Flashback: Duta Seni Pelajar 2010 di Surakarta

Sambil menyelam minum air. Itu adalah pepatah yang sangat tepat untuk menggambarkan traveling kali ini. Bayangkan saja, modal menari, dibayar, jalan-jalan gratis di Surakarta, plus tambah teman baru. Kurang bahagia apa coba? Hehe. Jadi, ceritanya aku terpilih menjadi satu diantara 19 pelajar terpilih di DI Yogyakarta untuk menjadi duta kesenian dalam ajang Duta Seni Pelajar se-Jawa Bali yang pada tahun 2010 lalu bertuan rumah di Surakarta, Jawa Tengah.

Di Surakarta, tak sekedar main dan gathering saja, tapi kami juga harus menampilkan sebuah karya. Dua penata tari dari ISI Yogyakartaβ€”Mas Joko Sudibyo dan Mbak Arjuni Prasetyoriniβ€”membuatkan sebuah karya berjudul Sigrak Ngayogyakarta yang kami pentaskan pada perhelatan yang digelar 6-9 Juli 2010 ini. Tiga bulan lamanya kami berlatih keras, sampai-sampai kami sudah merasa seperti sebuah keluarga. Hingga pada akhirnya, sampailah kami pada waktu yang ditunggu.

:) DSP 2010 :)

πŸ™‚ DSP 2010 πŸ™‚

Selasa, 6 Juni 2010 pagi (kalo nggak salah, maklum ini kejadian udah 4 tahun yang lalu) kami berkumpul di depan kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, Jalan Cendana Yogyakarta untuk menunggu bus yang akan mengangkut kami menuju Surakarta. Perjalanan Jogja-Solo memakan waktu sekitar 2 jam dan kami cukup menikmati perjalanan.

Kami berhenti di Hotel The Sunan, Surakarta. Lumayan banget, hotelnya bintang 5, nginepnya gratis pula. Hehe. Pokoknya kalo ikutan Duta Seni Pelajar (DSP) tinggal bawa badan sama uang secukupnya udah aman. Setelah check in, mandi dan bersiap-siap, kami dinner dulu di hotel sebelum mengikuti welcome party di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta.

Permisi qaqa ini pas barusan dateng :3

Permisi qaqa ini pas barusan dateng :3

Ceritanya ini lagi mau mamam~

Ceritanya ini lagi mau mamam~

Waktu dinner itu, aku sempat berkenalan dengan penata tari dari Bali yaitu Pak I Gede Suda yang setelah aku kepo tempat tinggalnya di Karang Asem. Lah desa Karang Asem kan desa tempat pakdhe (bapak gedhe, suami dari mbaknya Ibuku) berasal. Iseng aja ngepo ngepo terus dan ketahuanlah kalau Pak I Gede Suda itu ternyata temannya pakdheku, I Wayan Senen. Hehe.

Usai makan dan sedikit chit chat, kami diangkut lagi dengan bus dan meluncur menuju Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT Surakarta) untuk welcome party dan perkenalan dengan kontingen lain. Kontingen DIY berhasil menyanyikan yel-yel dengan heboh dan mendapat sambutan hangat dari kontingen lain. Habis itu, kami harus segera pulang ke hotel dan bobok cantik karena besok akan jadi hari yang melelahkan. Aku tidak boleh tergoda nonton bareng Piala Dunia di dekat kolam renang sana…

Keesokan harinya, 7 Juli 2010, pagi buta telepon di kamarku sudah berdering. Oh iya aku sekamar sama Mbak Puput sama Mbak Dita, keduanya adalah siswi SMA Negeri 5 Yogyakarta (waktu itu aku masih SMP di SMPN 2 Yogyakarta).Β  Ternyata eh ternyata, kita harus senam pagi dulu di halaman hotel. Nggak cukup lagu poco-poco, lagu Bukan Bang Thoyib-nya Wali dan bahkan dangdut pun dipakai juga sama panitia. Ya ampun.

