Pilpres Indonesia 2014: Kemana Asas Luber Jurdil?

Sebelumnya, saya meminta maaf kepada pembaca. Ini murni opini saya, dan pemikiran atau bisa dibilang perenungan saya yang jenuh dengan kampanye yang memuakkan. Saya jenuh dengan isu-isu black campaign baik dari kubu nomor 1 untuk menyerang nomor 2, maupun dari nomor 2 untuk menjatuhkan kubu nomor 1. Awalnya, saya ingin apatis dan diam saja. Namun, ada sedikit sentilan dari teman sekelas saya di SMAN 7 Yogyakarta yang bilang begini “Wit, meski belum resmi kuliah, kamu kan sekarang udah jadi mahasiswa Fisipol, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Masa iya kamu mau apatis?” Jadilah saya mencoba beropini melalui tulisan ini.

Akhir-akhir ini, marak sekali akun-akun sosial media yang menggunakan profile picture yang menyatakan dukungan terhadap kandidat tertentu. Banyak pula kampanye-kampanye yang dilakukan di sosial media baik Facebook, Twitter, Youtube, Kaskus, blog, dan sebagainya. Tak jarang terjadi perdebatan panas—yang lebih saya anggap sebagai debat kusir—di kolom comment pada artikel yang berisi dukungan terhadap pihak tertentu atau pernyataan tidak mendukung pada pihak lainnya. Itu semua membuat saya risih sekaligus bertanya-tanya, kemana kah asas Pemilu Indonesia yang Luber Jurdil? Lupakah masyarakat Indonesia tentang hal ini?

Asas Luber Jurdil merupakan akronim dari Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil. Asas Pemilu Luber sudah ada sejak zaman Orde Baru, dan setelah era Reformasi berkembanglah asas Jurdil (Jujur Adil). Langsung berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya secara langsung dan tidak boleh diwakilkan. Umum berarti pemilihan umum dapat diikuti seluruh warga negara yang sudah memiliki hak menggunakan suara.

Bebas berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Rahasia berarti suara yang diberikan pemilih bersifat rahasia yaitu hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri. Sementara, jujur mengandung arti pemilihan umum harus dilaksanakan sesuai aturan untuk memastikan bahwa setiap warga negara yang berhak dapat memilih sesuai dengan kehendak dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang sama untuk menentukan wakil rakyat yang akan terpilih. Adil berarti perlakuan yang sama terhadap peserta pemilu dan pemilih, tanpa ada pengistimewaan atau diskriminasi.

Sejauh ini, dari yang saya amati, masyarakat Indonesia kebanyakan justru melanggar asas Bebas dan Rahasia. Banyak orang yang fanatik mendukung kandidat tertentu dan setiap kali membahas tentang kandidat yang didukung selalu cenderung memaksa orang lain untuk memilih kandidat tersebut. Tak jarang, jika terjadi perbedaan pendapat, kalimat yang muncul selanjutnya adalah umpatan dan sumpah serapah serta olok-olok kepada kandidat lain yang tak didukung.

Selain melanggar asas Pemilu yaitu Bebas, menurut saya hal itu mencerminkan minimnya etika sebagian masyarakat Indonesia dalam beropini. Selain itu, umpatan serta caci maki kepada kubu lainnya merupakan bukti bahwa kebanyakan orang mengandalkan emosi dan tidak berpikir dengan akal sehat dan kepala dingin. Mau jadi apa Indonesia jika rakyat yang dipercaya memilih pemimpin bangsa sulit berpikir dengan akal sehat & kepala dingin?

Mengenai asas Rahasia, menurut saya, asas inilah yang paling tidak kelihatan batang hidungnya pada Pilpres Indonesia 2014 ini. Bagi saya, menunjukkan dukungan berlebihan dengan memajang profile picture yang menyatakan dukungan pada kubu tertentu dan menyebarkan artikel berisi kampanye yang berlebihan—apalagi kalau sudah bisa dikategorikan pada black campaign—serta ikut membuat ‘rusuh’ sosial media dengan menjelek-jelekkan kandidat yang tak didukung, sangat melukai asas rahasia.

Jika masyarakat terlalu mengumbar pernyataan “Saya memilih si A” atau “Saya memilih si B” dimana kah letak asas Rahasia? Kalau sudah dipublikasikan, sudah tidak rahasia dong. Saya tidak terlalu suka dengan orang yang terang-terangan bilang “Aku besok bakal milih Prabowo” atau “Aku jelas milih Jokowi” karena hal itu sering menimbulkan perbedaan yang berakhir pada perdebatan dan berujung pada saling marahan. Nggak percaya? Silakan buktikan.

