Sabtu yang (Tidak) Kelabu

 

            Selamat pagi, Tuhan… Dan selamat pagi juga untukmu yang menyapaku dahulu dengan “morning dedek :)”-mu yang khas. Agaknya aku harus banyak berterimakasih pada Tuhan, karena Dia telah mengabulkan banyak rengekan yang kudaraskan Jumat malam. Rengekan manja bak seorang anak minta boneka, karena kau tak kunjung bicara…

            Malam itu, aku berdoa… Aku minta Dia menggerakkan hatimu untuk menyapaku di pagi hari esok. Aku juga berdoa, agar hari ini dua pasang roda sepeda biru meluncur dengan denting bel yang memecah keheningan pagi. Aku hanya terus berdoa, dan berdoa. Entah berapa puluh doaku yang berpilin di kaki-Nya malam itu.

            Paginya, Dia mengabulkan doaku! Agaknya Dia menggerakkan hatimu untuk mengirim sebaris pesan padaku. Meski pesan itu tak langsung kulihat saat kubuka mata, karena aku bangun lebih pagi darimu. Tuhan lagi – lagi mengabulkan doaku. Ajakanmu untuk meluncur bersama ini kusambut dengan dua kata tak berlebihan “Boleh, mas :)”

            Dan doaku kembali terkabul, tatkala aku melihatmu di tempat biasanya. Dengan headphone putih yang sudah kau turunkan dari telinga, dan sepeda biru yang telah beberapa hari ini kau pakai. Kita berangkat bersama. Seperti dulu, atau seperti beberapa waktu lalu. Selalu dengan senyum simpul malu – malu milikku, dan senyum lebar jahil di wajahmu. Tuhan memang sangat hebat!

            Dan akhirnya, kita menjalani hidup kita masing – masing. Aku mengikuti pelajaran seperti biasa, dan kau juga. Beda program, beda tingkat, beda kelas… Terlalu banyak perbedaan antara kau dan aku, dan aku juga tahu akan hal itu. Namun, entah kenapa akhir – akhir ini aku tak pernah peduli… Yang kupedulikan hanya menjaga hati ini. Tak kurang, tak lebih.

            “Mau pulang bareng?” sebuah tawaran yang membuatku berpikir dua kali. Aku masih ada beberapa kegiatan penting yang tak boleh kulewatkan, atau aku akan mendapat malu besar esok Senin. Jadi, kupikir, ada baiknya kau pergi lebih dulu. Tinggalkan saja aku dan semua urusanku disini…

            Namun aku salah! Manakala kegiatanku hampir paripurna, aku melihatmu berjalan dari sebuah sudut menuju depan salah satu kelas. Aku tahu kau memperhatikanku, meski sorot matamu tak mampu kulihat dengan jelas. Yang jelas terdengar cie cie kecil dari kawan – kawanku “cie yang diliatin mas itu…” Aku yakin wajahku memerah. Dan tiba – tiba ponselku bergetar, “Aku tunggu ya…” Dan satu lagi dari Ibuku yang memintaku cepat kembali, karena ada sedikit gangguan.

            Namun, kau menghilang. Kupikir kau pulang duluan, atau apa lah. Aku memutuskan untuk pulang sendiri tanpa memikirkanmu. Dan betapa terkejutnya aku melihatmu menatapku dari kejauhan di dekat sebuah bangunan kelas—mungkin. Aku mengirim pesan singkat padamu “Maaf mas aku duluan, ada urusan mendadak, udah di sms Ibu… Kamu boleh marah sama aku.” Dan kupikir dia akan benar – benar marah…

            Hampir tiga perempat jalanku ke rumah. Tiba – tiba aku merasakan kehadiran sesuatu ditengah desau angin yang membelai rambutku. Kau! Bagaimana mungkin? Kau menyusulku meski aku jelas – jelas meninggalkanmu? Kau mengejarku? Betapa anehnya hariku… Aku hanya tersenyum simpul malu – malu menanggapi celotehmu…

            “Besok Senin kamu pake batik mesti?”

            “Iya… Hehe. Kamu pake kebaya kan?”

            “Iya. Mbok kamu sekali – sekali kalo ada event gini jangan pake batik ah…”

            “Gamau ih. Ribet…”

            “Aaah… Sekaliii aja… Aku pengen liat kamu pake baju model begituuu…” Namun, jurusku agaknya tak mempan.

            “Enggak ah… Lain waktu aja yaa?” Dan pada akhirnya, aku mengeluarkan jurus terakhirku.

            “Yaudah. Aku marah nih besok Senin.” Dan kita berpisah di tempat biasa kau menungguku, dengan sejuta protes yang menggantung di bibirmu…

            Entah mengapa, Tuhan menganugerahkan kepadaku Sabtu yang tidak kelabu. Usai segala aktivitas yang menyitaku di sore hari, aku merayakan malamku dengan berjalan – jalan sebentar dengan bidadariku yang beberapa waktu ini pergi, dan kini berkesempatan pulang barang beberapa malam. Namun, ponselku terus bergetar akan kehadiran pesan – pesan singkatmu…

             Ga malmingan keluar?

  • Cuma mau pergi bentar ke rmh budhe, sm penjahit. Km?

             Oh. Sm siapa? Aku sebenerny pgn pergi, tp yg mau aku ajak prgi mlh pergi sh.

  • Sm bidadari gue. Oh, kmn sama sapa emg?

            Oh udah pulang? Sama someone ke taman lampion :p

  • Ya. Oh.

            Mau tau someone yg aku maksud sapa?

  • Sapa emg? S*sc*?

            Wuu sotoy deh :p

  • Ya sapa emg?

            Someone yg aku maksud, ya kamu nduk 😉

And I can’t hide my smile…

Today, you make my smile all day long…

Terimakasih Tuhan…

Dan terimakasih untukmu…

Selamat malam, Tuhan… Terimakasih atas segala rengekanku yang kau kabulkan…

Dan, oyasumi nasai Radit-san 🙂

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s