Flashback: First Trip on My Life, Bali!!

Aku udah lupa tanggal pastinya itu kapan, yang jelas saat itu aku duduk di bangku kelas 8 di SMP Negeri 2 Yogyakarta. Hmm kayaknya sih sekitar bulan Juni tahun 2010. Aku dan teman-teman seangkatan mengikuti Study Tour ke Bali. Dan ini adalah first trip on my life. Bener-bener pertama kalinya aku pergi, tanpa orang tua, cuma sama teman-teman, jauh pula. Ya meski ada guru juga sih. Yah pokoknya bagiku ini first trip.

Mulai dari bayar, iyasih dibayarin orang tua tapi nggak semuanya. Aku juga ikut andil dalam membayar alias patungan sama orang tua. Tahun 2010 dengan rombongan 4 bus gede biayanya sekitar Rp625.000,00 dan saat itu aku bawa Rp500.000,00 untuk uang saku, beli oleh-oleh dan sebagainya di sana. Total perginya sih 5 hari, 1 hari perjalanan berangkat, 3 hari di Bali, kemudian 1 hari lagi perjalanan pulang. Dan salah satu hal paling menyenangkannya adalah perjalanan (iyalah soalnya bareng teman-teman hehe).

Waktu kumpul di depan SMPN 2 Yogyakarta, aku kaget. Teman-temanku kayak orang mau pergi lama aja. Jadi ceritanya mereka bawa koper gitu. Beda banget sama aku yang cuma bawa travel bag yang nggak penuh, satu ransel yang nggak penuh dan masih diisi tas pinggang. Kaos aja cuma bawa 5, celana cuma bawa 3. Sampai-sampai nih ya, sahabat-sahabatku yang disekitarku pada bilang gini “Wit serius bawa segitu doang?” dan cowok-cowok pada bilang “Wah Wita bawaannya dikit amat kayak aku” haha.

Seperti yang aku bilang tadi, hal yang paling menyenangkan adalah perjalanan. Seharian di bus bareng sama teman-teman, seru-seruan, nyanyi-nyanyi gak jelas, sampe suara hampir habis. Bercanda-bercandaan, ejek-ejekan, sampe curhat-curhatan, dan narsis-narsisan. Hehe. Gak percaya? Nih aku kasih bukti…

Bus

Nih berantakan banget kan? hihi

Kami juga menyeberang di pelabuhan Ketapang menuju pelabuhan Gilimanuk. Selama penyeberangan salah seorang guru Bahasa Jawa—Pak Yuwono—sempat tanya ke aku begini, “Nduk, nggak takut apa naik kapal?” Saya jawab aja, “Enggak, Pak. Saya pernah naik kapal yang lebih lama dari penyeberangan nanti dan lebih gede juga. Saya kan dulu tinggal di Balikpapan, kalau ke Jogja seringnya pakai kapal terus berhenti di Surabaya terus pake travel sampai Jogja.” Dan guruku waktu itu ngangguk-ngangguk doang. Agaknya beliau ya yang rada parno? Hehe :v Peace Pak Yu! 🙂

Setelah nyebrang, sialnya bus yang aku dan sahabat-sahabatku tumpangi ketinggalan. Jadi, ceritanya karena kapal feri yang kami naiki itu udah overload jadilah beberapa bus pakai kapal yang lain. Ribet kan? Kami sempat duduk-duduk dan berasa kayak gelandangan gara-gara nunggu bus yang belum datang. Begitu udah keliatan batang hidungnya si bus E kami bersorak sorai dan melanjutkan tidur yang terputus di bus #halah.

Destinasi pertama ketika menyentuh pulau Dewata adalah Pantai Tanah Lot. Mainstream ya? Yah namanya juga ikutan study tour. Sebelum ‘nyebur’ ke pantai sengaja aku muter-muter liat pura dan kayak candi-candinya yang banyak tersebar di kompleks Tanah Lot. Di sana juga ada ular yang disucikan gitu, tapi karena lumayan jauh dan turunannya licin aku jadi males. Setelah puas liat-liat pura dan candi, langsung deh cabut ke air laut. Karena keterbatasan bawaan celana, akhirnya aku melipat celana panjangku jadi ¾ dan cuma kecipak-kecipuk di pinggir aja. Tapi lumayan lah dapet narsis sama guru lagi~ haha..

Sama Dina di Tanah Lot :3

Sama Dina di Tanah Lot :3

Gaya banget ya --"

Gaya banget ya –“

Sama Bu Suyati, Pak PKN (ya Allah lupa namanya), Bu Matematika (lupa juga), sama Bu Ning :")

Sama Bu Suyati, Pak PKN (ya Allah lupa namanya), Bu Matematika (lupa juga), sama Bu Ning :”)

Selain itu destinasinya standar aja sih kayak GWK (Garuda Wisnu Kencana), Uluwatu, Pantai Tanjung Benoa, Pantai Sanur, Pasar Sukawati, pusat oleh-oleh, Pantai Kuta, Joger, Danau Bedugul dan Monumen Bajra Sandhi alias Museum Perjuangan Rakyat Bali (judulnya aja study tour jadi gak afdol kan kalo gak ke museum? Hehe). Nah karena aku lupa urutannya nih ya (maklumin lah ini kejadian 4 tahun lalu) jadi seingetku aja yaps. Maaf kalo ga berurutan.

