Aku Malu Tak Kenal Pahlawanku

“Jas Merah: Jangan Sampai Melupakan Sejarah” – Ir. Soekarno, proklamator, Presiden Pertama Republik Indonesia

Baru sore tadi, aku mendapat dua buah mention di media sosial twitter dari dua orang berbeda. Mbak Tifa dan Mas Radit. Isinya sih sama memintaku mengisi kuisioner sebuah survey mengenai pandangan remaja dan sikap politik terhadap Pahlawan Nasional. Dilandasi rasa penasaran yang selalu menjadi alasan utamaku dalam menjalankan berbagai aktivitasku, aku buka saja linknya. Kemudian, aku bertemu sebuah kuisioner online via Google Drive.

Aku semakin tertarik ketika melihat bahwa penelitinya sedang sekolah di Inggris. Peneliti keduanya pun seorang penulis buku “Pejuang Perempuan”. Ditambah, ada iming-iming hadiah di akhir kuisioner tentunya dengan syarat utama jika beruntung. Okelah. Aku memulai mengisi kuisionerku. Pertama kali, aku diwajibkan mengisi data-data pribadi yang akhirnya menyadarkanku bahwa di tahun ini tepatnya 4 bulan kurang 1 hari lagi, umurku akan genap 18 tahun. Cukup bisa dianggap dewasa, selain karena aku sudah memegang KTP, SIM, dan mengikuti Pemilu kelak 9 April 2014.

Pertanyaan pertamaku adalah “Apa sih Pahlawan Nasional menurutmu? Siapa yang pantas dianugerahi gelar Pahlawan Nasional?”

Aku memutar otak, menanya hati dan pikiranku. Di sana disebutkan boleh menyebut nama. Namun, kebanyakan nama sudah jelas-jelas dianugerahi Pahlawan Nasional. Jujur, aku sempat bingung, hingga akhirnya aku memutuskan sebuah jawaban yang cukup universal.

“Proklamator, pendiri negara, atau pahlawan yang berjasa pada skala nasional, misalnya jenderal yang meninggal dalam peristiwa G30S/PKI. Pahlawan daerah yang memberi peran banyak pada pergerakan dan kebangkitan nasional. Pejuang-pejuang di daerah yang mampu menginspirasi dan menggerakkan massa berskala nasional demi kemajuan dan kebaikan negara.”

Yah, setelah dipikir-pikir aku tak terlalu menyesal menjawab seperti itu. Memang bagiku, seorang pahlawan haruslah bisa menginspirasi dan membuat seseorang atau suatu organisasi bergerak ke arah perbaikan. Itu sih yang aku pikirkan…

Kemudian, aku disodorkan pada form-form yang memintaku menulis nama Pahlawan Nasional yang kuketahui. Asal saja aku masukkan siapa nama pahlawan yang terlintas di kepalaku. Alhasil, aku hanya mengingat 4 nama Pahlawan Nasional perempuan yaitu Raden Adjeng Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, dan Christina Martha Tiahahu. Selebihnya? 16 Pahlawan Nasional laki-laki, yang entah benar atau tidak tulisan nama dan gelar/pangkatnya dalam kemiliteran.

Setelah itu, aku diberi berbagai pertanyaan mengenai alasan seorang pahlawan perempuan mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Pertama, Cut Nyak Dhien. Beliau adalah seorang pejuang perempuan dari Aceh yang menjadi pahlawan perempuan dengan cara mengangkat senjata melawan Belanda. Aku cukup mengenal tentang beliau sehingga tak terlalu kesulitan menjawabnya.

Kedua, Cut Nyak Meuthia. Astaga. Aku melupakan beliau. Ketika melihat namanya, barulah aku ingat, kita memiliki satu lagi ‘srikandhi’ dari Aceh selain Cut Nyak Dhien. Oke. Aku anggap ini bukan masalah.

Ketiga, muncullah nama Raden Adjeng Kartini. Okelah. Beliau memang pahlawan perempuan paling famousΒ di Indonesia. Siapa sih yang tak kenal beliau dengan surat Habis Gelap Terbitlah Terang-nya? Siapa sih yang tak kenal beliau dan sekolah wanita pertamanya?

Keempat, Dewi Sartika. Tak jauh berbeda dengan Raden Adjeng Kartini, beliau adalah juga memperjuangkan hak-hak wanita terutama dalam hal pendidikan. Yah, bisa dibilang beliau adalah penerus RA Kartini.

Kelima, Christina Martha Tiahahu. Sejujurnya, aku juga mengenal nama beliau saat menjadi peserta Camping Ilmiah Seveners 2012, sebuah acara kemah ilmiah yang diselenggarakan oleh sekolahku, SMA Negeri 7 Yogyakarta. Saat itu seorang temanku harus memakai pakaian yang mencerminkan Christina Martha Tiahahu sambil menceritakan biografi beliau. Selain itu, tadi pagi pada soal Pendalaman Materi Bahasa Indonesia juga disinggung sedikit tentang beliau, sehingga aku cukup tahu bahwa beliau berjasa melalui angkat senjata.

Keenam, Maria Walanda Maramis. Dangg!! Aku tak tahu, beliau siapa? Apa yang beliau perbuat untuk negeriku? Ini pukulan pertama buatku… Yang aku kenal hanya Mr. AA Maramis. Namun, Maria Walanda Maramis? Duh… Siapa ya? hehe *garuk kepala*

Ketujuh, Nyai Ahmad Dahlan. Deng dong! Pukulan kedua untukku. Oke, aku mengenal nama Nyai Ahmad Dahlan. Beliau adalah istri dari Kyai Haji Ahmad Dahlan yang tersohor dan berasal dari kotaku, Yogyakarta. Namun, aku tak tahu, apa yang beliau kontribusikan untuk negaraku?