Memasang profile picture semacam itu entah mengapa—mungkin ini pendapat saya yang sangat subjektif—membuat saya risih dan malas berinteraksi dengan si empunya akun. Karena mereka pasti dikit-dikit membicarakan kandidat yang mereka dukung, sedikit-sedikit kampanye, bahkan tak jarang menyindir kubu lawan. Hal ini—maksud saya kampanye ‘sehat’ dan pemasangan profile picture dukungan—akan saya tolerir jika yang menggunakannya memanglah tim sukses dari kandidat tertentu. Tapi, nyatanya saya malah jarang lihat tokoh politik atau pejabat elite  yang di bibirnya terang-terangan mendukung si A namun memasang profile picture akun sosial medianya dengan dukungan pada si A misalnya. Kebanyakan justru masyarakat yang sekiranya ikut-ikutan saja.

Kalau semua sudah jelas dibuka sejak awal, si A pilih nomor 1, si B pilih nomor 2, si C pilih nomor 1 lagi, si D pilih nomor 2 juga, untuk apa ada asas Rahasia? Apakah pengertian dari asas rahasia yang berarti suara si pemilih hanya diketahui oleh pemilih itu sendiri hanya bualan belaka? Atau itu hanya sekedar informasi di wikipedia? Atau mungkin perbendaharaan di ensiklopedia?

Satu lagi ironi yang saya temukan dalam Pilpres 2014 ini adalah masalah SARA, Suku Agama Ras dan Antar-golongan. Saya sangat sedih dan sangat menyayangkan hal ini. Pernah ada suatu akun Twitter yang berkicau begini “Wah, capres-cawapresnya udah fix ini? Dua kandidat ini? Partai yang koalisi jelas ini? Bisa-bisa nanti waktu kampanye menyinggung SARA” Dan ramalan tersebut benar adanya.

Barusan saya iseng search di mbah Google kesayangan kita, benarlah ada akun Facebook khusus untuk menjelekkan Jokowi yang dianggap bakal jadi presiden boneka lah, didukung umat Nasrani lah, keturunan Cina lah, dan sebagainya. Selain itu, banyak sekali artikel yang menjelekkan Prabowo. Mana katanya duda lah lantas dipertanyakan Ibu Negara siapa lah, dikebiri lah, kasus penculikan aktivis 1998 lah, dan sebagainya. Dikira saya beropini nggak research apa?

Saya sangat sedih membacanya, dan sangat menyayangkan akan hal ini. Jika kampanye dengan tipe menjelek-jelekkan semacam ini terus berlanjut, bisa-bisa habis sudah semboyan Bhineka Tunggal Ika. Jika kampanye macam ini terus menerus ada, bisa-bisa yang tercipta bukan persatuan dan kesatuan NKRI namun justru perpecahan. Nggak lucu kan kalau hanya gara-gara Pilpres stabilitas Nasional sampai terganggu karena masalah SARA?

Beropini semacam ini, tak lantas membuat saya tidak mendukung siapapun. Saya sadar golput merupakan tindakan tak bertanggung jawab, jadi saya memiliki pula satu kandidat yang kelak akan saya pilih, 9 Juli 2014 mendatang di TPS dekat rumah saya. Tapi, saya nggak pernah tuh menunjukkan dengan jelas siapa yang saya pilih. Saya juga nggak pernah menjelekkan kandidat yang tidak saya dukung.

Di rumah, saya dan beberapa keluarga saya juga sering mendiskusikan masalah Pilpres dan pasangan capres-cawapres. Namun, adem ayem saja karena tidak pernah diskusi ngotot dan menjelekkan pasangan lainnya. Saya juga berbeda keyakinan dan beda pilihan dengan beberapa sepupu, namun tak masalah bagi kami karena meski berdiskusi biasanya kami belajar tak terpancing emosi. Karena, saya lebih suka me-research sendiri tentang kandidat-kandidat yang ada, menganalisis sederhana debat capres-cawapres yang diselenggarakan KPU, menelaah visi misi tiap kandidat, dan menentukan yang terbaik menurut saya untuk saya pilih.

At least, mari berpikir dengan nalar yang sehat, kepala dan hati yang dingin untuk menentukan pilihan yang terbaik. Tak perlu menjelek-jelekkan kandidat mana pun, karena salah satunya pasti akan menjadi pemimpin negeri ini 5 tahun ke depan yang harus kita hormati. Saya yakin, orang yang menjelekkan Prabowo akan menyesal apabila Jokowi tak terpilih, dan orang yang mencemooh Jokowi akan menyesal bila Prabowo tak jadi presiden RI. Yang terpenting, tetap berpikir rasional dan kuatkan semangat Bhineka Tunggal Ika demi stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

P.S.

Saya tidak menerima orang yang komentar dengan #SalamDuaJari #IndonesiaSatu #JKW4RI1 #SelamatkanIndonesia dan hal-hal lain yang menyatakan dukungan terhadap pihak tertentu apalagi komentar berbau SARA. Saya sangat mengharapkan kritik yang membangun dari pembaca serta komentar yang bermutu. Baik yang ingin setuju dengan pendapat saya, atau mendebat opini saya. Terima kasih.

Source:

http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_di_Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s