Gugon Tuhon: Lestarikan atau Hentikan?

Mungkin tak banyak orang yang mengetahui istilah gugon tuhon. Menurut web Perilaku dan Pitutur Ala Jawa milik Iwan Muljono, kata gugon tuhon berasal dari kata ‘gugu’ yang berarti menurut, mengikuti pendapat atau nasihat, dan ‘tuhu’ yang berarti setia. Dengan demikian pengertian “gugon tuhon” adalah mengikuti dengan setia dan tanpa reserve. Pada umumnya nasihat dalam gugon tuhon bersifat wewaler atau larangan.

Gugon tuhon juga dapat dimaknai sebagai kepercayaan atau adat istiadat yang telah diwariskan secara turun temurun oleh para leluhur. Sesungguhnya, hal semacam ini pasti dijumpai di setiap daerah baik di Indonesia bahkan di luar Indonesia. Tentunya kepercayaan atau adat istiadat di suatu tempat akan berbeda dengan tempat lainnya.

Misalnya saja di wewaler atau larangan di Desa Wisata Budaya Grogol, Seyegan, Sleman, Yogyakarta. Desa ini memiliki gugon tuhon untuk tidak membangun rumah joglo ataupun memasang atap dari rumah joglo. Hal ini sudah diwariskan turun temurun, dan diyakini oleh masyarakat setempat meskipun mereka juga kurang mengerti apa alasannya.  Namun, ketika gugon tuhon ini dilanggar oleh sebuah keluarga, nyatanya keluarga tersebut memang mengalami berbagai gangguan yang pada akhirnya meyakinkan warga untuk tetap memegang teguh kepercayaan ini.

Gugon tuhon juga seringkali memberikan sebuah saran yang baik namun tanpa alasan yang jelas. Misalnya saja sebuah gugon tuhon yang berbunyi jangan suka mengintip, nanti timbilen (bisul kecil pada kelopak mata). Mengintip memang perbuatan tercela, sehingga mungkin maksudnya adalah tidak boleh mengintip agar tidak menyesal dan dihakimi massa jika ketahuan mengintip.

Ada pula gugon tuhon lain yang berbunyi barang yang sudah diberikan orang lain jangan diminta kembali, nanti gondhongen (pembengkakan pada leher). Ini juga perbuatan tidak terpuji karena barang yang sudah diberikan jika diminta kembali berarti kita memberikannya tidak dengan hati yang ikhlas. Atau gugon tuhon yang bunyinya jangan meludahi sumur, nanti bibirnya suwing (sumbing). Sumur merupakan sumber air bagi banyak orang, meludahinya jelas bukan perbuatan terpuji.

Masih banyak contoh gugon tuhon dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang banyak kepercayaan yang sedikit mengandung unsur mistis, sehingga banyak yang menyalahartikan sebagai namun banyak pula yang tidak. Di jaman yang serba moderen ini,  banyak orang yang mulai menganggap remeh gugon tuhon meskipun banyak pula yang masih memegang teguh kepercayaan ini. Lantas sebaiknya gugon tuhon ini dilestarikan atau dihentikan?

Pada dasarnya, gugon tuhon mengandung ajaran yang baik. Kepercayaan semacam ini melarang kita melakukan perbuatan tercela, meskipun memiliki alasan yang terkadang tidak masuk akal. Selama gugon tuhon yang ada di sekitar masyarakat mengandung ajaran baik, tidak merugikan pihak manapun, dan tidak bertentangan dengan norma agama, ada baiknya untuk tetap dilestarikan. Seperti yang diutarakan Danang Cahyo Nugroho dari Forum Komunikasi Desa Wisata Budaya Grogol, jika gugon tuhon tidak merugikan, sebaiknya tetap dipegang teguh. Karena, dengan melestarikannya secara tidak langsung juga telah menyelamatkan salah satu kearifan lokal.

Ketika gugon tuhon yang sebenarnya bertujuan baik namun disalahartikan, sebaiknya sebagai masyarakat yang cerdas mampu untuk menganalisa dan mengamalkannya dari sisi positifnya. Namun, ketika gugon tuhon yang berada di masyarakat dirasa merugikan sebagian pihak dan menyimpang dari kaidah agama, ada baiknya untuk dihentikan. Sehingga, mau dilestarikan atau dihentikan, semua tergantung dari substansi gugon tuhon itu sendiri.

(Erwita Danu Gondohutami / Kaca 19)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s