Selamat Malam, Kakak :)

Minggu yang kelabu. Aku tetap menyempatkan diriku untuk tersenyum dan menatap layar ponsel di depanku. Apapun yang terjadi, semendung apapun mega di depanku aku harus terus melaju…
Empat puluh lima menit waktu berlalu. Pegal di badan tak jadi masalah buatku. Yang terpenting, kini aku mendapat selaksa ilmu baru. Proses penulisan hingga cara editing menjadi santapanku. Namun, aku menikmatinya semampuku. Hingga akhirnya, awan benar-benar menangis dan menyebar hawa dingin di kalbu…

Ketika mentari mulai mampu tersenyum kembali, aku memulai perjalanan dari utara. Aku pulang. Aku pulang dengan selaksa motivasi. Nanti sore aku akan bertemu denganmu, dan beberapa teman kita…

Acara buka puasa bersama berjalan lancar seperti biasa. Tumben kau bisa hadir di tengah kami semua… Biasanya kan kau sibuk dengan pekerjaanmu… Aku hanya bisa tersenyum melihatmu. Aku merindukan senyummu.

Dan satu ajakan kecil sore yang sendu, membuatku sumringah dan menyingkirkan mendung di hatiku. Pameran seni. Selepas acara ini, kita bersembilan pergi ke sebuah pameran seni…

Kau tahu… Betapa aku hanya mampu tersenyum malam ini. Keindahan serta keunikan lukisan dan benda-benda yang diperlihatkan, ditambah kehadiranmu yang nyata, yang jarang kurasakan. Semua terasa menyejukkan. Bahkan, derasnya aliran angin AC di ruangan ini tak sebanding dengan kesejukan yang kau alirkan…

Aku hanya mampu tersenyum melihatmu tersenyum. Hanya itu. Tak mampu yang lainnya. Karena aku sadar, jauh disana sudah ada yang mengisi ruang itu…

Foto-foto yang terambil… Ah, aku ingin memilikinya. Sekedar untuk kubingkai dalam hati, tak kupamerkan pada siapa-siapa. Bolehkah?

Hampir pukul sembilan malam. Katamu, kau akan mengantar seseorang pulang. Dan satu kalimat terucap… “Hati-hati ya, Dek”

Aku menyusuri jalanan yang belum sepi. Traffic light yang memancarkan merahnya lampu memaksaku berhenti. Aku menengok ke belakang, seorang teman. Aku tersenyum. Rumahnya juga daerah selatan.

Traffic light menyala kehijauan. Aku mendengar suaranya~ Namun aku berpikir mungkin halusinasiku saja. Aku melaju kecepatan sedang dengan motorku. Dan… Kau tepat disampingku?

Ternyata, kau tak jadi mengantar teman itu… Kalian berdua mengendarai sepeda motor di belakangku. Aku tersenyum, hampir menangis kurasa. Aku merasa seperti dikawal. Haha. Keterlaluan kah?

Seharusnya… Kalian bisa melewati jalan yang satunya, yang lebih besar, yang tanpa kelokan, yang tentu kalian bisa melaju lebih cepat. Jadi, terima kasih sudah memilih jalan kecil berliku dan akhirnya menemaniku sampai sebelum gangku…

Kakak. Terima kasih.
Untuk semua. Untuk kesempatan melihatmu lagi.
Untuk ucapan ulang tahunku yang terlambat satu bulan lima hari…

Terima kasih.

Selamat malam, Kakak…

Sincerely,
Adek.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s