Repost: Clothing, Eating, and Culture Centre in One

Di era global ini, dapat kita rasakan bahwa kehidupan semakin sulit. Kita menghadapi krisis multidimensi. Bangsa Indonesia mengalami krisis jati diri, dibuktikan dengan merosotnya moral remaja dan semakin tak terurusnya warisan leluhur kita yang berwujud intangible heritage seperti kebudayaan dan tradisi leluhur. Indonesia juga mengalami krisis ekonomi yang terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah pengangguran di negeri ini.

Entrepreneurship adalah dunia yang mulai diminati sebagai salah satu solusi mengingat terbatasnya lapangan pekerjaan. Namun, ragam usaha yang kita lihat selama ini terasa monoton dan mainstream. Kita perlu mencari alternatif baru dalam bidang usaha dengan sasaran berbagai tingkatan usia, khususnya kawula muda. Alternatif usaha yang unik, menarik, dan memiliki banyak sisi keuntungan yang dapat menjadi alternatif solusi dua krisis terbesar tadi.

Satu yang bisa kita lirik adalah clothing. Menilik Daniel Manananta yang sukses mengeluarkan label “Damn! I Love Indonesia”, tak ada salahnya apabila mencoba membuat sebuah usaha clothing yang mengusung tema budaya Jawa, karena kita hidup di Yogyakarta. Kita bisa membuka butik, distro atau factory outlet yang khusus menjual aneka sandang dan aksesoris bernuansa Jawa. Tidak harus selalu muncul dengan batik atau lurik, bisa juga dengan t-shirt bergambar pewayangan, tempat wisata, bangunan bersejarah, dan sebagainya yang distilirisasi menjadi bentuk yang lebih indah.

Selanjutnya, mari gabungkan dunia clothing dengan café. Setelah konsumen lelah berbelanja, mereka bisa bersantai sembari menikmati sajian di café tersebut. Menunya bisa kita pilihkan menu – menu yang disukai remaja dan disisipkan menu makanan dan minuman khas Jawa. Interior ruangan harus didesain sedemikian rupa agar bernuansa Jawa, namun tetap ‘berjiwa muda’ dan cozy.

Sebagai sentuhan akhir, karena Yogyakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa, maka berikan ruang pada seni budaya Jawa. Kita bisa menambahkan sanggar tari dan karawitan Jawa sebagai pemanis. Kegiatan latihan, dan pentas di sanggar ini bisa dijadikan hiburan bagi konsumen. Jadi, kita bisa membuat konsep sebuah tempat clothing, eating, sekaligus pusat kebudayaan.

Mengapa memilih seni tari dan karawitan? Karena, seni tari merupakan penggabungan musik dan gerak. Sehingga, dinilai akan lebih menarik minat remaja. Seni tari yang diajarkan dan ditampilkan tidak harus selalu seni tari klasik Gaya Yogyakarta yang berdurasi lama dan dinilai membosankan karena gerakannya yang pelan dan mengalir. Namun, dapat juga tari kreasi baru yang musiknya lebih menarik, berdurasi singkat, dan dinilai tidak membosankan. Sehingga, konsumen yang datang untuk bersantai di café atau berbelanja akan tertarik menikmati tarian tersebut.

Selain itu, kebudayaan Jawa khususnya seni tari Yogyakarta dinilai sangat penting dipelajari oleh remaja. Hal ini dikarenakan keterampilan menari Jawa seringkali menjadi poin tambahan bagi pelajar atau mahasiswa yang ingin mengikuti program exchange. Bahkan, untuk menjadi Paskibraka tingkat Nasional, dan beberapa beasiswa di perguruan tinggi salah satu persyaratannya harus menguasai tarian daerah, yang jika berdomisili di Yogyakarta, maka harus menguasai seni tari Gaya Yogyakarta.

Dengan konsep “clothing, eating, and culture centre in one” ini, sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui. Krisis ekonomi akan teratasi karena terbukanya lapangan pekerjaan baru yang terbilang unik, sehingga kemungkinan besar akan laris di pasaran. Selain itu, konsep ini akan menimbulkan minat remaja akan pelestarian seni budaya dan tradisi di Yogyakarta, sehingga dapat menolong bangsa Indonesia dari krisis jati diri.

 

P.S.

Aku kasih judul repost karena sebelumnya pernah di posting di sebuah blog buat lomba gitu lah meskipun gak menang 🙂 Ceritanya sih ini short essay gitu. Maklumin kalo cetek, namanya juga gak menang :p haha. Anyway, I love learning. Jadi, kalau ada kritik saran dan masukan mengenai penulisan silakan 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s