Desa Wisata Budaya Grogol: Terus Maju Tanpa Melupakan Masa Lalu

Berbicara mengenai Desa Wisata Budaya Grogol mungkin masih sedikit asing di telinga karena desa wisata ini terbilang cukup baru. Berawal dari pencanangan desa wisata oleh Pemerintah Kabupaten Sleman di tahun 2001, desa wisata Grogol terus mengalami perkembangan dan perbaikan baik secara infrastruktur maupun materi sebagai desa wisata.

Desa yang terletak di Kelurahan Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman ini masih terus berbenah diri. Menurut salah satu pengurus desa wisata Grogol, Danang Cahyo Nugroho, pihaknya masih terus membangun sarana dan prasarana seperti gazebo, restoran, dan berbagai fasilitas lainnya melalui Forum Komunikasi Desa Wisata Budaya Grogol yang dibentuk pada tahun 2010. Beliau berharap desa ini tidak hanya menjadi desa wisata yang semuanya serba harus disetting, namun dapat menjadi obyek wisata yang dapat sewaktu-waktu dikunjungi.

Selain itu, desa wisata ini sedang terus berbenah dalam memaksimalkan materinya dengan mempersiapkan paket-paket wisata yang bervariasi. Seperti fasilitas outbond, tracking, river tubing, dan sebagainya. Namun, meski desa ini sedang berusaha untuk maju dan berkembang, desa ini tak pernah sekalipun meninggalkan kearifan lokal yang dimilikinya.

Pengunjung yang datang akan mendapati suasana pedesaan yang masih sangat asri dan tradisional, serta dapat merasakan jamu beras kencur dan kunir asem racikan warga sekitar sebagai welcome drink di Desa Grogol. Selain itu, pengunjung dapat menikmati pula berbagai kesenian daerah dan upacara adat, salah satunya adalah Upacara Midhang.

Upacara Midhang di desa ini diawali oleh seorang pedagang yang mampir bermalam di kantor mandor pasar Grogol dan bernadzar bahwa jika kudanya yang lumpuh bisa sehat, maka Ia akan menyedekahkan sebagian hartanya disini. Keesokan harinya, kudanya pun sehat seperti semula sehingga pedagang tersebut menepati nazarnya atau nama lainnya Midhang. Desa Grogol pun menjadi daerah yang dirasa tepat untuk bermunajat, karena banyak doa yang terkabul dari tempat yang diyakini merupakan salah satu maqam atau jejak spiritual Sunan Kalijaga.

Selain itu, terdapat banyak sanggar seni yang masih eksis di desa ini diantaranya Sanggar Pujo Gati, milik keluarga dalang Bapak Sancaka. Pengunjung juga dapat bersepeda mengelilingi Desa Grogol dan menyaksikan pembuatan tahu, belajar membatik, melihat pembuatan kerajinan dan melukis gerabah, pembuatan jamu tradisional, belajar menari dan gamelan, dan sebagainya.

Bahkan desa wisata yang juga memiliki sumber mata air Tuk Sibedug yang diyakini berasal dari tongkat Sunan Kalijaga ini masih memegang teguh gugon tuhon (kepercayaan adat) yaitu larangan untuk mendirikan rumah joglo meskipun hanya bagian atapnya saja. Menurut Danang Cahyo Nugroho, pernah ada satu keluarga yang tidak mengindahkan kepercayaan ini, hingga akhirnya keluarga ini merasa terganggu kehidupannya. Sehingga mau tidak mau, warga desa Grogol masih memegang teguh kepercayaan ini hingga sekarang.

Desa Grogol ini memiliki keunikan tersendiri sebagai sebuah Desa Wisata Budaya. Desa ini seperti sebuah paket lengkap bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus mempelajari kesenian dan kebudayaan daerah. Desa wisata Grogol juga terus berusaha untuk berkembang dan berinteraksi dengan masyarakat salah satunya dengan media sosial twitter @dewagrogol. Namun, Grogol masih memegang teguh kebudayaan warisan dari leluhur. Sehingga, tepat bila Desa Wisata Grogol disebut sebagai desa yang terus melaju tanpa melupakan masa lalu.

 

(Erwita Danu Gondohutami / Kaca 19)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s