Surat buat Kakak

Selamat siang, kak, dimana pun kamu berada…

 

Sampai detik ini, aku terus berdoa untuk kebahagiaanmu.  Aku terus berdoa agar kau selalu dalam lindungan Tuhan-Mu. Entah, meski aku tak tahu Tuhan-Ku sama atau tidak dengan Tuhan-Mu, aku terus mendoakan yang terbaik untukmu.

Aku mengenalmu sekitar dua tahun yang lalu, namun aku seolah sudah bersahabat denganmu sejak dulu. Kak, apa kamu tahu aku pernah mengirim sepucuk surat buatmu? Dulu? Apa kamu membacanya? Ah, sepertinya bahkan kamu tak tahu aku memiliki blog ini, dan kamu tak pernah tahu tentang apa yang kutulis dulu. Pun surat yang kutulis sekarang, aku tak terlalu berharap kan sampai padamu. Aku hanya iseng-iseng berhadiah, sama seperti saat aku menjawab latihan ujian Fisika kemarin.

Kak, aku ragu. Keraguanku datang bersama dengan pesanmu melalui BlackBerryMessanger-mu di malam itu. Ketika kamu mengganti display picture-mu dengan sketsa wajah seorang perempuan yang kini mengisi hatimu dan menghiasi harimu, entah hatiku sedikit sakit. Aku merasa tersaingi. Aneh ya?

Waktu itu, kamu pun mengirimiku pesan, hingga akhirnya kita bercakap akrab seperti biasa. Aku akhirnya memuji lukisanmu. Indah. Karena kau melukisnya dengan rasa. Iseng, kamu menawariku sketsa yang sama. Iseng, aku menerimanya. Iseng, kamu bertanya kapan ulang tahunku. Iseng, aku pun menjawabnya, 9 Juni. Semuanya serba iseng. Aku meyakinkan hatiku bahwa ini pun sebuah pembicaraan iseng. Kamu tahu, kak, kenapa?

Karena aku sudah menunggumu selama setahun. Ya. Setahun. Menunggu sebuah janjimu di hari yang berhujan itu. Janjimu saat kamu datang ke rumahku dan memberiku setumpuk soal Fisika, dan bertanya tentang persamaan lingkaran dalam Matematika, serta Hukum Hess di ranah Kimia. Kamu tahu, kak? Menunggu itu tidak menyenangkan. Apalagi, kamu lupa dengan janjimu. Itu sedikit menyedihkan.

Pun ketika seseorang datang dan memberiku sebuah lukisan. Sketsa wajahku yang Ia buat tanpa kuminta, aku sungguh bahagia. Tak pernah ada seorang teman yang sebaik itu memberiku lukisan, sesuatu yang Ia buat dengan tangannya sendiri. Aku sengaja memamerkannya padamu, kak. Aku ingin tahu apakah kamu mengingat janjimu? Ternyata tidak. Lagi-lagi, aku diabaikan. Sedih, kak. Bukan kah kamu menganggapku adikmu?

Malam itu pula, ketika kita ‘iseng’ berbicara tentang hal yang sama untuk yang kedua kalinya, kamu pun menyinggung dia. “Bukannya udah ada yang nggambarin kamu ya, Dik?” Kamu tahu kak? Hatiku sungguh tak terima. Iya. Memang dia pernah membuatkanku sebuah sketsa wajahku, ketika aku sedang menari. Namun, itu berbeda denganmu, Kak. Entah mengapa sudut hatiku sakit lagi.

Eh, Kak, tapi kamu harus tahu sesuatu. Sakitku kini berbeda dengan setahun yang lalu. Setahun yang lalu, sakitku lebih sakit dari kali ini. Karena aku memiliki suatu rasa yang kutahu takkan sampai. Namun, kini, sakitku berbeda. Rasa sedihku hanya seperti ketika aku memiliki seorang kakak, dan seorang adik, lalu kakakku membagi roti miliknya dengan tak adil, sehingga porsiku lebih sedikit. Kamu paham maksudku, kan, Kak?

Banyak yang berkata dari kakak-adik zone, bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih. Namun, aku tahu, Kak, sangat tahu bahwa bagi kita kakak-adik sudah sangat lebih. Ya. Aku menikmati menjadi adikmu. Bercerita bebas denganmu, kadang mengagumimu tanpa rasa jemu dan malu ketika kamu menggerakkan tubuhmu untuk mengikuti alunan lagu. Aku bahagia menjadi adikmu. Sungguh. Meski aku mendapat porsi roti yang lebih kecil darimu.

Kak, aku berharap kali ini janjimu tak hanya layaknya mie sed*p rasa soto yang kebanyakan koya. Aku berharap janjimu nyata. Eh, tapi, kalau pun kamu lupa, aku tak masalah. Toh, ini semua hanya pembicaraan iseng, kan? Semoga kamu senantiasa berbahagia, kapan saja, dan dimana pun kamu berada.

Tanpa lilin,

Adik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s