Usai senam yang mengocok perut, kami diberi waktu untuk mandi, sarapan, dan bersiap-siap sebelum gladi bersih alias latihan terakhir di TBJT Surakarta untuk pentas nanti malam. Fyuh. Rasanya deg-degan maksimal. Begitu sampai di TBJT, kami langsung bersiap-siap, pakai jarik (kain batik), sampur (selendang untuk menari), dan atribut-atribut lainnya. Alhamdulillah sekali gladi bersih kali ini lancar dan sukses. Kami pun segera kembali ke hotel untuk dirias dan memakai kostum.

Narsis bentar sebelum GR ;3

Narsis bentar sebelum GR ;3

Pose terakhir. Keren kan?

Pose terakhir. Keren kan?

Sekitar pukul 20.00, pagelaran Duta Seni Pelajar 2010 di Surakarta resmi dimulai. Tujuh provinsi menampilkan karya terbaiknya. Jawa Timur dengan karyanya yang berjudul Jeghe menceritakan tentang perjuangan rakyat Jawa Timur melawan kebijakan tanam paksa yang diberlakukan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1830 – 1870. Bagi mereka, tembeng pothe mata angok pothe, daripada mati dijajah Belanda lebih baik mati karena berjuang.

Kemudian kontingen DKI Jakarta mementaskan karyanya yang berjudul Nyai Dasima: Antara Jati Diri dan Status. Karya ini menceritakan tentang seseorang yang dalam hidupnya mengutamakan harta dan tahta sebagai ukuran kebahagiannya. Sehingga, ketika cinta menghampirinya, semua hanyalah menjadi mimpi dan hiasan hidup semata.

Lalu ada Sigrak Ngayogyakarta dari kontingen DI Yogyakarta. Tarian ini terinspirasi dari tari bedhaya, angguk, dan jathilan yang hingga kini masih eksis di Yogyakarta. Sehingga, tari ini menceritakan tentang semangat Yogyakarta yang mampu mempertahankan budayanya dalam bentuk sebuah medley tari bedhaya, angguk dan jathilan tersebut. Di sini aku berperan menari di kelompok bedhaya lho. Hehe.

Next dari kontingen Banten ada Duriat Sorosowan. Karya ini menceritakan tentang rakyat Banten yang meneladani sikap patriotisme Sultan dan prajurit Kasultanan Banten dalam mengangkat derajat Banten. Lalu, karya dari kontingen Bali berjudul Tengananku yang bercerita tentang rakyat Bali yang menemukan kuda kesayangan Raja di kerajaan Bedahulu meski dalam keadaan mati. Rakyat dijanjikan hadiah tanah seluas bau bangkai kuda. Sehingga rakyat sengaja memotong kuda tersebut dan menyebarkannya agar hadiah tanah tersebut makin luas.

Lalu dari kontingen Jawa Barat yang semuanya berisi perempuan cantik dengan judul tari Mojang Menor. Karya ini terinspirasi dari mojang atau perempuan, yaitu perempuan lajang yang mengaktualisasikan diri dengan semangat yang sesuai pada jamannya. Terakhir, sang tuan rumah Jawa Tengah dengan karyanya yang berjudul Dreng. Karya ini menceritakan aktivitas remaja sehari-hari seperti membantu orang tua, beribadah dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Selesai pentas yaitu kira-kira hampir pukul 23.00, kami langsung kembali ke The Sunan Hotel dan bersih diri. Habis bersihin wajah dari make up, beresin kostum dan semuamuanya, aku, Mbak Dita dan Mbak Puput langsung tepar, terkapar tak berdaya di atas kasur. Capek banget cyiin. Hehe. Dan keesokan harinya tidak ada satu pun peserta kontingen DI Yogyakarta yang turun untuk senam pagi. Hehehehe._.v

Tapi… Kami tetep semangat buat ikutan city tour dong! πŸ˜€ hehe. Sayang banget masa udah sampai Solo tapi gak ngapa-ngapain? Mumpung gratis! Hehe. Destinasi pertama kami adalah Museum Fosil Manusia Purba Sangiran atau lebih beken dengan Museum Sangiran saja. Aku excited banget disini. Kenapa? Ya karena emang dari dulu dulu dulu banget aku sangat tertarik dengan mata pelajaran Sejarah.