Kedelapan, Nyi Ageng Serang. Ini merupakan pukulan ke-dua setengah untukku. Aku familiar dengan nama beliau, dan ketika aku memaksa kepalaku untuk mengingat, aku seolah tahu bahwa beliau turut berjuang mengangkat senjata pula. Namun, ketidakyakinanku menyumbangkan setengah pukulan bagiku. Maaf, Nyi Ageng Serang, saya sedikit lupa tentang anda 😦

Kesembilan, Rangkayo Rasuna Said. Astaghfirullah. Siapa lagi ya ini? Hehe. Aku semakin malu pada diriku sendiri. Tak tanggung-tanggung ini langsung memberikan pukulan keempat untukku! Aku hanya familiar dengan nama Rasuna Said yang cukup terkenal di daerah ibukota sana. Tapi, aku nggak ngerti Rangkayo Rasuna Said itu siapa?

Kesepuluh, Opu Daeng Risadju. Ya Allah. Ini siapa lagi… Bahkan namanya pun asing. Bahkan aku tak bisa menerka dari manakah beliau, dan kira-kira apa sumbangsih beliau untuk Nusantara? Lagi-lagi pukulan kelima untukku.

Kesebelas, dan keduabelas. Fatimah Soekarno, dan Tien Soeharto. Setahuku, mereka adalah Ibu Negara. Namun, cukupkah dengan menjadi Ibu Negara, beliau lantas dianugerahi Pahlawan Nasional? Iya sih, Ibu Fatimah memang orang pertama yang menjahit Sang Saka Merah Putih yang berkibar pertama kali di Jalan Pegangsaan Nomor 10. Namun, Ibu Tien Soeharto?

Setelah itu ada beberapa pertanyaan-pertanyaan mengenai sikap politik yang sedikit malas aku bahas. Dan setelah aku menyelesaikan semua kuisionerku dengan sebaik-baiknya, iseng aku bertanya kepada mbah Google tentang beberapa nama yang terasa asing bagiku.

Ternyata….

Ibu Maria Walanda Maramis adalah seorang pendobrak adat, pejuang kemajuan dan emansipasi wanita di bidang politik dan pendidikan dari Sulawesi Utara.

Nyai Ahmad Dahlan yang merupakan istri dari Kyai Haji Ahmad Dahlan yang ternyata merupakan pelopor emansipasi wanita pula, sekaligus pendiri Aisyiyah yang sempat ditolak proposalnya saat akan diberi nama Fatimah. Beliau dan Kyai Haji Ahmad Dahlan memperlambat Kristenisasi di Jawa yang dipelopori oleh pemerintah kolonial.

Nyi Ageng Serang yang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi ini merupakan Pahlawan Nasional yang kadang sedikit terlupa. Namun, melihat dari kepemimpinannya saat menggantikan kedudukan Pangeran Natapraja (ayahnya) dan monumennya yang diabadikan dengan patung beliau menaiki kuda dan membawa tombak, yah let’s say beliau berjuang mengangkat senjata pula…

Ibu Rangkayo Rasuna Said beliau adalah pejuang emansipasi wanita dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat dan beliau juga pernah menjadi DPR RIS. Beliau juga mahir berpidato, bahkan pernah ditangkap oleh Belanda karena isi pidatonya yang ‘berani’.

Sementara, untuk (mantan) Ibu Negara Fatimah Soekarno, yah tidak kita ragukan lagi andilnya dalam mempersiapkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan setelah saya googling sana sini, mengenai penganugerahan Pahlawan Nasional kepada Ibu Tien Soeharto, ternyata baru-baru ini menuai sedikit pro-kontra, karena menurut opini beberapa orang beliau hanya ibu negara. Tapi, menurutku sih, jadi Ibu Negara pusing juga lho… Mau bagaimana pun kan seorang suami nantinya pasti curhatnya ke istri, kalo suaminya presiden, yang curhatnya mengenai urusan kenegaraan, mau tak mau Ibu Negara juga berperan dalam pemerintahan meski tidak langsung…

Jujur…

Aku malu. Sangat malu.

Aku hidup di tanah ini sudah hampir 18 tahun.

Aku minum dengan air tanah ini, tinggal di tanah ini, makan dengan hasil bumi dari tanah ini.

Namun, aku belum banyak berkontribusi bagi negeri ini, Republik Indonesia.

Jangankan berkontribusi, sama Pahlawan Nasional wanita yang jumlahnya HANYA 12 saja tak hafal!

Maaf, Bung Karno. Bisa dibilang, saya melupakan sejarah…

#Moral Value:

Aku tahu pelajaran Sejarah di sekolah itu membosankan setengah mampus. Iya, aku juga merasakan begitu. Apalagi bagi kamu kita yang pecinta *ehem* Teori Konspirasi. Iya, sejarah di sekolah membosankanΒ tak semenarik illuminati, freemasonry, satanisme, dan sebagainya. Namun, yah, tak ada salahnya untuk setidaknya mengenal lah pahlawan-pahlawan yang sudah membuat kita hidup nyaman di jaman sekarang. Pahlawan-pahlawan yang secara tidak sadar sudah membuat saya bisa posting di blog kita menikmati dunia internet dan era global ini dengan MERDEKA πŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s