Aku Ingin Tersenyum!

Aku menghitung mundur segalanya. Tak terasa sudah beberapa minggu ini aku tak tersenyum. Sudah beberapa minggu ini aku hanya tersenyum untuk menutupi kekacauan hatiku. Apalagi ketika aku mengingat kejadian sebulan lalu denganmu… Rasanya itu semua hanya mimpi di siang hari! Bahkan aku tak yakin itu pernah terjadi… Akhir – akhir ini aku tak benar – benar tertawa saat seisi kelas tertawa. Aku tak benar – benar tersenyum saat teman – temanku menghibur. Bahkan, sebaliknya, saat itu juga hatiku menangis iri. Aku ingin tertawa selepas mereka!

Seminggu ini aku menempuh ujian akhir semester 1. Awal – awalnya memang kau nampak seperti moodbooster dalam hidupku. Tiap kali aku kehilangan semangatku, aku hanya perlu melihat ke arah seberang sana, dan menunggu senyummu yang biasa. Bahkan beberapa pesan singkatmu masih mewarnai inbox ponselku. Hampir semua mata pelajaran dapat kulalui tanpa mencontek, tanpa tanya kanan kiri. Hebat kan? Ya, kupikir ini semua karenamu…

Apalagi, ujian kali ini aku duduk bersebelahan dengan kelasmu, merasakan atmosfer kelasmu yang begitu menyenangkan dan ramai. Atmosfer kelasmu yang santai dan lucu. Bahkan, kurasa baru kali pertama ini aku ujian sembari tertawa – tawa di kelas. Ini semua berkat teman – teman kelasmu yang lucu. Sayangnya, kau tak berada di kelas yang sama denganku…

Namun, detik ini juga aku tersadar, agaknya aku harus bersyukur bahwa kau tidak sekelas denganmu. Entah apa jadinya hidupku bila aku sekelas denganmu! Karena apa? Lagi – lagi kau merapuhkan pertahanan baja yang sudah bersusah payah kususun perlahan sepenuh hatiku… Kau menghancurkannya lagi, sama seperti dulu, sama seperti delapan bulan yang lalu…

Kau tahu? Aku lelah. Sangat lelah. Aku lelah menjadi diriku yang seperti ini. Aku lelah mengikuti intuisiku yang selalu cenderung mengejarmu. Padahal, kau seakan berlari semakin menjauhiku. Aku lelah mensejajari seluruh langkahmu. Aku teramat lelah… Aku lelah melawan semuanya. Aku ingin tunduk, taat, patuh… Aku ingin mengalir. Aku ingin ketenangan…

Aku lelah kau permainkan. Aku lelah kau tarik lalu kau ulur aku lagi. Aku lelah. Aku lelah tersenyum denganmu, karena setelah itu aku pasti akan menangis hebat. Padahal, aku sangat lelah menangis. Aku lelah ketika hatiku harus membiru lagi karenamu. Sejujurnya dalam hatiku, aku masih ingin tertawa bersamamu. Namun, aku takut menangis lagi… Bisa kah kita tertawa bersama lagi tanpa kau harus membuatku menangis setelahnya?

Namun hatiku sudah cukup lelah. Aku ingin belajar tersenyum tanpamu. Meski kini hatiku masih membiru… Aku menyadari kebenaran ucapan orang – orang di sekitarku: keluarga, sahabat, teman – temanku, semuanya! Aku sadar mereka benar, bahwa jika aku masih bersamamu, aku akan sangat bahagia, namun kebahagiaan itu hanya sesaat… Akan ada banyak memar dalam hatiku jika segalanya kuteruskan. Dan akhirnya aku memutuskan… Aku ingin belajar bersyukur tanpamu… Aku ingin belajar ikhlas, belajar merelakanmu melakukan apa saja dengan siapa saja… Aku hanya ingin tersenyum ikhlas, senyum penuh syukur, senyum yang dari hatiku… Dan semoga aku benar – benar bisa mendapatkan senyum yang aku mau itu, tanpamu…

Yogyakarta, 6 Desember 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s