Setelah jadi anak pantai di Tanah Lot, kami jadi anak pantai lagi di Tanjung Benoa. Pantai Tanjung Benoa menjual berbagai permainan air seperti banana boat, parasailing, water ski, dan teman-temannya. Tapi, berhubung aku kere (yah ketauan deh) jadilah aku dan 3 temanku memilih naik kapal menuju Pulau Penyu yang kala itu hanya bayar Rp40.000,00 (itupun masih dibayarin Pak Yuwono setengahnya per/anak yippie :D).

Bagiku, Pulau Penyu menyimpan eksotika tersendiri. Di sana kami melihat (dan boleh berfoto) dengan banyak penyu dan ular dalam berbagai ukuran. Pokoknya disana semacam surganya reptil lah. Mau anak penyu yang masih unyu, sampe penyu bangkotan segede gaban ada semua. Ular di sana juga gede-gede amat. Aku sempat foto sih sama ular yang guede maksimal tapi kok aku lupa ya naruh fotonya dimana :v Jadi gabisa aku pamerin deh hehe.

Setelah puas main-main dan lunch di Tanjung Benoa, kami langsung capcus ke GWK alias Garuda Wisnu Kencana. Disana ada semacam street performance dulu sebelum kita nonton main performance-nya. Alhamdulillah yah saya berhasil foto sama bli-bli kece penari di street performance itu. Sedangkan buat pertunjukan utamanya itu tariannya tentang Rangda dan Barong gitu lah. Sebagai sesama penari (ceile) menurutku tariannya bagus banget, tradisionalnya dapet, tapi teknik-teknik lifting-nya yang menambah unsur modern juga oke, overall two thumbs up deh!

Bli Kece 1, Artanti, Aku, Tasha, Shielda, Mega, Bli Kece 2~ haha

Bli Kece 1, Artanti, Aku, Tasha, Shielda, Mega, Bli Kece 2~ haha

Next, aku mau ngomongin Pantai Sanur. Bisa dibilang Pantai Sanur ini adalah pantai buat liat sunrise. Kenapa sunrise? Karena pantai Sanur terletak di timur Denpasar, Bali. Selain itu, ombak di Pantai Sanur lebih tenang jadi nggak se-garang Pantai Kuta yang biasa dipake buat surfing. Waktu aku dan teman-teman datang ke Pantai Sanur, masih lumayan sepi sih. Pantainya cukup bersih, nggak serame Kuta, dan yaah yang terpenting disini aku main air lagi. Yeyeyeyeyey! 😀 Padahal gak bisa berenang, masih nekat ya main air? Ckckc emang Wita ini. Haha. Selain main air tentunya foto-foto juga dong~

Ombaknya tenang kan?

Ombaknya tenang kan?

Sanur Beach~

Sanur Beach~

First trip ke Bali kali ini, masalah oleh-oleh langsung deh aku pasrahkan ke pusat oleh-oleh, Pasar Sukawati, sama Joger. Kalo khusus oleh-oleh makanan, demi keamanan, kenyamanan, kualitas, dan kadaluarsa yang jelas aku memilih buat beli di pusat oleh-oleh aja. Tapi kalo untuk kaos-kaos dan celana-celana pendek, mending beli di Pasar Sukawati. Sementara Joger itu special edition beli sandal buat diri sendiri, kaos buat diri sendiri, dan ngasih oleh-oleh kaos buat adekku cowok satu-satunya. Begitu prioritasnya.

Nah, karena sejalan sama Joger nih enaknya langsung ngomongin Pantai Kuta. But, to be honest, aku nggak merasakan yang namanya Pantai Kuta sama sekali. Jadi dari parkiran ke Joger kan naik Komotra (semacam shuttle bus khusus buat ngangkut wisatawan karena bus besar gak boleh masuk kawasan Kuta), habis dari Joger pakai angkutan biru gitu ke Pantai Kuta.

Sampai sana udah sore banget, mana Pantai Kuta rame banget, mana isinya bule berbikini dan tukang tato. Baru saja aku menginjakkan kaki di pasir Pantai Kuta, narik nafas, kemudian menghembuskannya kembali eh udah ada teriakan “Ayo rombongan dari SMP Negeri 2 Yogyakarta segera kembali ke bus!” AH ELAH._.

