0

Sejarah Nama Erwita Danu Gondohutami

“Erwita Danu Gondohutami”

Nama itu adalah nama yang sudah melekat pada diriku selama 18 tahun ini. Sejujurnya, akuย kadang protes dengan nama itu terutama “Danu” dan “Gondo” yang sempat kuanggapย nggak banget. Beberapa guru pun ada yang dengan menyebalkannya mengira akuย ini laki-laki melihat kata “Danu” dan “Gondo” yang menempel di antara “Erwita” dan “Hutami” yang manis. Bahkan, hingga kini ada satu guru mata pelajaran TI dan satu guru Biologi di SMAN 7 Yogyakarta yang dengan bangga memanggil saya “Gondo”. Setiap kali perkenalan, aku selalu menyebutkan dengan lantang nama Erwita lalu melirihkan dan menambah speed berbicara ketika menyebut nama Danu dan kembali normal saat menyebut Gondohutami. Alasannya simpel, malu dengan nama yang terkesan jadul banget.

Sejarah dimulai ketika aku lahir hari Senin, 9 Juni 1996. Aku lahir jauh di seberang pulau Jawa, di suatu kota yang asing di telinga masyarakat Yogyakarta namun sangat terkenal di Kalimantan sana, Balikpapan. Dulu, waktu aku SD, SMP, bahkan sampai SMA masih ada orang yang bertanya “Balikpapan itu dimana sih, Wit?” Batinku… “Hello~ Kamu gak tahu kota Balikpapan? Kota dengan kilang minyak yang super besar dan banyak di Kalimantan Timur? Kemana aja kamu? Jangan-jangan kamu nggak kenal Pertamina juga…” Begitu kira-kira gerutuanku dalam hati.

Balikpapan, Kalimantan Timur termasuk dalam zona waktu Indonesia bagian tengah (WITA) alias GMT +8. Jadi, tahu kan asal nama Wita? Selain itu, nama “Wita” dalam bahasa Jawa berarti kekayaan, dan dalam bahasa Sansekerta berarti berharga. Jadi Wita adalah kekayaan yang berharga. Hahay ๐Ÿ˜€

Untuk nama Erwita sendiri, itu merupakan gabungan dari kata Er dan Wita. Er atau her adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti air. Sementara, kata Ibuku, Wita yang dipakai adalah Wita karena Waktu Indonesia bagian Tengah. Jadi, Ibuku ingin aku menjadi seperti air di daerah Waktu Indonesia Bagian Tengah (Balikpapan, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi) yang notabene memiliki kesulitan dengan air. Di sana, air harganya sangat mahal, sehingga air sangat berharga. So, arti nama Erwita dengan Wita klop kan? Berharga.

Nextย adalah Danu. Sejarahnya, nama Danu ini adalah nama eyang buyutku. Aku tak pernah mengetahui apa artinya sampai hari ini akuย browsing dan sialnya nama ini memang benar-benar nama laki-laki ._. Namun,ย alhamdulillahย namaย Danu yang berasal dari bahasa Jawa berartiย cahaya.

Untuk nama Gondo, ini juga nama eyang buyutku. Dan orang yang bertanggung jawab menyematkan nama Danu dan Gondo ini adalah Bapakku. Kalau kata orang-orang Jawa dan orang tua, nama Gondo berasal pula dari bahasa Jawa yang artinya adalahย ambu alias aroma. Mungkin, maksud orang tuaku adalah biar kelak aku jadi seperti Ibu Kartini yang harum namanya #halah :p Doa mereka mungkin agar aku kelak tak hanya meninggalkan nama, namun juga bekas yang harum dan mewangi #tsaah

Sedang untuk nama Hutami, ini diambilkan dari nama eyang kakungku dari Ibu, Raden Radjijo Wignjohoetomo. Nah, berhubung Ibuku masih sadar sepenuhnya bahwa aku ini anak perempuan jadilah ‘hoetomo’ dalam nama eyangku dibuat nama perempuan menjadi ‘hutami’. Arti namanya? Jelas sekali bahwa hutami berarti yang utama atau yang terpenting.