Bayangin aja ya, Pithecanthropus Erectus, dan manusia-manusia purba beserta fosil-fosil dan artefak-artefak yang biasanya cuma kita lihat di buku atau gambar atau bahkan cuma denger dan tau namanya doang, sekarang ada di depan mata. Wuiih… Gimana gak hepi tuh? Hehe. Dari 19 orang peserta kontingen DIYβ€”bukannya sombong nihβ€”kayaknya aku doang yang over-excited. Bahkan aku sengaja nempelin tour leader biar bisa dapet penjelasan lebih. Hehe :$

Yah, meski pada tahun segitu Museum Sangiran belum terlalu bagus, masih banyak pembenahan dan perbaikan, aku pribadi sih udah cukup puas bisa bertandang ke situ. Hmm. Belum tentu loh teman-temanku yang lain, atau anak-anak seumuranku yang lain bisa mampir ke situ, gratis pula. Hehehe.

Selanjutnya adalah seminar motivasi diri dengan pembicaranya seorang motivator keren yang udah mencetak beberapa buku, Pak Prie GS. Seminar itu diselenggarakan di Taman Balekambang Surakarta. Sebenernya, habis seminar masih ada outbond. Tapi, berhubung tadi molor waktu berangkat ke Sangiran, kemungkinan outbond-nya batal.

Tapi… Dasar akunya bandel, aku dan beberapa anak dari kontingen DIY dan kontingen lain yang sama bandelnya ngotot aja nyamperin wahana outbond. Hehe. Lumayan lah dapat flying fox sekali sama manjat-manjat sebentar, meski habis itu udah diteriakin suruh cabut ke destinasi selanjutnya yaitu Kraton Kasunanan Surakarta.

@ Kraton Kasunanan Surakarta

@ Kraton Kasunanan Surakarta

Sebenernya binti sejujurnya, Kraton Kasunanan Surakarta ini cenderung lebih sepi dibandingkan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tapi, semua punya sisi istimewanya sendiri-sendiri kan? Hehe. Kraton Kasunanan Surakarta juga punya daya tariknya sendiri. Sayangnya sore itu turun hujan, sehingga tour guide-nya membawa kami ke sebuah bangsal dan diberi pengarahan singkat. Di sanalah aku kenalan sama bli – bli (cowok – cowok) Bali. Hehe. Modus nih ye… Haha.

Nggak kok, aku sih nggak modus. Tapi waktu kenalan itu lah, kami ngobrol banyak membicarakan tentang kebudayaan masing-masing dan saling bertukar pikiran. Asyik lho, saling bertukar informasi dan membahas kebudayaan dengan pelajar dari daerah lain. Saling memberitahu bahasa daerah masing-masing, kebiasaan di daerah masing-masih. Ah, seru lah intinya πŸ˜€

Pulangnya, berhubung masih nunggu beberapa orang yang beli oleh-oleh (termasuk Pak I Gede Suda yang nanya harga pasaran dompet di Jawa Tengah ke aku hehe), jadilah aku yang nggak beli apa-apa nunggu aja di bus. Kebetulan ada tukang es krim lewat, yaudah lah makan es krim aja buat membunuh waktu.

Selain itu, tadi kan aku dan beberapa temanku sempat kenalan dengan cowok-cowok Banten (lah cowok lagi haha) dan beberapa cowok itu minta bertukar nomor HP. Ada juga cowok Jawa Timur yang minta nomor HP-ku ya aku kasih aja lah. Hehe. Dari sana lah, kami jadikan ajang diskusi dan tukar budaya. Setelah semua selesai belanja, kami balik deh ke The Sunan Hotel.

