감사함니다, 당신 [Terima kasih, Kamu]

Siang menjelang sore yang basah, hujan tersenyum jumawa mengalahkan surya. Aku sudah siaga di depan layar laptop, namun aplikasi microsoft word milikku masih saja kosong. Yah, harusnya aku menulis esai atau mungkin pidato untuk ujian praktek Bahasa Indonesiaku besok. Namun, aku terlalu bingung, aku masih belum mendapat ide.

Sehari tadi seperti mimpi bagiku. Entah mimpi baik atau mimpi buruk, aku juga ragu. Pagi-pagi aku sudah disambut pendalaman materi Fisika yang hampir membuatku gila. Gila karena orang-orang di sekelilingku membicarakan Biologi dan Matematika, dan bukannya memperhatikan selaksa rumus yang tertera di papan tulis sana. Aku hanya mencoret jawaban yang benar sesuai pekerjaan guruku, mencatat caranya tanpa memasukkannya ke otakku, dan memainkan pensil. Aku bingung harus berbuat apa.
Setelah Fisika, aku masih harus bertempur dengan ujian praktek olahraga. Target-target di depan mata, namun saat percobaan aku sering gagal daripada berhasilnya. Namun, agaknya Tuhan memudahkan jalanku. Saat ujian praktek dimulai, servis bola voli pertamaku sudah berhasil masuk ke kotak dengan target 75. Meski empat percobaan terakhirku gagal, setidaknya aku sudah aman dan sudah dinyatakan lolos. Namun, aku tak lantas bisa bahagia. Bebanku masih dua…
Aku termasuk kloter pertama dalam ujian praktek Biologi kali ini. Aku mendapat satu preparat yang belum kupelajari semalam, otot lurik. Aku hampir frustasi saat salah satu temanku sudah mulai menggambar preparat yang diamati dengan mikroskop, sementara aku belum menemukan apa-apa. Aku sempat berganti preparat sekali, dan akhirnya aku berhasil menemukan apa yang kubutuhkan. Itu pun aku gagal menggambarnya dengan proporsional, sehingga aku harus mengulang.
Pada saat pengulangan, beruntung aku mendapat hasil pengamatan yang sangat indah. Namun, lagi-lagi kendalaku adalah menggambar. Aku. Hampir. Putus. Asa. Aku hanya melirik ke satu arah, dan tiba-tiba aku mendapatkan semangatku lagi. Biologi done!
Pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Inggris. Aku berharap bisa mendapat sedikit semangat dari mata pelajaran satu ini. Kenyataannya? Tidak juga. Sedikit masalah mengenai jadwal yang cukup berantakan, kelasku berakhir dengan mengerjakan SPM Bahasa Inggris unit 2 paket 4. Aku ditemani headset dan lagu-lagu kesayanganku yang terputar di ponsel.
Beban terakhirku akhirnya datang. Ulangan Matematika bab Barisan dan Deret Aritmetika. 10 soal, dikerjakan bersama caranya dalam waktu 45 menit. Satu soal 4,5 menit. Bagus. Aku menyelesaikan 7 soal dengan gemilang, 1 soal dengan susah payah, dan 2 soal lagi aku berhenti di tengah jalan. Aku pasrah terhadap hasilku. Setidaknya aku menyelesaikan 8 soal, dan jika itu benar semuanya, setidaknya aku tidak remedial.
Kupikir semuanya akan berhenti disini. Namun, aku masih salah. Ujian praktek Bahasa Indonesia dengan berpidato dan membuat esai sudah menghadang. Belum lagi aku harus belajar tentang oksidasi Aldehid sebagai ujian praktek Kimia besok Jumat. Guru Bahasa Jawa pun sudah masuk ke kelas dan memberi materi ujian praktek, Pranatacara, Sesorah, Macapat, Geguritan. Dan yang harus kuhadapi esok hari adalah ujian praktek Pendidikan Agama Islam. Hafalan bacaan shalat, bacaan shalat jenazah, hafalan surat dari Ad-Dhuha sampai An-Nas, hafalan surat Al-A’la, doa sehari-hari, dan membaca Al-Quran. Kepalaku sungguh ingin meledak.
Aku mencoba mencari kekuatanku. Aku mencari serpihan semangat yang mungkin bisa membantuku menyelesaikan banyak hal. Aku tidak bisa selemah ini. Aku harus kuat! Aku pun membuka screenshoot-screenshoot di ponselku. Mencoba mencari kata-katamu yang kurasa bisa menguatkanku. Dan aku pun menemukannya.
“Sabarlah… Sebelum menjadi diamond yang indah, dengan ukiran yang perfect. Perlu kita tempa dan digosok, diamplas, dipanasin, hasilnya cantik. Tapi inget, gak boleh mengeluh. Karena, nggak ada diamond yang mengeluh saat ditempa. Malahan dia diam dan siap buat jadi apa aja. Semangaat! ”
Entah mengapa, kata-kata itu selalu membuatku tersenyum. Kata-kata itu seolah membangkitkan semangatku lagi. Perumpamaan yang kau buat selalu tepat, selalu menyenangkan, dan mengena. Ah, mungkin jika bukan karenamu aku tak bisa mengusir rasa malasku untuk menuliskan ini semua.
Thank you, then. Terima kasih atas kata-katamu yang selalu membuatku tersenyum dan bangkit lagi. Terima kasih atas ekspresimu yang selalu membuatku merasa berarti. Terima kasih atas semua dorongan dan motivasi yang kau berikan baik via whatsapp, bbm, atau secara langsung. Terima kasih, kamu. 감사함니다, 당신

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s