Jadi, impianku saat ini adalah ke Bali lagi terus nginep di hotel kece di deket Kuta terus bisa jalan-jalan di beach walk-nya Kuta terus bisa menikmati Pantai Kuta tanpa harus diburu waktu. Bismillah, semoga ya suatu hari nanti 🙂 Aamiin. Aku juga pengen tau bisa melihat orang-orang surfing di Kuta. Hihi.

Selanjutnya adalah tentang Monumen Bajra Sandhi alias Museum Perjuangan Rakyat Bali. Ini bisa dibilang inti dari study tour yaitu kunjungan ke museum. Secara fisik, museum dan monumen ini bentuknya keren. Hampir kayak candi dan monumen ini (namanya juga monumen) punya sebuah bangunan yang tinggiiiiii banget. Sayangnya karena aku sedang ‘berhalangan’ jadi nggak diperbolehkan naik sampai atas. Jadi cukuplah aku menikmati diorama tentang berbagai perjuangan rakyat Bali dan benda-benda yang dipamerkan di museum ini. Daan tentunya, foto-foto hehe.

Museum Bajra Sandhi

Museum Bajra Sandhi

Museum

Abaikan muka saya~

Monumen Bajra Sandhi atau Museum Perjuangan Rakyat ini terletak di Renon, sebelah timur Lapangan Puputan, Badung. Disebut Bajra Sandhi karena monumen ini bentuknya mirip Bajra (genta) dan dianggap Sandhi (suci). Museum ini diresmikan bulan Juni 2003 oleh Presiden RI saat itu, Ibu Megawati Soekarnoputri. Museum ini bersiih buanget. Bisa dikunjungi hari Senin-Jumat pukul 08.00 – 17.00, kalau weekend bukanya lebih siang yaitu pukul 09.30 – 17.00. Tutupnya cuma waktu hari libur nasional atau cuti bersama.

Nah, kalau di Uluwatu nih banyak banget yang namanya monyet. Hehe. Bisa banget buat yang mau nyamain muka, kalau aku sih enggak mau. Tapi, sebenernya di Uluwatu ini ada pura luhur. Jadi kalau kamu dateng pakai celana/rok pendek nanti bakal dikasih kain gitu. Pura ini terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung dan puranya terletak di pucuk batu karang yang tinggi, terjal dan menjorok ke laut. Pemandangannya? Beuh keren abis! Kita cuma perlu waspada sama monyet-monyetnya yang rada usil. Hihi.

Terakhir adalah Danau Bedugul. Asli. Dingin. Banget. Brr. Danau ini terletak di Tabanan, Bali. Waktu itu kami datangnya pagi-pagi, sekalian perjalanan pulang ke Jogja. Jadi, kabutnya masih lumayan tebal dan udara masih sangat dingin. Danau Bedugul luas banget dan bagus banget dengan air yang biru kehijauan. Danau Bedugul masih sebagus yang aku lihat di kartu pos (tahun 2010 ya tapi). Di sana ada fasilitas buat mengitari danau pakai kapal gitu dan akhirnya naik lah daripada gak ngapa-ngapain.

Bedugul menjadi destinasi terakhir traveling pertama dalam hidupku. Di perjalanan pulang, waktu masih di bus dan baru aja kita ketawa-ketawa abis bertolak dari Danau Bedugul, ada hal alay yang sempat terjadi. Kira-kira gini nih hal alaynya:

Guys… Bentar lagi kita naik kelas 9 ya…” Aku memulai pembicaraan alay.

“Iya… Kita bakal pisah, bakal nggak sekelas lagi…” Dina menanggapi.

“Iya… Kita kan kelasnya balik kayak kelas 7 dulu…” Artanti ikut-ikutan menanggapi.

“Berarti kita pisah kelas dong?” Mega bertanya retoris.

“Yaah… Sedih… Pasti aku bakal kangen kalian,” Tasha ikutan lebay.

“Apalagi kelas 9 cuma bentar, habis itu lulus. Yaah…” Shielda mulai mewek.

“Hua bener banget… Kita harus tetep sahabatan kayak gini yaa sampai kapan pun…” Dina ikutan mewek.

Akhirnya kita ber-enam mewek bersama. Epic sekali :’)

Begitulah akhir dari first trip on my life. Kami pulang ke Jogja, dengan janji bahwa kami bakal terus sahabatan sampai kapan pun. Meski trip-nya gak terlalu asik gara-gara nggak puas kesana kesini, trip ini bener-bener membekas di hatiku. Nyatanya sampai 4 tahun aja aku masih inget lho. Hehe.

 

P.S.

Dan kami masih terus bersahabat sampai sekarang, sampai kami sudah lulus SMA, sudah mau jadi mahasiswi. Semoga bersahabat terus sampai punya anak cucu nanti 🙂 Aamiin.

Udah lulus SMA! Artanti, Tasha, Adhisti, Dina, and Wita :) Flawless maks! :3

Udah lulus SMA! Artanti, Tasha, Adhisti, Dina, and Wita 🙂 Flawless maks! :3

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s