Surat Buat Anak IPA dan IPS

Selamat menjelang senja, teman-temanku baik anak IPA maupun IPS…

Di sore yang lumayan cerah ini, aku tak ingin berbasa basi yang bikin risih. Karena, inti dari tulisanku ini yang entah kamu artikan sebagai surat, curhat, atau sampah sekalipun, adalah sesuatu yang sejujurnya begitu mengganggu benakku. Begitu acak di otakku, hingga mungkin tak kan runtut segala perincianku. Maaf sebelumnya… Ini mengenai pilihan dalam kehidupan.

Perkenalkan, aku seorang siswi tahun ketiga di sebuah sekolah menengah atas di Yogyakarta, dan aku memilih jurusan IPA di tahun keduaku dulu. Alasannya? Aku belum mengerti dimana passionku. Aku menyukai mata pelajaran Matematika, Kimia, Biologi, Fisika, Sejarah, dan Bahasa. Namun, aku sejujurnya tak tega pula meninggalkan Geografi, Sosiologi, dan Ekonomi yang menggoda. Tetapi, kehidupan adalah tentang pilihan, dan aku memilih IPA, karena disana aku tetap bertemu dengan Sejarah, mata pelajaran IPS yang paling sulit kutinggalkan.

Aku menjalani tahun kedua, dan semakin mencintai Kimia. Ya, aku bahkan sempat berpikir ingin kuliah di Teknik Kimia atau Teknik Nuklir sekalian biar aku bisa ngebom rumah mantan manfaatin nuklir untuk perdamaian. Mulia banget kan hatiku pas itu? Sayangnya, aku pindah haluan…

Aku mulai mengenal Psikologi dari kakak sepupuku. Aku terkagum ketika melihat diktat pelajaran agamanya, yg mempelajari mulai dari animisme-dinamisme hingga Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hindu dalam berbagai aliran. Aku jadi bercita-cita masuk Psikologi. Namun, dasar akunya labil, aku pindah ke lain hati (lagi)…

Di tahun ketiga, aku memantapkan pilihan dan melihat passionku yang jelas nyata disana. Komunikasi dan bahasa asing. Ya. Dari setiap event sekolah, aku SELALU berharap bisa jadi subsie humas, namun aku tak pernah mendapatkannya, karena aku SELALU menjadi subsie lomba. Bosen? Iya. Tapi ya aku terima aja~ *yah ini gue malah curhat*

Akhirnya, di pilihan prodi SNMPTN Undangan pun aku memasukkan Ilmu Komunikasi UGM sebagai pilihan pertama, dan Sastra Jepang UGM sebagai pilihan kedua. Aku yakin anak IPS di seluruh dunia kini menghujatku dengan banyak alasan. Maka dari itu, inti tulisanku adalah minta maaf…

Maaf untuk teman-temanku anak IPA, karena aku menjadi ‘pengkhianat’ jurusan seperti kata mom Thea.
Maaf untuk teman-temanku anak IPS, karena aku menjadi ‘penjajah’ jurusan seperti kata banyak teman satu sekolahan.
Biar kata guru Bahasa Indonesia ini berlebihan, namun aku sungguh meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk teman-temanku, anak IPS… Semoga semuanya mendapat kelancaran di masa depan πŸ™‚

Sesungguhnya, tak ada anggapan anak IPA lebih keren dari anak IPS. Tak ada pula anggapan anak IPS lebih bahagia dari anak IPA. Bagiku, there’s nothing called Social and Science. Karena bagiku, sejujurnya semua ilmu itu saling berkesinambungan, saling terhubung, saling mempengaruhi. Kita bisa lihat contohnya pada filsuf-filsuf jaman Yunani-Romawi. Demokritus adalah pencetus teori atom (yang kita tahu di ranah Kimia dan Fisika) namun berjaya pula di ranah sastra. Pun Aristoteles yang merupakan ahli Fisika, Biologi, Zoologi yang juga kita kenal sebagai ahli Politik dan Pemerintahan.

Semoga, dengan ini, anak-anak IPS memaafkanku dan memahami alasanku memilih…
Semoga, dengan ini, masyarakat setidaknya tak lagi men-judge bahwa IPS merupakan buangan, karena itu merupakan pemikiran yang sangat primitif sekali~ *hiduplah di abris sous roche, kaum yang menganggap IPA lebih keren dari IPS!
Semoga, dengan ini, anak IPA tak lagi merasa “gila anak IPS enak ya, keluar ruang ujian tetep aja senyam senyum bahagia, beda banget sama kita”, karena kebahagiaan itu bisa didapat dari mana saja~

Sekian.
Semoga sukses menyertai setiap orang yang membaca tulisan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s