Pemuda Sederhana dan Sepatunya

Sepintas Ia biasa saja. Sepatu hitam, rambut keriting namun rapi, seragam putih yang selalu masuk ke dalam celana panjang abu-abu, dan tas ransel. Ranselnya termasuk baru, baru hampir setahun ini Ia berganti tas ransel. Sebelumnya Ia mengenakan tas selempangnya yang sudah usang.

Ia pemuda yang biasa saja. Namun, dibalik kesederhanaannya Ia berbeda. Ia berbeda dari 9 anak laki-laki lainnya di kelasku. Ia murah senyum, baik hati, pengertian, penyabar, dan sebagainya. Pernah suatu ketika saat Ia mengerjakan tugas kaligrafi, aku iseng bertanya “Kalau gambaranmu aku coret gitu gimana?” Bayangkan… Apa reaksinya? Dia hanya menjawab, “Yaudah nanti aku nggambar lagi.” Dengan senyum dan wajah tulus.

Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah akan menghajar si pelaku. Berbeda dengannya, Ia selalu menerima dan mengikhlaskan. Percaya atau tidak, Ia termasuk anak lelaki yang berprestasi di kelasku. Peringkatnya termasuk paling tinggi diantara teman-teman lelaki yang lain. Selain itu, Ia pernah memenangkan juara 2 lomba Geguritan bersamaan denganku yang memenangkan juara 1 lomba Tari Klasik Gaya Yogyakarta Putri. Itu membuat anggota Brata—jurnalistik sekolah—berniat mewawancarainya.

“Aduh, Wit… Kalau tahu itu dari Brata dan mau tanya-tanya tentang prestasiku, mending aku nggak mau aja,” ujarnya suatu ketika.

“Lho? Lha kenapa? Kan emang kamu berprestasi…”

“Aku nggak mau. Aku nggak suka di-expose. Aku pengennya yaudah gini aja…” ujarnya pelan. Ya Tuhan. Betapa down to earth pemuda di hadapanku ini!

Di hari yang hujan, aku dan teman-teman kelasku melihatnya berjalan berjingkat melewati kubangan air. Aku terheran. Kenapa dia? Ternyata, masalah utama terletak pada sepatunya. Sepatu hitamnya yang juga sudah lama itu berlubang di bagian bawahnya. Itu sangat menggelitik kami untuk memberikan sesuatu padanya.

Setelah lama berwacana, akhirnya terealisasi juga. Sepasang sepatu hitam sederhana yang cocok dengan kepribadiannya, dua pasang kaos kaki, seperangkat alat tulis, dan buku tulis. Kami patungan sekelas untuk membelinya. Meski saat itu keadaannya aku juga tak memiliki banyak uang, namun aku tak tega melihatnya berjalan berjingkat tiap ada kubangan air.

Aku tersenyum lega melihat senyum dan tangis harunya saat melihat sepasang sepatu dari kami. Dia berkata bahwa dia hanya bisa mendoakan kami agar kami mendapat yang terbaik sebagai balasannya. Sebenarnya, tanpa kau berdoa pun kau sudah tak punya hutang apa-apa. Keberadaanmu di kelas ini, kerajinanmu, kerapianmu, segala kebaikan hatimu sudah menjadi suatu hal yang tak terhingga buat kami.

Aku selalu ingat, dia tak pernah lelah menata kelas yang berantakan ini. Kadang dia sendiri yang menyapunya, membereskan meja guru, merapikan taplak, merapikan lemari kelas, dan sebagainya. Sebenarnya hal kecil dari kami ini adalah balasan untuk setiap kebaikan yang dia perbuat… Sungguh tak perlu membalasnya dengan apa-apa. Toh kita sudah ber-simbiosis mutualisme kan?

Satu hal yang masih tak kusangka… Dia begitu menghargai segalanya. Hal kecil yang dapat kami sampaikan ini selalu menjadi berharga baginya. Ini menyentuh, dan membuat kedua mataku panas kala itu. Aku tak akan pernah melupakan bagaimana sensasi yang kurasakan.

Terima kasih, sahabatku. Terima kasih, pemuda sederhana yang menginspirasi kami semua. Terima kasih, untukmu… Tatak Puji Wahyudi. Semoga kau selalu dalam lindungan-Nya 🙂 Amin. Kau selalu bagian dari XI IPA 3, wahai penghuni absen nomor empat belas…

 

@erwitaDhutami

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s