Cinta Seni dan Budaya Itu dari Hati!

Seni dan budaya. Koar-koar tentang mencintai seni dan budaya memang sudah lama terdengar. Tak heran sekarang banyak kegiatan dan aksi-aksi sosial bernafaskan hal tersebut.  Namun, banyak orang yang menurutku kurang memaknai hal tersebut dengan benar. Siapa saja kah mereka?

Pernah suatu ketika, di Sanggar Tari Wiraga Apuletan yang kebetulan adalah rumahku sendiri, datang seorang perempuan cantik. Usianya mungkin baru 20 atau 22 tahun. Rambutnya panjang dan indah. Pada intinya dia cantik, dan dia ingin belajar menari Tari Klasik Gaya Yogyakarta.

“Permisi, Mbak. Saya mau belajar menari, tapi saya mau privat,” ujar mbak-mbak cantik itu ke mbak sepupuku.

“Oh, privat ya? Mau buat kepentingan apa, Mbak?”

“Ini saya mau daftar jadi Diajeng. Kan salah satu yaratnya harus bisa menari,” kalo gak salah ingat sih mbaknya bilang gitu tadi.

“Berapa lama Mbak mau belajar privatnya?” tanya Mbakku ramah, meskipun hatinya udah agak dongkol juga.

“Ya seminggu lah, Mbak. Bisa kan?” Mbak-mbak cantik itu berkata polos, tanpa dosa. Satu hal yang terbersit dalam pikiranku dan tentunya pikiran mbakku saat itu adalah “Kurang ajar. Kamu kira menari segampang bikin indomie telur gitu?”

Ini adalah hal yang—sejujurnya—sangat disayangkan. Pemudi cantik itu ‘hanya’ akan belajar menari dengan tendensi biar bisa menang Diajeng. Ya Allah. Dia hanya meminta belajar 1 minggu. Aku hanya bisa tertawa dalam hati. Aku yang latihan sudah 12 tahun lebih, teknik gerak tariku aja masih jelek kayak gini. Gimana yang belajar hanya seminggu? Mana dia belajar dari nol.

“Duh, Mbak. Kalau seminggu saya tidak berani. Minimal sebulan, itupun saya nggak bisa menjamin. Karena, menari itu nggak bisa instan,”

“Yah, tolong lah, Mbak. Saya mau bayar berapa aja deh.” Dan lagi-lagi aku dan mbakku hanya bisa mbatin “Kita nggak kepengin uang, Mbak. Kita mengajarkan seni dengan hati, karena cinta, bukan karena uang!” Dan ini semacam pelecehan, menurutku.

“Maaf, Mbak. Cari orang lain saja. Kami benar-benar nggak bisa bantu, seberapa besar pun bayarannya.” Mbakku kukuh dengan tidak mau mengajari menari secara instan.

Miris kan? Ini lah sisi ironinya seni dan budaya. Mereka ada, mereka eksis, mereka dicintai. Namun, sebagian orang mencintai mereka karena terpaksa, karena merasa ‘diperkosa’ harus bisa karena menjadi syarat mengikuti duta ini, putri itu, miss ini, diajeng itu. Mereka belajar seni dengan tendensi. Dan ketika mereka sudah bisa, mereka akan melupakannya begitu saja. Lha wong cuma buat syarat kan ya?

Yang lebih menyedihkan lagi, mereka menganggap seni tari itu mudah. Padahal, mereka salah besar! Belajar menari itu tidak bisa instan. Belajar bagaimana mendhak yang bener, ingset dan menyeimbangkan badan pun butuh berbulan-bulan. Seperti yang sudah kubilang di awal, aku yang belajar sudah 10 tahun lebih saja masih belum bagus dan butuh banyak belajar. Cethik yang sebelah kiri belum dapat. Posisi tangan terkadang masih belum sesuai. Dan masih ada selaksa aturan yang tak mudah. Dan itu hanya akan dipelajari dalam seminggu? NONSENSE!

Tapi, akhir-akhir ini, aku cukup seneng juga sih. Sanggarku mulai ramai oleh remaja-remaja yang benar-benar aware dengan seni dan budaya, khususnya seni tari. Hari Jumat malam, sanggarku selalu penuh oleh pemuda-pemuda yang datang dan belajar menari dengan hati mereka. Tulus, tanpa tendensi, tanpa mengejar target. Begitu pun dengan hari Sabtu.

Ketika aku gladhi beksa—latihan menari—di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pun banyak juga remaja seusiaku ikut latihan. Jujur, ini terasa sangat menyenangkan. Setiap hari Minggu berkebaya, dengan jarik, bersanggul tekuk, dengan sampur—selendang—melekat di pinggang. Bisa bertemu remaja-remaja dan bahkan orang-orang tua yang menari karena cinta, menari karena itulah hidup mereka.

So, in short, seni dan budaya apapun jenisnya, cintailah dari hati. Pelajarilah tanpa tendensi. Tekankan bahwa mempelajari seni dan budaya setempat itu murni untuk mempelajari karakter masyarakat itu sendiri. Apapun yang dipelajari dengan cinta dan sepenuh hati pasti akan berbuah dengan baik.

“Tak perlu belajar seni dan budaya dengan memikirkan untung rugi. Karena, semuanya pasti akan memberikan keuntungan tersendiri. Dengan syarat, kita melakukannya dengan tulus, tanpa tendensi, dan berasal dari cinta dalam hati.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s