Amburadulnya #WallsIceCreamDay Yogyakarta dari Kacamata Saya

Sebelumnya saya ingin meminta maaf apabila nanti banyak pihak akan saya singgung. Saya sendiri juga menyadari sepenuhnya bahwa saya manusia yang tak luput dari kesalahan seperti Anda semuanya. Hanya saja, semoga tulisan saya ini bermanfaat sebagai self reflection bagi saya, teman-teman, masyarakat Yogyakarta, dan panitia dari #WallsIceCreamDay Yogyakarta.

Pagi itu, Minggu (11/05) saya bangun cukup pagi dan berjalan kaki dari rumah saya yang letaknya lebih kurang 1 atau 2 kilometer dari Alun-Alun Selatan Yogyakarta demi menghadiri event pertama dan terbesar #WallsIceCreamDay Yogyakarta. Saya datang karena saya membawakan 25 kupon untuk teman-teman sekelas saya yang berniat hadir meramaikan suasana.

Namun, belum-belum sudah terjadi kemacetan di simpang empat Plengkung Gading. Bahkan saya yang berjalan kaki pun sulit menembus kerumunan masa yang antusias menghadiri event tersebut. Sampai akhirnya saya tiba di dekat ex-kandang gajah dimana teman-teman saya sudah menunggu.

Karena malas dengan kemacetan yang menggila dan berbagai alasan lainnya, dari 25 orang tersebut hanya sekitar 14 teman saya dan 3 adik dari tiga orang teman saya yang hadir. Total 17 kupon sudah saya bagikan, otomatis saya masih memiliki 8 kupon yang saya pegang. Kami menanti sejak pukul 06.00, dan untuk membunuh kebosanan, kami menuju main stage.

Entah pukul berapa, tiba-tiba salah satu tenda yang memiliki freezer es krim tiba-tiba diserbu masyarakat. Kabarnya sih sudah bagi-bagi es krim, dan saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa es krimnya sudah disebar dengan cara dilempar-lempar. Namun, panitia dan MC akhirnya mengatakan bahwa es krim gratisnya belum akan dibagi. Katanya akan diberikan tanda berupa sirine.

Saya dan teman-teman lain sedikit lega dan kami menanti sirine tanda resminya pembagian es krim gratis tersebut. Sekitar pukul 09.00 saat sirine sudah berbunyi, masyarakat langsung menyerbu 10 payung Walls yang menjadi titik pembagian es krim gratis. Melihat kerumunan seperti itu saya dan teman-teman menyingkir, karena kami merasa risih kalau tidak antre dengan tertib.

Kami akhirnya mendatangi panitia di kiri panggung, memberikan sebagian kupon bernomor yang akan diundi untuk doorprize sekalian iseng saja saya ‘ngadu’ ke panitia kalau kami malah belum dapat es krim. Panitia akhirnya bilang ‘coba cari lagi mbak masih banyak kok’. Akhirnya saya mencoba mencari lagi, namun nihil. Dari 10 payung, sekitar 7 payung sudah ‘kukut’ alias kehabisan es krim. Tiga yang masih tersisa kembali dikerubungi massa.

Dari ke-17 orang yang bersama saya tadi, hingga sekitar pukul 10.00 hanya tersisa 8 orang. Sembilan orang yang lain sudah menyerah dengan ketidakpastian acara dan ketidak teraturan ketentuan di event ini. Karena saya sudah give up, sisa 8 kupon yang saya pegang saya bagikan ke anak kecil dan ibu-ibu yang mengaku belum dapat kupon, murni karena kasihan.

Kami terus menunggu hingga payung tersebut cukup sepi agar kami bisa mengantre. Toh, kami kan memiliki kupon bernomor 6000an. Seharusnya, kami masih mendapat bagian jika memang pembagian es krimnya berdasar kupon. Namun, lagi-lagi nihil. Kami berdelapan akhirnya hanya bisa melihat payung-payung yang digunakan untuk membagi es krim bergoyang hebat karena dikerubungi massa, dan es krim yang dilempar-lempar.

Beberapa hal yang akan saya soroti adalah dari segi keamanan. Banyak berita kehilangan, dan banyak anak terpisah dari orang tuanya. Yang paling mengherankan, bagaimana bisa acara sebesar itu tidak bekerjasama dengan kepolisian? Sejauh mata memandang, tidak ada anggota polisi yang terlihat di seputaran Alun-Alun Selatan. Polisi hanya berada di simpang empat Plengkung Gading mengatur lalu lintas. Namun, tidak ada upaya menertibkan massa yang dengan ‘brutal’ berebut es krim.

Kedua, dimana rasa tanggung jawab panitia event ini? Kami yang memiliki puluhan kupon tidak mendapat satu pun es krim gratis seperti yang dijanjikan. Sementara orang-orang lain yang tidak memiliki kupon justru bisa mendapat dua atau tiga, tergantung seberapa kerasnya Ia mendesak dan menggencet orang lain atau menangkap es krim yang dilempar-lempar oleh panitia.

