Sabtuku yang (Lagi – Lagi) Tidak Kelabu

            Selamat pagi, Tuhan… Selamat pagi, Raditya… Aku sangat menanti hari Sabtu ini. Mengapa? Karena hari ini cukup Bahasa Indonesia saja! Setelah Bahasa Indonesia, aku akan terbebas dari ujian MID Semester 1 untuk minggu ini, meski besok Senin masih ada tiga mata pelajaran yang belum bisa membuatku bernafas lega.

            Hari ini, aku tersenyum – senyum sendiri melihat pesanmu… Jangan lupa bawa helm ya. Ya. Aku masih ingat pesan – pesanmu semalam, dan inilah yang membuatku sangat menanti hari Sabtu ini. Aku mengerjakan soal Bahasa Indonesiaku secepat kilat. Ringkas meringkas bukan masalah berarti bagiku. Usai itu, aku menanti waktu. Aku menanti dentang jam yang menandakan pukul sebelas siang. Aku mengikuti pelajaran tambahan Biologi untuk menghadapi hari Seninku esok, sembari membunuh waktu…

            Aku duduk manis sembari bercanda tawa dengan kawan – kawanku di gerbang sekolah. Ketika itu, temanku berkata seperti melihatmu masuk ke dalam sekolah. Dan tak lama, kudapatkan sepucuk pesan darimu. Ya, aku akan menunggumu disini sementara kau ke perpustakaan. Tak lama kemudian kau keluar dengan sepeda motor merah dan helm merahmu. Kau… Seperti biasa. Tampak bagus, dan selalu begitu.

            Kau mempersilakanku naik ke atas motormu. Dan lagi – lagi, kenangan manisku denganmu kembali terputar. Hari ini, dengan jaket baseball, kaos putih Manchester United, sandal hitam, tas ranselmu yang biasa, dan tak lupa kacamata minus duamu, kau tampak menarik. Aku hanya tersenyum di balik punggungmu, merasakan sensasi – sensasi aneh menjalar di tubuhku.

            Roda melaju memeriahkan siang yang terik. Aku menikmati saat – saat aku terduduk di belakangmu seperti ini. Sepanjang jalan, kita membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan. Kau tahu? Aku sangat merindukan saat seperti ini. Dan tak terasa, kita sudah sampai di Ambarrukmo Plaza, destinasi pertama kita untuk hari ini. Grogi? Pasti. Canggung? Tak ragu lagi. Namun, aku hanya terus tersenyum, berusaha menghilangkan gengsi yang menggunung.

            Masuk melalui pintu depan, kau dan aku duduk sebentar. Ngadem. Kau melepas jaket baseball-mu, dan aku mengencangkan tali sepatu converse hitamku. Kita sama – sama terdiam, ketika akhirnya sama – sama menemukan pembicaraan lagi. Dan kau mengajakku berdiri untuk berkeliling.

            Aku melihat banyak pasangan – pasangan. Ada yang bajunya kembaran, sementara kau mengenakan kaos putih dan aku seragam batik. Ada yang saling berpegangan tangan, sementara aku hanya memegangi tanganku sendiri, dan kau pun memeluk siku. Ada yang saling berangkulan, sementara kita hanya berjalan bersisihan dan saling melempar pandangan. Dan kita memutuskan untuk melihat – lihat di Gramedia.

            Banyak buku – buku yang menarik. Dan banyak yang sudah kubaca. Kau dengan antusias mendengarkanku bicara, tanpa pernah merasa jemu. Kau dan aku tertarik pada beberapa buku yang sama, seperti buku – buku tentang Satanisme dan Illuminati. Aku juga heran, kenapa bisa? Dan disini, kita bertemu empat orang yang kita kenal. Mas Bambang, Mbak Yuni, Mbak Trisnia, dan Mbak Dyah. Semuanya adalah kakak kelasku, dan berarti temanmu seangkatan. Aku hanya tersenyum malu, sementara kau seperti maling yang tertangkap basah.

            Setelah itu, kita mampir ke konter Roti Boy. Ah, aku jadi teringat sepupu perempuanku yang pertama kali mengenalkan Ambarrukmo Plaza padaku saat aku kelas 6 Sekolah Dasar. Kita duduk lagi di tempat yang tadi, membicarakan lagi segala hal, dan lain sebagainya.

            “By the way, ini pertama kalinya kita jalan ya?” ujarmu saat kita duduk di dekat konter Buccheri.

            “Iya. Kasihan ya kita? Jalan pertamanya pas udah putus.”

            “Nggak kasihan sih. Yang penting tetep bisa sama kamu.” Dan aku hanya bisa tersenyum simpul seperti biasa.

            Lapar mulai mendera, diikuti waktu yang terus berlalu. Perlahan tapi pasti, kau dan aku kembali melaju menuju sebuah rumah makan di daerah Jalan Taman Siswa. Kau menghentikan sepeda motormu di Ayam Ayam Resto. Ini kali pertamaku kesini, dan tentunya bersamamu. Aku yang tidak bisa makan pedas memberikan semua jatah sambalku padamu. Kau mirip sekali dengan adikku saat memakan sesuatu yang pedas, yaitu keringat yang bercucuran.

            Ah! Ingin sekali aku mengusap keringat di wajahmu dengan tissue yang ada disampingku. Namun, sejuta rasa canggung dan gengsi menahanku kuat. Aku hanya terdiam dan tersenyum melihatmu yang berkeringat hebat. Ah, andai aku bisa… Dan seusai acara lunch ini, kau mengantarku pulang.

            “Thanks ya buat hari ini.” ujarmu sembari mengambil helm di motor merahmu.

            “Aku yang makasih, Mas…”

            “Ya aku lah… Kan aku yang ngajakin, kamu yang nemenin aku jalan. Ya aku lah yang makasih…”

            “Yaudah sama – sama deh. Hehe.”

            “Maaf ya kalau geje.” Yang ini kau utarakan saat kita sudah terduduk di atas jok motormu.

            “Aku juga minta maaf. Tadi aku canggung banget.”

            “Yaudah deh sama – sama. Hehe. Maklum udah enam bulan…” Dan kita terdiam lagi.

            Seperti biasa, aku turun di tempat biasanya—seperti permintaanku. Setelah mengucap salam perpisahan dan hati – hati di jalan seperti biasanya, tiba – tiba kau mematikan mesin motormu. Aku bertanya – tanya dalam hati, sembari terus berjalan ke rumahku yang tinggal beberapa langkah lagi. Ternyata kau menungguku masuk ke rumah dengan selamat. Kulambaikan tangan dari kejauhan, tanda bahwa aku baik – baik saja. Dan kau baru menyalakan mesin motormu dan berlalu.

            Bagaimana aku bisa mengabaikanmu? Bahkan sikapmu lebih manis daripada dulu. Bagaimana aku bisa menghindar darimu? Jika sebagian rasaku tak ingin kau jauh dariku. Ah, hanya Tuhan yang akan tahu bagaimana cerita kita selanjutnya, Raditya-san…

Yogyakarta, 13 Oktober 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s