Nowhere to Go

            Ohayou gozaimasu, Raditya-san! Pagi ini, kuhembuskan doa singkat disela pagi yang hangat dan penuh cucuran keringat. Disela – sela bangun kesianganku yang amat jarang kuperbuat. Namun, aku tetap tersenyum seperti biasa, meski hatiku panik luar biasa.

            “Udah persiapan apa aja?” tanya Ibuku pagi ini

            “Aku? Eh… Emm… Itu… Programku disana mau ngapain, motivasinya apa, wawasan tentang Jogja. Ya gitu – gitu deh… Hehe.” Aku sedikit gelagapan, namun kuakhiri dengan sebuah cengiran.

            Kau pasti sudah tahu kan? Hari ini adalah tes tertulisku untuk pergi ke Kota Palembang atau Kabupaten Ogan Ilir sana. Terima kasih banyak untuk tawaranmu yang ingin mengantarkanku. Namun, tes tertulisku kali ini pukul satu. Dan aku benar – benar tak bisa mengganggu studimu yang entah tinggal berapa bulan lagi…

            Aku pergi ke sebuah Sekolah Menengah Pertama Negeri di depan kantor Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Aku akan melakukan tes tertulisku disana. Kau tak perlu khawatir… Ada Lalitya, Adam, dan Yudhi yang bersamaku. Kau hanya perlu mendoakan segala yang terbaik bagikuku. Itu saja sudah sangat membantu.

            Pukul dua tepat, bel tanda pengerjaan sudah dimulai. Aku mengerjakan 8 soal esai dengan cukup mudah. Karena apa? Aku hanya mengandalkan semua kekuatan, kemampuan, dan pengetahuan yang kumiliki. Aku tak berusaha menjawab yang paling sempurna, namun aku menjawab sebaik – baiknya. Sebaik yang aku bisa.

            Selasa yang menyenangkan bagiku. Aku separuh optimis, dan separuh pesimis bisa lolos pertukaran pelajar ini. Yah, ini pengalaman pertamaku dalam hal student exchange seperti ini. Yang jelas, harapan untuk lolos selalu ada. Harapan itu akan terus kupupuk di hatiku, sebagai sebuah motivasi.

            “Kalo kamu lolos berarti aku ga bakal ketemu kamu dua minggu ya?” ujarmu dalam sebuah pesan singkatmu.

            “Iya, Mas. Ah tapi kan hanya dua minggu.” Batinku, memang kalau aku tak pergi, apa kau akan menemuiku? Tidak bukan?

            Hah. Aku bingung dengan diriku sendiri. Nampaknya benar kata mas Nizar, pelatih peleton inti di sekolahku, bahwa aku ini ababil alias abg labil. Ya, aku memang labil. K-U-A-K-U-I I-T-U! Bahkan, separuh hatiku ingin move on darimu, dan separuh lagi tak ingin. Apa yang harus kuperbuat? Separuh hatiku seakan telah terkunci padamu. This likes nowhere to go! Kepalaku sakit dengan ribuan pikiran dan perasaan yang terus menyerangku, menghabisiku tanpa ampun. Ibuku benar, urusan hati memang akan selalu melelahkan seperti ini!

            Jikalau aku benar pergi pada tanggal tujuh hingga dua puluh November nanti, tak perlu kau khawatirkan aku. Meski aku jauh, meski aku berada ribuan kilometer darimu… Sesungguhnya hatiku selalu disini, hatiku tak pernah pergi. Tenanglah, Raditya-san…

Yk, 16 Okt 12

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s