Saya heran, mengapa panitia bisa kalah dengan massa non-kupon? Lagi pula, saya dan teman-teman saya yang mayoritas perempuan jelas tidak bisa ikut berdesakan dengan orang-orang. Haruskah saya—seorang perempuan usia hampir 18 tahun dengan tinggi 153cm—berdesak-desakan dengan mas-mas dan bapak-bapak yang tinggi dan berbadan besar? Haruskah saya berdesak-desakan dan menggencet anak-anak kecil dan ibu-ibu tua yang sudah tergencet mas-mas dan bapak-bapak tersebut? Dimana hati nuraninya? Kalau saya ikut berdesak-desakan, berarti saya menulis ini dengan munafik, dong?

Logikanya, jika pembagian es krim memang sesuai ketentuan yaitu yang memiliki kupon yang berhak mendapat es krim gratis, tentu kami tidak akan kehabisan es krim. Kami yang berusaha tidak bertindak seperti hewan dengan cara menyerbu dan berdesakan seharusnya masih mendapatkan bagian. Namun apa yang terjadi? Hingga acara ditutup sekitar pukul 11.00 tidak ada satupun dari kami yang mendapatkan es krim gratis yang dijanjikan.

Selanjutnya, saya tidak habis pikir dengan etika baik panitia maupun masyarakat. Es krim termasuk makanan, bukan? Apa sekolah dan orang tua Anda tidak mengajarkan untuk tidak melempar-lempar makanan? Bagaimana pun juga es krim tersebut ada karena hasil kerja keras banyak orang. Es krim tersebut juga makanan yang patut kita hargai. Jadi, jika Anda melempar-lempar makanan seperti itu, bisa kah saya menyebut Anda orang yang beretika?

Selain itu, untuk masyarakat pada umumnya, tidak kah Anda belajar budaya antre? Karena, sesuai dengan apa yang saya lihat, tidak ada orang yang antre dengan tertib. Mungkin hal itu terjadi karena panitia tidak menyiapkan lajur khusus agar masyarakat bisa mengantre. Namun, jika masyarakat sudah terbiasa dengan budaya antre, tentu dapat secara otomatis membuat barisan kan?

Saya merasa malu sebagai warga Yogyakarta yang dikenal menjunjung tinggi etika, sopan santun, dan kebudayaan. Ternyata masih banyak pula masyarakat Yogyakarta yang tidak mengenal budaya antre. Atas nama warga Yogyakarta, saya merasa malu dan memohonkan maaf atas keamburadulan acara kali ini. Namun, saya juga tetap kecewa dengan panitia yang tak beretika dengan cara melempar-lempar es krim seenaknya.

Selain itu, masalah kebersihan dan kepedulian lingkungan. Entah mengapa, saya tidak melihat tempat sampah tambahan yang disediakan panitia. Padahal, ketika saya mendatangi event-event lain, panitia selalu menyediakan tempat sampah tambahan. Hal ini seolah menjadikan panitia nampak tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan. Dan seusai acara pun Alun-Alun Selatan penuh dengan sampah bungkus dan stik es krim. Ini pun saya hanya membicarakan event yang di Yogyakarta. Karena, pada event yang sama di Surabaya, diberitakan oleh salah satu situs pewarta bahkan taman kota yang dibangun dengan dana milyaran pun rusak.

Sekali lagi, ini bukan masalah saya tidak kebagian es krim gratis. Karena, sejujurnya untuk membeli es krim Walls Magnum yang harganya belasan ribu pun saya masih mampu. Namun, hal ini membuktikan kurang siapnya panitia dalam mengantisipasi segala sesuatu, dan menyadarkan saya bahwa masih banyak warga Yogyakarta yang tidak mengenal budaya antre.

Amburadulnya event #WallsIceCreamDay Yogyakarta dan nihilnya rasa tanggung jawab panitia kepada massa berkupon yang tak mendapat es krim seperti saya, sejujurnya membuat saya kecewa kepada Unilever, khususnya es krim Walls yang sudah saya percaya selama hampir 18 tahun hidup saya. Saya—seorang pecinta es krim—yang selama hampir 18 tahun ini cenderung fanatik terhadap merek dagang Walls merasa loyalitas saya selama ini tak ada artinya.

Kedepannya, semoga baik panitia maupun masyarakat mampu introspeksi agar hal-hal seperti ini tak terjadi lagi. Semoga kelak kemudian hari, panitia mampu lebih tegas dengan ketentuan dan syarat yang ditetapkan sehingga tidak merugikan banyak pihak. Semoga kelak kemudian hari, masyarakat mampu membudayakan antre dengan tertib. Sekali lagi, semoga tulisan ini mampu menjadi self reflection bagi diri kita. Selamat ulang tahun, Walls yang ke-86 🙂 Semoga tak lagi memberi janji yang tak bisa ditepati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s