saya, dan menjadi zona paling tidak aman untuk saya. Karena kapan pun selalu ada tantangan dan persaingan tak terbayangkan di depan sana. Karena siapa pun bisa kalah dan menjadi juara. Karena apa pun bisa terjadi di belantara Gadjah Mada.

Sebuah tugas dari mata kuliah Dasar-Dasar Penulisan. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi bahan perenungan~

0

A Letter To You

“Hi, girl…

                First, let me say sorry. Cause maybe, you’ll find the worst letter ever. Actually, I really don’t wanna tell this to you. I’m too shy, and I’m afraid you’ll refuse or laughed at me. But, I can’t. I really can’t. So, forgive me, if I can’t find the right words to tell you about my feelings…

                    I know you know who am I. But, please pretend that you don’t know me. Cause I wanna tell you something crazy. Something that always ruin my day, spin on my head, and come on my dream every night. You’re the prettiest girl in this world after my mom.

                Do you know, girl? I don’t care about your appearance. Long or short hair. Wear veil or not. Got your hair tied or dishevelled. In my eyes, you’re as pretty as a butterfly. I’m just caring about you. Your manner. Your insecurity. Your strong heart. The way you smile, the way you joke, the way you talk, the way you walk. Damn! I’m fascinated.

                You’re like a shining star. But, your light much more bright, when I’m around. Don’t deny. I know it, girl. I saw it on your eyes. So, may I give you extra smile to make your day brighter?

            I know, I’m not a perfect man. I try to be the best for me and my lovely people around me, including you. I have so many dreams, and you have them too. So, can we share our dream together? Cause I think two is better than one.

               I know you’re tired. You walked alone too long. And I’m also tired, waiting for you so long. So, can we walk together right now? Cause I think two is better than one.

                I know you’re tired. I know you need a shoulder to lean on, though you have floor to kneel down. Me too. I need someone lean on at my shoulder. And I wish, you’ll be the one who lean on at mine. Would you?

 

Your admirer who never sent you a bouquet of flower

Your admirer who only can sent you this letter

Your admirer who really want to share the world with you”

 

 

 

I never get that kind of letter.

Altough only once on my 18 years life.

All the words “I love you” became a fake words.

All the words “You’re pretty” became a meaningless words.

Feels like no one loves me a lot with his full-heart.

I really waiting someone who sent me “a letter to you” to me…

Someone that I expected before…