Entah!

Ibuku kembali membuatku terjaga di pagi yang kelabu. Entah, mentari mungkin malu untuk menampakkan seringainya padaku. Aku terpaksa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, mengingat sepeda biruku masih belum kuperbaiki.

Semalam hingga pagi ini, tak ada sekecap pun pesan masuk untukku. Apalagi seuntai pesan darimu seperti biasanya. Ah, mungkin, mentari tahu betapa mendungnya hatiku, hingga ia turut bersedih untukku.

Sejujurnya aku juga tak tahu. Dia bukan siapa-siapa, namun tiba-tiba saja datang dan memikatku. Tapi sebelah hatiku pun masih ragu. Ah entahlah~ Perasaan selalu tak menentu.

Aku tersenyum, berusaha tersenyum lebih tepatnya. Aku berusaha membetengi hati, dan menghalau bunga dan kupu-kupu kecil yang mulai nampak bersemi.

Aku juga tak tahu apa yang terjadi denganku. Setiap kali aku menghalaunya, rasa hampa dan kekosongan itu kembali tiba. Aku merasa sendiri.

Namun, manakala aku merasa aku memiliki. Justru hatiku pedih tak terperi. Kenapa? Entah~ Aku pun tak mengerti…

Sejauh ini, aku hanya mampu berserah diri. Aku hanya mampu bermohon kasih-Nya. Aku hanya meyakini keadilan-Nya..

Ya, mungkin apa yang seharusnya milikku sedang disimpankan oleh-Nya untukku πŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s