Jadi…

Apa sih arti namaku?

Erwita Danu Gondohutami…

Air yang berharga dan menjadi pelita serta menebar aroma kebaikan di bumi.

Keren kan?

Semoga, aku bisa menjadi seperti yang diharapkan…

Seperti air yang berharga, memiliki banyak kekayaan, menjadi cahaya, mampu menjadi orang yang harum namanya, dan melakukan berbagai keutamaan / kebaikan di dunia ini.

Aamiin ๐Ÿ™‚

 

P.S.

Sekarang, aku bangga dengan namaku sendiri ๐Ÿ˜€ Anyway, banyak yang bilang namaku Njawani banget. Yes. That’s right. Karena meski numpang lahir di Balikpapan, saya orang Jawa tulen brooo ๐Ÿ˜€

0

Repost: Clothing, Eating, and Culture Centre in One

Di era global ini, dapat kita rasakan bahwa kehidupan semakin sulit. Kita menghadapi krisis multidimensi. Bangsa Indonesia mengalami krisis jati diri, dibuktikan dengan merosotnya moral remaja dan semakin tak terurusnya warisan leluhur kita yang berwujud intangible heritage seperti kebudayaan dan tradisi leluhur. Indonesia juga mengalami krisis ekonomi yang terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah pengangguran di negeri ini.

Entrepreneurship adalah dunia yang mulai diminati sebagai salah satu solusi mengingat terbatasnya lapangan pekerjaan. Namun, ragam usaha yang kita lihat selama ini terasa monoton dan mainstream. Kita perlu mencari alternatif baru dalam bidang usaha dengan sasaran berbagai tingkatan usia, khususnya kawula muda. Alternatif usaha yang unik, menarik, dan memiliki banyak sisi keuntungan yang dapat menjadi alternatif solusi dua krisis terbesar tadi.

Satu yang bisa kita lirik adalah clothing. Menilik Daniel Manananta yang sukses mengeluarkan label โ€œDamn! I Love Indonesiaโ€, tak ada salahnya apabila mencoba membuat sebuah usaha clothing yang mengusung tema budaya Jawa, karena kita hidup di Yogyakarta. Kita bisa membuka butik, distro atau factory outlet yang khusus menjual aneka sandang dan aksesoris bernuansa Jawa. Tidak harus selalu muncul dengan batik atau lurik, bisa juga dengan t-shirt bergambar pewayangan, tempat wisata, bangunan bersejarah, dan sebagainya yang distilirisasi menjadi bentuk yang lebih indah.

Selanjutnya, mari gabungkan dunia clothing dengan cafรฉ. Setelah konsumen lelah berbelanja, mereka bisa bersantai sembari menikmati sajian di cafรฉ tersebut. Menunya bisa kita pilihkan menu โ€“ menu yang disukai remaja dan disisipkan menu makanan dan minuman khas Jawa. Interior ruangan harus didesain sedemikian rupa agar bernuansa Jawa, namun tetap โ€˜berjiwa mudaโ€™ dan cozy.

Sebagai sentuhan akhir, karena Yogyakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa, maka berikan ruang pada seni budaya Jawa. Kita bisa menambahkan sanggar tari dan karawitan Jawa sebagai pemanis. Kegiatan latihan, dan pentas di sanggar ini bisa dijadikan hiburan bagi konsumen. Jadi, kita bisa membuat konsep sebuah tempat clothing, eating, sekaligus pusat kebudayaan.

Mengapa memilih seni tari dan karawitan? Karena, seni tari merupakan penggabungan musik dan gerak. Sehingga, dinilai akan lebih menarik minat remaja. Seni tari yang diajarkan dan ditampilkan tidak harus selalu seni tari klasik Gaya Yogyakarta yang berdurasi lama dan dinilai membosankan karena gerakannya yang pelan dan mengalir. Namun, dapat juga tari kreasi baru yang musiknya lebih menarik, berdurasi singkat, dan dinilai tidak membosankan. Sehingga, konsumen yang datang untuk bersantai di cafรฉ atau berbelanja akan tertarik menikmati tarian tersebut.

