Biar Lebay Tetap Kita Cinta

Jam di ponselku menunjukkan waktu yang sangat krusial. Lima menit lagi bel berdentang dan itulah pertanda jam pelajaran dimulai. Aku menatap sekeliling, mencari-cari adakah seseorang yang belum datang. Kuhitung semuanya, 24 siswa. Masih kurang satu lagi, namun guru Biologi sudah terlanjur masuk dan menyanyikan Indonesia Raya.

Sekitar lima atau sepuluh menit setelah berdoa, seseorang datang, siswa ke-25. Tersenyum, mungkin tertawa. Wajahnya tanpa dosa. Dia tersenyum-senyum, permisi masuk, dan duduk dimana kursi kosong. Dengan seragam putih abunya dan jilbab paris abu-abu yang kadang tak rapi dia tetap santai dan langsung mengeluarkan bukunya.

Dia teman sekelasku sejak kelas X. Dulu, Ia bahkan sedikit lebih parah. Dulu, dalaman kerudungnya hanyalah selembar kertas yang diselipkan begitu saja. Tingkahnya yang lebay kadang mengundang tawa. Menurutku, dia anak yang cukup polos sehingga kadang-kadang menyebabkan anak itu sedikit lama loading datanya.

Sesungguhnya dia cantik. Badannya bagus, tinggi, kulitnya putih. Ia cantik dengan maupun tanpa kerudungnya. Ia menyenangkan dengan senyumnya yang selalu terlihat dimana-mana. Bahkan, guru Sosiologi pun pernah berkata bahwa sebelum kita melihatnya pun kita sudah melihat senyumnya.

Aku sangat salut dengannya. Aku juga menyukai gambaran-gambarannya. Sangat manis, menurutku. Tak heran Ia menjadi illustrator di majalah sekolah. Ia juga selalu berusaha menjadi pendengar yang baik.

Aku ingat, ketika kelas X dulu, ketika aku mengalami sebuah pengkhianatan dan rasa sakit hati yang tak mau lagi kuceritakan. Dia lah salah satu yang menghiburku. Mendatangiku yang tersedu di pojokan kelasku. Dia yang datang, menghibur, menyuntikkan kata-kata semangat. Ia yang mengingatkanku juga untuk tidak terjerumus lagi dalam mulut gombal ‘buaya’ itu.

“Nah kan, Wit… Bener kataku. Dia pasti datang ke kamu lagi, menyesal nyakitin kamu.” Itu adalah kata-katanya yang masih kuingat. Aku hanya bisa tersenyum saat itu, dan Ia berusaha mengingatkanku untuk tidak jatuh lagi. Aku sekarang bisa menghapus semuanya, itu juga berkat motivasi yang dia berikan.

Sama juga sepertiku, Ia gampang geli. Tapi, taraf geli-nya sudah mencapai stadium akhir. Kalau aku digelitiki, mungkin reaksiku hanya menghindar biasa. Sementara dia, dia akan berteriak-teriak sembari lari-lari menghindar sampai semua orang melihat ke arahnya. Lebay kan? Iya dia lebay .-.

Meski begitu, Palu class tidak akan lengkap tanpanya. Tanpa dia, kelas tak akan seramai ini. Tak akan ada tawa keras, senyum lebar, teriakan-teriakan lebaynya. Kelas ini akan sepi, kehilangan salah satu nyawanya. Dia adalah Rara Pembayun di jaman-jaman drama tugas akhir bahasa Indonesia kelas X. Dia adalah salah satu illustrator berharga yang dimiliki Brata. Dia adalah anak OSIS Wibhakta yang menjadi ketua panitia Japan Competition. Dia adalah orang yang selalu berusaha tersenyum, selalu berusaha mendengarkan, seberat apapun masalahnya. Dia adalah anak lebay yang tetap kami cinta. Still be the stars here, ya? Nurul Asniatin =)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s