Malamnya adalah malam paling menyenangkan #tsaah haha. AkhirnyaΒ  saudara-saudara, aku gajian juga. Hehehe :$ Alhamdulillah banget kan? Udah jalan-jalan gratis, akomodasi gratis, masih dibayar lagi. Banyak ilmu, banyak teman, banyak duit sekalian #eh. Tapi, dasar kere cari diskonan, perut kami yang masih kurang asupan makan gara-gara sok jaga image waktu dinner dan closing ceremony dibela-belain ditahan-tahanin kelaperan sampe lewat jam sembilan malam. Kenapa?

Karena, cafe di lobby hotel menjual cake yang diskon 50% setelah pukul 21.00. Hahaha. Akhirnya, perempuan-perempuan kelaparan ini turun gunung dan gaya-gayaan nongkrong di cafe hotel padahal pas lagi diskonan. Huehehehe. Alhamdulillah ya Tiramisu Cake yang harusnya Rp16.000,00 sepotong cuma Rp8.000,00 itupun aku makannya udah kenyang banget. Tiramisu Cake gitu lho… Hehe.

Sengaja banget malam itu kita habiskan buat santai-santai, gak mau tidur cepet kayak malam sebelumnya. Kami masih ngobrol-ngobrol di depan kamar, di balkon, di cafe, di mana aja. Sampai ditegur satpam coba. Tapi betah-betahin aja. Apalagi disana aku termasuk anak kecil, ya aku masih SMP lainnya udah pada SMA jadi berasa punya kakak buanyaak banget. Apalagi yang namanya Mas Rangga itu baik banget soalnya emang sebelumnya udah kenal duluan sih ya sama aku. Hehe.

With Mbak Nabila, Mbak Tiara :)

With Mbak Nabila, Mbak Tiara πŸ™‚

Setelah kami bosen ditegur satpam terus, akhirnya kami memutuskan untuk bobok imut. Paginya, tanggal 9 Juli 2010, kami beres-beres dan β€˜nyolong’ sandal hotel, serta alat mandi sebelum akhirnya kami check out dari The Sunan Hotel. Berakhir sudah liburan gratisku ke Solo di tahun itu. Hehe.

Sebelahku Dek Nabila masih narsis, akunya bobok cantik :3 Cmiww :3

Sebelahku Dek Nabila masih narsis, akunya bobok cantik :3 Cmiww :3

Meski hampir sebagian waktu dihabiskan di hotel dan Taman Budaya Jawa Tengah, bagiku it’s not a big problem. Aku sangat menikmati perhelatan tersebut, dan saat itu aku selalu berharap agar bisa mengikuti lagi di tahun-tahun yang akan datang. Bagaimana pun juga, aku bangga menjadi duta kesenian dari Daerah Istimewa Yogyakarta, dan aku senang mendapat tambahan ilmu dan teman baru.

 

P.S.

I Do miss you

I do miss you, Mbak Vina :’ (paling kiri)

Salah satu kakak terbaikku di Duta Seni Pelajar 2010, Mbak Tri Ervina Saputri (Mbak Vina) beberapa tahun lalu meninggal dunia karena kanker. Aku masih ingat dan selalu ingat wajah cantiknya, senyum manisnya, ingatannya yang kuat, gerak tubuhnya yang indah, dan aku selalu mengingatnya. Mbak Vina yang senantiasa sabar mengajariku tiap gerakan yang kurasa sukar yang diberikan koreografer. Saat menari aku ada di depan sendiri, di samping mbak Vina dan bisa dibilang sempat menjadi leader dalam bagian kami. Aku sungguh tidak akan pernah bisa melupakan kebaikannya. Selamat jalan, Mbak Vina.

And I miss you all, my sisters and brothers~

DSP

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s