Selain itu, kebudayaan Jawa khususnya seni tari Yogyakarta dinilai sangat penting dipelajari oleh remaja. Hal ini dikarenakan keterampilan menari Jawa seringkali menjadi poin tambahan bagi pelajar atau mahasiswa yang ingin mengikuti program exchange. Bahkan, untuk menjadi Paskibraka tingkat Nasional, dan beberapa beasiswa di perguruan tinggi salah satu persyaratannya harus menguasai tarian daerah, yang jika berdomisili di Yogyakarta, maka harus menguasai seni tari Gaya Yogyakarta.

Dengan konsep โ€œclothing, eating, and culture centre in oneโ€ ini, sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui. Krisis ekonomi akan teratasi karena terbukanya lapangan pekerjaan baru yang terbilang unik, sehingga kemungkinan besar akan laris di pasaran. Selain itu, konsep ini akan menimbulkan minat remaja akan pelestarian seni budaya dan tradisi di Yogyakarta, sehingga dapat menolong bangsa Indonesia dari krisis jati diri.

 

P.S.

Aku kasih judul repost karena sebelumnya pernah di posting di sebuah blog buat lomba gitu lah meskipun gak menang ๐Ÿ™‚ Ceritanya sih ini short essay gitu. Maklumin kalo cetek, namanya juga gak menang :p haha. Anyway, I love learning. Jadi, kalau ada kritik saran dan masukan mengenai penulisan silakan ๐Ÿ™‚

0

Shut The Hell Up =)

Suka nggak paham gitu sama orang-orang kebanyakan di sosial media…

 

Alkisah, pada suatu malam yang belum larut, aku habis baca mention-mentionan temen lama. Mereka seumuran sama aku, dan lagi ngomongin dunia perkuliahan. TL-ku malam itu lumayan banyak yang ngomongin dunia perkuliahan sih ya, mungkin efek mau SBMPTN, UM, USM STAN, daftar ke PTS dan daftar ulang bagi yang keterima SNMPTN…

Terus kepikiran aja buat ngetweet tentang dunia perkuliahan juga, ya maklumin meski udah 18 tahun ya aku belum dewasa-dewasa amat. Akhirnya ada gitu yang ngiranya aku nyindir tweetnya. Gusti Allah. Nyangkut-nyangkutin masalah Undangan dan Bidik Misi-ku juga lagi. Ya Allah. Sa to the bar.

Baca lebih lanjut

0

Kebiasaan Deh…

Holla…

Pagi ini, entah kenapa, I realized something…

Setelah aku ngepo blog-blog lamaku yang sudah bersarang laba-laba, ternyata tiap kali ulang tahun aku selalu absen nulis. Dan ini berbanding terbalik dengan media sosialku yang sangat tinggi aktifitasnya. Duh. Sedih.

Alhamdulillah, kemarin aku udah 18 tahun. Horee aku udah tua dan udah mahasiswi #abaikan Seperti biasa, no suprise in the morning, no boyfriend. Ya kayak ulang tahun di tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, ada beberapa orang yang berbaik hati mengirimkan photo college, kado berupa sebuah novel berjudul The Cuckoo’s Calling, dan yang paling spesial dari sahabatku yang numero uno, kotak pensil oleh-oleh dari Korea Selatan & cake blackforest ukuran kecil yang yummy maksimal! Thank you yaa, kalian :’)

Ah iya, semalem juga ditraktir mbak Sari es susu coklat daan roti bakar… Soalnya pas itu selo sih nungguin Srimpi, soalnya kita mau ngerekam tarian selanjutnya yaitu Beksan Hanyokro Kusuma ๐Ÿ™‚

Anyway, what’s my point?

Kebiasaan deh… Ngomong ngelantur.

See ya! ๐Ÿ™‚