Filosofi Layangan

            Layang – layang atau yang kerap disapa layangan, ternyata tak jauh – jauh dari makna kehidupan kita yaitu cinta. Cinta (kali ini dalam konteks hubungan lelaki-perempuan) acap kali membingungkan. Dan entah dari mana, aku menemukan suatu persamaan yang kongruen antara cinta dan layangan…

            Sebelum memainkan layangan, kita harus memilih dulu, mana layangan yang kita suka dan mana yang pas untuk kita. Pun dalam cinta, kita harus memilih, mana orang yang kita suka dan mana orang yang cocok untuk kita. Setelah itu, layangan yang kita suka, dinego dulu, ditaksir harganya, dan akhirnya kita beli—sama dengan saat kita akan memilih pasangan.

            Saat akan menaikkan layangan, kita mungkin butuh bantuan orang lain untuk menaikkannya. Analogi yang sama dengan orang pacaran. Kita mungkin butuh bantuan sahabat ‘si dia’ agar kita tahu, apa yang dia suka dan tidak suka. Tentu dengan harapan agar kita dapat menaikkan ‘layangan’ itu tentunya…

            Saat layangan kita berhasil naik, kita harus menjaganya agar tetap mengudara. Caranya? Ya, seperti dalam cinta! Tarik ulur saja benangnya, agar layangan tak cepat turun! Dan ketika layangan kita mengangkasa di atas awan, kita akan merasa sangat bangga. Sama juga dengan orang pacaran… Ketika hubungan kita di atas awan alias lagi dekat – dekatnya, kita pasti juga dengan bangga memamerkannya kepada seisi dunia!

            Akan tetapi… Layangan juga mudah putus! Sama dengan orang pacaran, kurasa… Dan ketika ‘layangan’ kita ini putus, kita hanya dihadapkan akan dua pilihan. Diantara dua pilihan itu, kita harus memutuskannya secara cepat dan tepat! Mau mengejar layangan kita yang putus? Atau membeli lagi sebuah layangan yang baru?

            Kalau kita memutuskan untuk mengejar layangan putus kita… Resiko pertama kita adalah bahaya. Kita jadi tak melihat ke sekeliling, dan salah – salah kita bisa menabrak hal lain! Sama seperti dalam cinta, kita bisa menabrak harga diri kita sendiri! Dan konsekuensi kedua kita adalah, sudah capek – capek mengejar, ternyata layangan kita sudah robek dan sulit diperbaiki. Lalu, apa guna kita bersusah payah mengejarnya? Sementara, kalau kita tak mengejarnya, kita pasti marah – marah sendiri, apabila suatu ketika kita melihat layangan yang putus itu telah ditemukan orang lain dalam keadaan yang masih baik dan bisa diperbaiki!

            Kalau kita memilih membeli layangan yang baru… Persoalannya tak semudah itu! Move on alias berpindah itu tak mudah! Bagaimana kalau layangan yang putus itu sangat istimewa bagi kita? Mampukah kita mengikhlaskannya dan membeli layangan yang baru?

            Namun, ingat! Tak semua orang bermain layangan! Tanpa layangan kita tak akan mati kok! Mengingat analogi kita hari ini antara layangan dan cinta… Sudah sepatutnya kita tak terlalu menomorsatukan cinta. Seperti halnya kita tidak menomorsatukan layangan. Tersenyumlah menatap hari esok 🙂 Cinta atau pun layangan bukan satu – satunya pegangan hidup kita di dunia… Cinta atau pun layangan bukan hal nomor satu di dunia…

PS:

Ingat! CINTA yang dimaksud kali ini adalah cinta antara lelaki-perempuan, bukan cinta kepada Tuhan, kepada orang tua, dll!

Alangkah damainya hidup, alangkah tenteramnya hidup, dan tak akan ada lagi kata GALAU di kamus remaja apabila kita bisa meresapinya… Semoga.

Iklan

2 thoughts on “Filosofi Layangan

  1. betul ya, belum lagi kalau banyak pohon atau kabel listrik, bisa tersangkut. bahkan kalau ada angin kencang, layang2 bukan membumbung tinggi, tapi malah berputar2..
    hmmm cinta memang bikin gila 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s